Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TIGA bulan setelah diluncurkan, satelit FireSat Protoflight milik perusahaan Muon Space akhirnya mengirimkan citra pertamanya dari orbit rendah Bumi. Satelit ini menjadi bagian pertama dari rencana konstelasi lebih dari 50 satelit yang bertujuan memantau dan mendeteksi kebakaran hutan secara global.
Dalam misi awalnya, FireSat menggunakan instrumen multi-band inframerah (IR) untuk memindai lanskap dan mengidentifikasi tanda-tanda panas spesifik yang berpotensi menunjukkan titik api. Citra perdana tersebut memperlihatkan kemampuan satelit dalam menangkap jejak panas, baik di kawasan pedesaan maupun perkotaan.
“Citra ‘first light’ ini membuktikan sensor inframerah kami berfungsi sebagaimana mestinya dan menghasilkan data berkualitas tinggi,” kata Dan McCleese, Chief Scientist Muon Space, dalam pernyataan resminya.
“Pencitraan inframerah dengan kualitas seperti ini adalah salah satu bidang paling menantang dalam penginderaan jauh, dan kami bangga menjadi salah satu dari sedikit pemain komersial yang berhasil mengembangkannya di orbit.”
Dari ketinggiannya, FireSat mampu mendeteksi titik panas kecil dengan luas sekitar 5 meter, dengan lebar cakupan pemindaian mencapai 1.500 km. Satelit ini memindai dalam enam spektrum sekaligus untuk mengurangi kemungkinan kesalahan deteksi serta mengenali kebakaran bersuhu rendah.
Dalam uji pertamanya, FireSat juga menangkap jejak aktivitas panas di kawasan terpencil seperti Gunung Kalauea di Hawaii dan kompleks ladang minyak Sarir di Libya, termasuk jejak semburan gas (gas flares).
Diluncurkan pada 14 Maret 2025 dari Vandenberg Space Force Base melalui misi Transporter 13 milik SpaceX, satelit ini merupakan hasil kolaborasi antara Muon Space dan organisasi nirlaba Earth Fire Alliance. Tujuannya adalah untuk menyediakan data yang lebih akurat dan mendalam bagi pembuat kebijakan, petugas pemadam kebakaran, dan masyarakat terdampak kebakaran hutan.
CEO Muon Space, Jonny Dyer, menyebut keberhasilan ini sebagai lompatan besar dalam waktu singkat. “Saya sangat antusias dengan kecepatan transisi dari formulasi misi FireSat ke demonstrasi orbit, serta kualitas data yang kami hasilkan saat ini,” katanya.
Menurut rencana, tiga satelit FireSat tambahan akan diluncurkan pada tahun 2026, dengan seluruh konstelasi diproyeksikan beroperasi penuh pada tahun 2030. Jika berhasil, sistem ini akan mampu memindai seluruh permukaan Bumi setiap 20 menit, dengan area rawan kebakaran dipantau lebih sering.
Langkah ini dinilai dapat mengisi kesenjangan dalam sistem deteksi kebakaran berbasis satelit yang saat ini masih terbatas, serta mempercepat respons dalam upaya penyelamatan dan mitigasi bencana kebakaran hutan di seluruh dunia. (space/Z-2)
Musim kemarau 2026 diprediksi berlangsung lebih panjang dari biasanya, membentang dari April hingga Oktober.
Kebakaran hutan di Jepang, tepatnya di Otsuchi, Prefektur Iwate, menghanguskan 1.373 hektare lahan. 3.000 warga dievakuasi dan personel militer dikerahkan.
Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) mendorong penguatan langkah antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul adanya potensi fenomena El Nino pada pertengahan tahun 2026.
BMKG mengintensifkan operasi modifikasi cuaca (OMC) di Riau untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebelum puncak musim kemarau tiba.
Fenomena El Nino membuat musim kemarau 2026 datang lebih awal, lebih panjang, dan lebih kering.
Sinergi antara dunia usaha dan perguruan tinggi dinilai kian penting dalam menjawab tantangan pengelolaan hutan berkelanjutan di Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved