Mengukur Pendidikan, Menjaga Ruhnya

Muhammad Fauzinuddin Faiz Dosen UIN KHAS Jember dan Wakil Sekretaris LPTNU PWNU Jatim
20/4/2026 14:08
Mengukur Pendidikan, Menjaga Ruhnya
(Dokpri)

ANGGARAN pendidikan sering dibicarakan sebagai angka. Ia disusun rapi, diperdebatkan di ruang-ruang resmi, lalu diterjemahkan menjadi program. Namun di balik angka itu, selalu ada pertanyaan lebih mendasar: ke mana pendidikan diarahkan, manusia seperti apa yang hendak dibentuk, dan sejauh mana negara hadir mengoreksi ketimpangan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ketika Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti memaparkan alokasi pendidikan 2026, yang layak dicermati bukan hanya besarnya komitmen, tetapi juga arah pemaknaannya.

Perluasan Program Indonesia Pintar (PIP) hingga jenjang TK, afirmasi ADEM, penguatan pendidikan jarak jauh, serta perhatian pada kesejahteraan guru menunjukkan keseriusan menjangkau kelompok yang selama ini berada di pinggir. Ini langkah penting sekaligus membuka pertanyaan baru bagaimana kebijakan itu benar-benar bekerja di tingkat pengalaman belajar. Di titik inilah refleksi perlu ditempatkan, bukan untuk menolak arah kebijakan, melainkan memperkaya cara kita memahaminya.

Akses Meluas, Pengalaman Belajar Perlu Dijaga

Perluasan PIP hingga jenjang TK menandai pergeseran cara pandang terhadap pendidikan usia dini. Ia tidak lagi diposisikan sebagai pelengkap, melainkan fondasi. Intervensi pada fase ini memiliki implikasi jangka panjang, terutama dalam membentuk kesiapan belajar dan struktur kognitif anak.

Kendati begitu, pengalaman belajar anak tetap ditentukan oleh apa yang terjadi di ruang kelas. Ia bergantung cara guru memahami murid, pada ritme interaksi yang dibangun, dan pada lingkungan yang membentuk kebiasaan belajar. Variasi antarlembaga masih cukup lebar sehingga pengalaman pendidikan yang diterima anak tidak selalu sebanding meskipun sama aksesnya.

Dalam pengalaman pendidikan Islam, persoalan ini sejak awal dibaca dalam kerangka lebih utuh. Tradisi attarbiyyah wa ta'lim yang saya kenal sejak nyantri di Madrasah al-Mu'allimin al-Islamiyyah menempatkan pendidikan sebagai proses pembentukan kepribadian, bukan sekadar penguasaan materi. Relasi antara guru dan murid, disiplin keseharian, serta suasana kolektif menjadi bagian dari proses.

Ungkapan yang hidup dalam tradisi tersebut memperlihatkan hirarki yang menarik: al-thariqah ahammu min al-maddah, wal-mudarris ahammu min al-thariqah, wa ruhul mudarris ahammu min al-mudarris nafsihi. Metode lebih penting dari materi, karena ia menentukan bagaimana pengetahuan disampaikan. 

Guru lebih penting dari metode, karena ia yang menghidupkan metode itu. Namun akhirnya, ruh seorang guru menjadi penentu, karena di situlah nilai, integritas, dan orientasi pendidikan menemukan bentuknya. Di titik ini, perbedaan kualitas pendidikan sering kali tidak lahir dari kurikulum berbeda, melainkan dari kedalaman manusia yang menghidupkannya.

Guru: Antara Dukungan dan Penguatan Peran

Kebijakan peningkatan insentif bagi guru non-ASN menunjukkan perhatian tidak kecil terhadap kesejahteraan tenaga pendidik, terutama bagi mereka yang selama ini berada dalam posisi rentan. Perbaikan ini penting sebagai fondasi keadilan dalam sistem pendidikan.

Namun persoalan guru tidak berhenti pada kesejahteraan. Ada dimensi profesional yang menentukan arah pendidikan, yaitu bagaimana guru memaknai peran di ruang kelas. Dalam banyak situasi, tekanan administratif justru menyita energi yang seharusnya digunakan untuk mengembangkan pendekatan belajar lebih reflektif.

Dalam khazanah pendidikan Islam, guru dipahami sebagai figur yang membentuk cara berpikir sekaligus sikap hidup. Ia tidak hanya mentransmisikan pengetahuan, tetapi juga membimbing orientasi moral. Peran ini menuntut kedalaman yang tidak bisa dipenuhi hanya dengan kebijakan insentif.

Oleh karena itu, dukungan terhadap guru menemukan dampak lebih luas jika disertai upaya membangun ruang belajar bagi guru. Ruang untuk berdiskusi, mendalami materi, dan menguji pendekatan mengajar menjadi sama pentingnya dengan dukungan finansial. Di sinilah kebijakan dapat bergerak dari sekadar distribusi menuju pembentukan kultur profesional. 

Pendidikan Jarak Jauh dan Tantangan Makna Kehadiran

Pengembangan pendidikan jarak jauh menunjukkan optimisme terhadap teknologi sebagai jembatan akses. Dalam konteks geografis Indonesia, langkah ini memiliki relevansi kuat. 

Namun ada hal yang perlu dijaga agar tidak luput. Akses terhadap platform tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas pembelajaran. Kesenjangan infrastruktur, literasi digital, dan dukungan lingkungan belajar menjadi variabel yang tidak merata.

Dalam tradisi pendidikan yang menekankan relasi, proses belajar tidak hanya berlangsung pada tingkat kognitif. Ada dimensi kebersamaan dan keteladanan yang membentuk karakter secara perlahan. Teknologi dapat membantu memperluas jangkauan, tetapi tidak sepenuhnya menggantikan kedalaman interaksi tersebut. Karena itu, pendidikan jarak jauh lebih kokoh jika diposisikan sebagai pelengkap yang memperluas akses, sambil tetap menjaga esensi kehadiran dalam proses belajar.

Menjaga Arah di Tengah Perluasan

Kebijakan anggaran pendidikan 2026 menunjukkan arah yang patut diperhatikan. Ada upaya menjangkau lebih luas sekaligus merespons keragaman kebutuhan. Ini mencerminkan perubahan negara memandang pendidikan.

Namun arah kebijakan selalu membutuhkan penjagaan. Tanpa itu, perluasan dapat berjalan tanpa kedalaman, dan capaian mudah diukur tanpa benar-benar dipahami. Pendidikan berisiko dipersempit menjadi urusan angka, sementara proses yang lebih halus justru terabaikan.

Dalam kerangka yang lebih luas, pendidikan adalah ikhtiar membentuk manusia. Ia tidak hanya berurusan dengan sistem, tetapi dengan nilai, orientasi, dan cara pandang terhadap masa depan. 

Di situlah kebijakan memperoleh makna, bukan hanya sebagai program tetapi bagian dari proses panjang membangun peradaban. Jika pendidikan hanya diukur dari seberapa banyak yang dijangkau tanpa sungguh-sungguh memastikan apa yang tumbuh di dalamnya, maka yang kita bangun bukan masa depan, melainkan sekadar perpanjangan dari kekosongan yang sama.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya