Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERAYAAN Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang bertepatan dengan waktu libur sekolah yang cukup panjang banyak dihabiskan dengan berlibur bersama keluarga. Biasanya, setelah liburan usai, beberapa orang dewasa dan anak kerap mengalami post holiday blues.
Apa sih post holiday blues? Kondisi tersebut diakibatkan adanya transisi mendadak dari waktu libur ke kesibukan sehari-hari di sekolah dan bekerja. Hal ini dapat menimbulkan efek kekecewaan dan rasa sedih pascaliburan pada anak-anak, remaja dan dewasa.
Psikolog anak di Children’s Hospital of Orange County (CHOC), Kristen Yule, menjelaskan, perasaan sedih pascaliburan biasanya tidak bertahan lama dan kebanyakan orang kembali ke keadaan normal setelah beberapa waktu.
Anak-anak dan remaja, dibandingkan dengan orang dewasa, lebih cenderung mengekspresikan perasaan dan emosi mereka melalui perilaku seperti lebih mudah tersinggung, menghabiskan lebih banyak waktu sendiri dan tidak ingin pergi ke sekolah.
Penolakan sekolah, khususnya, cukup umum terjadi setelah liburan dan bisa menjadi tanda kesedihan pascaliburan. Bagi sebagian anak dan remaja, sekolah merupakan tempat yang menimbulkan stres dan kecemasan karena kekhawatiran terhadap prestasi akademik, kemampuan menjalin dan mempertahankan teman, dan/atau ekstrakurikuler.
Baca juga: Pantai Jadi Favorit Pengunjung saat Liburan di Ancol
Lalu bagaimana cara orangtua membantu anak mengatasi kesedihan pascaliburan? Berikut sejumlah saran dari Dr Yule seperti dikutip dari situs resmi Children’s Hospital of Orange County (CHOC);
1. Bicara tentang kembali ke sekolah
Banyak anak-anak dan remaja mengalami stres, khawatir dan cemas terkait sekolah. Tak sedikit anak-anak yang tidak mau mengatakan apa yang membuatnya khawatir atau takut.
Oleh karena itu, cara terbaik untuk mengetahui yang mengganggu pikiran anak-anak dengan menanyakannya secara langsung. Misalnya, Anda bisa berkata, “Ibu lihat kamu terlihat kesal atau marah saat ibu bicara tentang sekolah. Apa kamu khawatir kembali ke sekolah?”
Anda juga dapat mengatakan, “Ibu penasaran apa kamu punya kekhawatiran kembali ke sekolah? Ibu ingat dulu saat seusia kamu, ibu juga tidak ingin kembali ke sekolah. Kadang-kadang ibu bertanya ke orangtua atau memberi tahu mereka bagaimana perasaan ibu dan ternyata itu bisa membantu. Kamu juga begitu, di sini ada ibu yang selalu mendengarkan dan mendukung kamu dengan cara apa pun yang ibu bisa.”
Salah satu cara terbaik bagi orangtua untuk memberikan dukungan dengan menormalkan perasaan khawatir dan gugupnya. Mengakui dan meyakinkan anak Anda bahwa perasaan mereka hal yang sangat penting.
Hal ini memberi kenyamanan, dukungan dan harapan akan kemampuan mereka mengatasi perasaan mereka saat ini dan berhasil kembali ke sekolah.
Untuk anak-anak yang masih duduk di bangku prasekolah, akan sangat membantu jika Anda menulis cerita bersama anak tentang kembali ke sekolah.
Sementara itu, untuk anak-anak SD, SMP dan SMA, akan sangat membantu jika mengatur terkait pertemanan dengan seseorang yang dipercaya oleh anak Anda (seperti teman dekat, saudara kandung, atau teman yang lebih tua) dan mintalah anak Anda masuk sekolah bersama orang tersebut.
2. Jadwalkan rutinitas bersama
Berkolaborasi dengan anak untuk membuat jadwal visual rutinitas pagi dan sepulang sekolah dapat menjadi cara memulai percakapan tentang kembali ke sekolah. Berikan anak kendali dengan mengidentifikasi bagian mana dari rutinitas mereka yang dapat dilakukan secara mandiri dan membutuhkan dukungan orangtua.
