Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), merespons pernyataan Rais Aam PBNU yang menyebutnya tak lagi menjabat. Gus Yahya menegaskan bahwa posisinya sebagai mandataris Muktamar hanya bisa dicabut atau diubah melalui forum Muktamar.
Gus Yahya mengaku bersedia untuk diperiksa terkait tuduhan yang diarahkan kepadanya. Namun, ia menyayangkan sejauh ini ia dituduh tanpa diberi kesempatan klarifikasi. Diketahui, hasil keputusan rapat Rais Aam PBNU menyebut Gus Yahya terlibat jaringan Zionis dan soal tata kelolah keuangan PBNU yang mengindikasikan pelanggaran.
"Soal apakah benar saya pribadi bersalah atau tidak, silakan diperiksa. Saya terbuka untuk diperiksa. Tapi tidak mungkin saya menerima hanya dituduh saja tanpa diberi kesempatan untuk membuat klasifikasi," kata Gus Yahya di Jakarta, Rabu (3/12).
Gus Yahya tidak menampik adanya supremasi Syuriah dalam kebijakan organisasi. Namun, ia menegaskan hal itu tidak menyentuh urusan pemberhentian ketua umum.
"Orang membuat argumen tentang supremasi Syuriah memang betul. Dalam kebijakan, Syuriah memang memegang tentang kebijakan-kebijakan organisasi. Yang itu berarti menyangkut agenda-agenda organisasi. Tapi jelas tidak menyangkut pemberhentian mandataris Muktamar," jelasnya.
Gus Yahya menekankan bahwa mandataris Muktamar dipilih oleh Muktamirin (peserta Muktamar) dan hanya bisa diberhentikan oleh Muktamar itu sendiri.
"Mari kita selenggarakan Muktamar. Dan Muktamar itu memang hanya bisa terselenggara apabila dipimpin bersama-sama oleh Syuriah dan Ketua Umum," tambahnya.
Menurutnya, isu jabatan pribadi bukanlah hal terpenting. "Buat saya pribadi, soal jabatan ini bukan sesuatu yang terpenting. Tetapi yang paling penting adalah mengenai tatanan organisasi," katanya.
Gus Yahya juga menolak pandangan yang menyebut ada satu unit atau pejabat dalam organisasi yang memiliki kewenangan tak terbatas. Ia menekankan bahwa PBNU harus berpegang pada konstitusi organisasi.
"Supremasi Syuriah memang, tapi setiap unit organisasi dan setiap pejabat dalam organisasi itu tugas dan wewenangnya diatur oleh konstitusi organisasi," kata Gus Yahya.
"Tidak mungkin kemudian bahwa ada satu unit atau pejabat organisasi yang punya wewenang tidak terbatas, itu tidak mungkin. Tidak ada organisasi semacam itu, kecuali kekaisaran, kerajaan, atau katakanlah sistem-sistem otoriter," tegasnya.
Lebih lanjut, Gus Yahya mengaku akan menjaga tatanan organisasi dengan cara menjalin dialog. Namun, ia mengaku akan menempuh jalur hukum ketika dialog menemui kebuntuan.
"Apabila jalan dialog, jalan musyawarah dengan akal sehat, dengan maksud baik, dengan hati yang tulus ini ditolak sama sekali, ya kami siap untuk menempuh jalur hukum demi menjaga keutuhan dari tatanan organisasi," pungkasnya. (H-3)
Seluruh keputusan dalam muktamar harus berorientasi pada kepentingan masyarakat luas, bukan kelompok tertentu.
Saifullah Yusuf menyatakan aspirasi Ketua PWNU se-Indonesia terkait waktu pelaksanaan muktamar selaras dengan keputusan internal organisasi.
DESAKAN agar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) segera menggelar muktamar NU terus menguat. Kali ini, Forum Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) se-Indonesia mendesak muktamar
PBNU usulkan pendekatan proporsional terkait wacana pelarangan vape. Fokus pada edukasi dan pengawasan distribusi untuk cegah penyalahgunaan narkotika.
Gus Fahrur memberikan dukungan penuh terhadap segala upaya pemberantasan narkoba.
KETUA Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf melakukan pertemuan dengan Kuasa Usaha ad Interim Kedutaan Besar Amerika Serikat.
Menurutnya ini bukan sekadar teladan yang tidak hanya berlaku bagi kalangan anak muda NU sebagai generasi penerus.
Arah pemilihan Rais Aam melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) saat ini sangat dipengaruhi oleh konfigurasi kepentingan para aktor utama di posisi Ketua Umum.
Gus Lilur merasa prihatin jika tradisi besar seperti pesantren dan bahtsul masail terpinggirkan oleh kepentingan elektoral.
Oleh karena itu, penguatan relasi NU dan NKRI membutuhkan agenda strategis yang melampaui retorika. Digitalisasi dakwah moderat ialah kebutuhan mutlak
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved