Pesan Keberagamaan Lewat 3.024 Payung Kaligrafi yang Ciptakan Rekor MURI

Lilik Darmawan
25/4/2026 16:31
Pesan Keberagamaan Lewat 3.024 Payung Kaligrafi yang Ciptakan Rekor MURI
Ilustrasi(MI/LILIK DARMAWAN)

PERAYAAN dua dekade Sekolah 3 Bahasa Putera Harapan Puhua School Purwokerto di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah ditandai dengan sebuah karya monumental yang sarat pesan kebhinekaan. 

Sebanyak 3.024 payung berkaligrafi Mandarin menghiasi dinding aula sekolah, menjadi instalasi seni-edukatif yang mencuri perhatian pada Sabtu (25/4).  Karya bertajuk “Penulisan Kaligrafi Mandarin pada Media Payung Terbanyak” tersebut sekaligus mengantarkan sekolah tiga bahasa itu mencatatkan rekor di Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) dalam kategori “Payung Shufa Terbanyak”.

Instalasi kolosal ini bukan sekadar dekorasi visual. Ribuan payung kertas berdiameter 20 sentimeter disusun menjadi kolase besar membentuk peta Indonesia. Bermacam kaligrafi bertema inklusivitas, seperti “You Jiao Wulei” (Pendidikan Tanpa Perbedaan), “20 Tahun Puhua”, hingga “I Love Indonesia”. Setiap goresan tinta menjadi simbol kuat tentang pentingnya keberagaman dalam dunia pendidikan.

Perwakilan MURI Ari Andriani mengatakan karya tersebut memenuhi seluruh unsur pencatatan rekor, mulai dari aspek keunikan, skala, hingga nilai edukatif yang diusung. “Ini bukan hanya superlatif dari sisi jumlah, tetapi juga unik karena merupakan karya nyata pendidikan multikultural yang melibatkan partisipasi kolektif,” ujarnya.

Direktur sekolah, Chen Tao, menegaskan bahwa capaian ini bukan sekadar prestise. Menurutnya, instalasi tersebut merupakan deklarasi nilai yang dipegang teguh oleh institusi pendidikan tersebut. “Rekor ini adalah komitmen Puhua yang konsisten menjaga kebhinekaan.  Keberagaman adalah kekuatan untuk memajukan pendidikan Indonesia. Tidak ada anak yang boleh tertinggal hanya karena perbedaan identitas,” katanya.

Ia menambahkan, pendekatan tiga bahasa yakni Bahasa Indonesia, bahasa daerah, serta bahasa asing seperti Mandarin dan Inggris menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang berakar kuat pada budaya nasional sekaligus siap bersaing di tingkat global.

Menurutnya, proses pembuatan instalasi ini memakan waktu sekitar delapan bulan. Dimulai sejak Agustus 2025, seluruh elemen sekolah terlibat dalam setiap tahapan, mulai dari perencanaan konsep, penulisan kaligrafi oleh guru native, hingga pemasangan instalasi secara gotong royong pada April 2026.

Keterlibatan siswa, guru, orang tua, alumni, hingga manajemen sekolah menjadikan karya ini sebagai representasi kolaborasi komunitas pendidikan yang utuh. Instalasi tersebut disebut sebagai cerminan “mini Indonesia” dalam satu ruang.

Pemilihan payung sebagai medium pun mengandung filosofi mendalam. Payung dimaknai sebagai simbol naungan dan perlindungan, sebuah representasi bahwa sekolah harus menjadi ruang aman bagi setiap anak untuk belajar dan berkembang tanpa diskriminasi.

Peresmian instalasi turut dihadiri sejumlah tokoh penting, termasuk Ye Su selaku Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok, serta perwakilan pemerintah dan jaringan sekolah tiga bahasa dari berbagai daerah di Indonesia.

Rangkaian peringatan 20 tahun Puhua School juga diisi dengan berbagai kegiatan, seperti seminar nasional, hearing pendidikan, hingga peluncuran pusat ujian Bahasa Mandarin berbasis komputer. Para tamu undangan turut diajak menyaksikan beragam inovasi karya siswa, mulai dari alat pendeteksi kematangan alpukat hingga becak hybrid berbasis kecerdasan buatan.

Selain itu, tokoh pendidikan Yudil Chatim menilai konsep pendidikan tiga bahasa yang diterapkan Puhua memiliki potensi strategis dalam memperkuat diplomasi budaya Indonesia di tingkat global. “Saya melihat langsung bagaimana sistem ini bisa menjadi kekuatan global, bukan hanya lokal,” ujarnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya