PJJ Jenjang Menengah Jadi Solusi Tekan Angka Anak Tidak Sekolah

Despian Nurhidayat
27/4/2026 08:38
PJJ Jenjang Menengah Jadi Solusi Tekan Angka Anak Tidak Sekolah
Mendikdasmen Abdul Mu'ti meresmikan program PJJ untuk sekolah menengah.(Kemendikdasmen)

Peluncuran Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) jenjang pendidikan menengah membawa harapan baru dalam upaya menekan angka anak tidak sekolah (ATS) di berbagai wilayah, termasuk bagi anak-anak Indonesia di luar negeri. Program strategis ini dirancang untuk memberikan akses pendidikan yang inklusif, adil, dan bermutu bagi mereka yang terkendala faktor geografis maupun ekonomi.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa tantangan utama saat ini adalah mengintegrasikan PJJ dengan konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Menurutnya, PJJ tidak hanya sekadar transformasi pengetahuan, tetapi harus melibatkan proses mental dan kognitif yang utuh.

“Sekolah induk dan sekolah mitra terpilih memiliki peran penting bukan hanya sekadar menekan angka ATS, melainkan juga bagaimana membentuk karakter mereka dan mengembangkan kompetensi yang kuat,” ujar Abdul Mu’ti pada momen peluncuran program tersebut, Senin (27/4).

Solusi bagi Anak Pekerja Migran di Malaysia

Implementasi PJJ terbukti menjadi oase bagi anak-anak Indonesia di wilayah Sabah, Malaysia. Kepala Tata Usaha Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Sukma Sabdani, mengungkapkan bahwa dari sekitar 1.700 lulusan SMP setiap tahunnya, PJJ mampu menampung lebih dari separuh murid yang sebelumnya tidak terakomodasi di jalur reguler.

“PJJ menjadi solusi efektif bagi mereka yang tinggal di wilayah terpencil, termasuk anak-anak Indonesia di kawasan perkebunan dengan jarak hingga ratusan kilometer dari pusat kota. Program ini memungkinkan murid tetap belajar sambil membantu orang tua bekerja,” jelas Sukma.

Kesiapan Sekolah Induk di Daerah

Di dalam negeri, sejumlah sekolah telah menyatakan kesiapannya sebagai sekolah induk. Di Maluku Utara, SMAN 1 Ternate akan berkolaborasi dengan tiga sekolah mitra, yakni SMAN 1 Halmahera Utara, SMAN 1 Pulau Morotai, dan SMAN 2 Halmahera Timur.

“Melalui kolaborasi yang kuat dan dukungan pemerintah daerah, kami optimis dapat memberikan layanan pendidikan maksimal guna menekan ATS di Maluku Utara,” tutur Kepala SMAN 1 Ternate, Sabaria Umahuk.

Sementara itu, di Jawa Barat, SMAN 2 Padalarang memanfaatkan pengalaman mengelola SMA Terbuka sebagai modal utama pelaksanaan PJJ. Kepala SMAN 2 Padalarang, Kicky Eceu Wardani, menyebutkan koordinasi dengan dinas pendidikan terus diperkuat untuk menjangkau anak-anak yang sempat putus sekolah agar kembali ke bangku pendidikan.

Informasi Penting PJJ Menengah:
  • Target Sasaran: Anak Tidak Sekolah (ATS) usia 16-18 tahun.
  • Jalur Pendidikan: Formal (setara SMA reguler).
  • Platform Digital: Menggunakan super aplikasi Rumah Pendidikan.

Digitalisasi Lewat Aplikasi Rumah Pendidikan

Untuk mendukung kelancaran proses belajar mengajar, Kemendikdasmen memfasilitasi PJJ melalui super aplikasi Rumah Pendidikan. Platform ini memungkinkan guru dan murid mengakses materi secara fleksibel kapan pun dan di mana pun.

Guru pengampu dan tutor dapat mengunggah materi secara aktif, sementara murid memiliki keleluasaan untuk mengunduh dan memperdalam materi secara mandiri. Langkah ini diharapkan dapat mewujudkan pemerataan kualitas pendidikan di seluruh pelosok negeri hingga ke mancanegara. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya