Seberapa Dini Anak Boleh Berdandan?

Bintang Krisanti
16/9/2019 17:20
Seberapa Dini Anak Boleh Berdandan?
Perri Leroys, beaauty vlogger cilik.(Youtube The Leroys.)

PERRI Leroys dan Prettynice101 adalah dua dari beberapa vlogger kecantikan cilik dunia. Di tanah air, gadis cilik yang punya jejak sama salah satunya adalah Rahmawati yang terkenal dengan penggunaan balon berisi air untuk aplikator alas bedak. Sementara Unicorn Syahwa dan Alyatusholiha Harmono adalah vlogger yang kadang juga membuat video tata rias.

Keberadaan para vlogger kecantikan cilik itu menunjukkan kian maraknya perilaku bermake-up oleh anak. Perilaku itu bergeser dari yang pada era-era sebelumnya hanya merupakan satu bentuk permainan atau keisengan anak. Meski beberapa anak, contohnya Syahwa, menggunakan riasan yang aman untuk anak, yakni misalnya madu untuk pelembab bibir dan bedak bayi untuk wajah, tidak demikian dengan vlogger luar negeri.

Sebagai orang tua, kita pun menghadapi tantangan baru. Seberapa dinikah sebetulnya anak boleh berdandan?   

Dilansir CNA, dr. Lynn Chiam yang merupakan dokter kulit di Klinik Novena, Singapura, mengungkapkan jika usia 16 tahun merupakan usia yang relatif aman untuk mengenakan riasan. Sebab itu orang tua sebaiknya menghindari penggunaan riasan pada anak di bawah usia tersebut.

Chiam menjelaskan jika kulit anak lebih sensitif karena fungsi penghalangnya belum terbentuk dengan sempurna sebagaimana di usia dewasa. Akibatnya, jika kulit anak kerap terpapar bahan-bahan kimia maka akan lebih mudah mengalami masalah, seperti kulit menjadi kering hingga iritasi.

Meski jenis make-up yang digunakan dikatakan aman untuk anak, dr.Chiam mengingatkan untuk tetap membersihkan secara sempurna. Selain itu, akan lebih baik jika penggunaan make-up tidak sering atau bahkan menjadi rutinitas.

Jika anak memang memiliki kegiatan yang diharuskan menggunakan make-up, misalnya latihan atau pentas tari, ia menyarankan untuk menggunakan make-up jenis cair (liquid) karena dinilai cenderung lebih ringan untuk kulit.

Dr. Chiam mengingatkan pula jika orang tua harus berani untuk bersikap lebih tegas pada penggunaan cat rambut maupun pewarna kuku. Ia menilai bahan-bahan kimia di kedua jenis produk itu relatif terlalu keras untuk kulit anak. Terlebih jika proses pewarnaan rambut mencakup proses penghilangan warna rambut asli (bleaching).

Proses itu benar-benar harus dihindari. Sementara itu jika terpaksa, maka penggunaan cat kuku tidak boleh dalam jangka waktu lama. Apalagi mengingat kebiasaan anak kecil yang kerap menggigit kuku. (Ant/M-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Bintang Krisanti
Berita Lainnya