Penting juga untuk menjadwalkan waktu bersenang-senang dan melakukan aktivitas sosial selama rutinitas sepulang sekolah dan di akhir pekan. Ini memberi mereka sesuatu yang menyenangkan untuk dinanti-nantikan setelah sekolah.
3. Prioritaskan Kesehatan Fisik
Ada hubungan yang kuat antara pikiran dan tubuh kita. Otak bergantung pada tubuh untuk berfungsi dengan baik, dan sebaliknya. Dengan menjaga kesehatan fisik, kita juga menjaga kesehatan mental.
Cara untuk memprioritaskan kesehatan fisik anak Anda antara lain dengan memastikan mereka mendapatkan tidur cukup dan berkualitas, rutin berolahraga, dan mengonsumsi makanan kaya nutrisi.
Akan sangat membantu jika mengatur waktu tidur dan waktu bangun anak selama liburan pada waktu yang hampir sama dengan saat mereka pergi ke sekolah. Hal ini dapat membantu tubuh mereka tetap selaras dengan rutinitas sekolah dan dapat membantu mengurangi rasa lelah di pagi hari serta kesulitan bangun dari tempat tidur ketika kembali ke sekolah.
4. Waktu bersama keluarga
Membangun waktu keluarga yang berkualitas dan menyenangkan setiap akhir pekan dapat membangun hubungan yang lebih kuat dan menciptakan kenangan akan momen spesial bersama keluarga. Beberapa idenya antara lain bermain permainan papan, jalan-jalan, mengerjakan teka-teki bersama, menyelesaikan aktivitas seni dan kerajinan, dan masih banyak lagi. Tanyakan kepada anak Anda apa yang mungkin ingin mereka lakukan.
Memberikan waktu bersama keluarga yang teratur kepada anak-anak dan remaja bisa menjadi tradisi kecil usai berlibur. Ketika menghabiskan waktu bersama keluarga, sebaiknya Anda menyingkirkan sementara perangkat elektronik pribadi Anda dan anak-anak.(M-4)
Mendikdasmen menegaskan komitmennya dalam menjaga pelaksanaan TKA agar tetap kredibel, transparan, dan berintegritas di seluruh wilayah Indonesia.
Kemendikdasmen luncurkan PJJ jenjang menengah untuk tekan angka ATS usia 16-18 tahun. Simak kesiapan sekolah induk di Malaysia, Ternate, dan Padalarang.
Pendekatan STEM tidak hanya berfokus pada teknologi sebagai alat, juga sebagai sarana untuk membentuk pola pikir kritis dan inovatif dalam memecahkan tantangan dunia nyata.
Karya bertajuk “Penulisan Kaligrafi Mandarin pada Media Payung Terbanyak” tersebut sekaligus mengantarkan sekolah tiga bahasa itu mencatatkan rekor MURI.
APCA Indonesia meluluskan siswa Culinary dan Pastry Arts melalui pendidikan intensif 9 bulan. Fokus pada kesiapan kerja dan standar global industri F&B.
Siswa di daerah itu terpaksa berangkat dan pulang sekolah dengan melintasi pipa air karena jembatan yang biasa mereka lalui ambruk dan tak kunjung dibangun kembali.
Psikolog Virginia Hanny membagikan kiat menghadapi post holiday blues agar tetap produktif setelah libur panjang. Simak tips untuk individu dan perusahaan.
Psikolog Michelle Brigitta membagikan tips mengatasi post holiday blues pada anak, mulai dari validasi emosi hingga mengatur ulang rutinitas harian.
Guru Besar Psikologi UI Prof. Rose Mini membagikan tips jitu mengatasi post holiday blues agar kembali produktif bekerja dengan cara berpikir positif.
Post holiday blues biasanya ditandai dengan perasaan cemas sementara, sedih, rendahnya motivasi, hingga hilangnya semangat saat harus beralih dari suasana liburan ke rutinitas harian.
Fenomena post holiday blues atau penurunan suasana hati merupakan hal yang wajar.
Post holiday blues merupakan kondisi emosional sementara yang muncul tepat setelah periode libur atau perayaan berakhir.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved