Kerja Bersama

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
16/8/2017 05:31
Kerja Bersama
(ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)

ITULAH tema besar yang diusung untuk peringatan HUT ke-72 kemerdekaan Republik Indonesia. Kita ingin mengajak semua komponen bangsa untuk sama-sama membangun negeri ini. Hanya dengan kebersamaan dan kekompakan kita akan mampu menghadapi semua tantangan. Bukan perkara mudah melakukan kolaborasi di Indonesia. Kita cenderung untuk menempatkan semua hal sebagai kompetisi. Akhirnya kita selalu menempatkan semua masalah antara menang dan kalah.

Sulit sekali menciptakan kemenangan bersama. Padahal banyak sekali yang bisa dikolaborasikan. Ketika kita melakukan kolaborasi justru hasilnya bisa lebih optimal dan manfaatnya dirasakan banyak orang. Sekarang zamannya sistem supply chain. Industri tidak lagi dilakukan sendiri-sendiri. Industri penunjang hadir untuk memasok kebutuhan industri utama.

Sistem produksi just in time memberikan efisiensi luar biasa karena semua bergerak pada irama yang sama sampai produk bisa dipergunakan konsumen. Pada kita sering kali yang muncul sikap ingin menang sendiri. Salah satu contoh di industri karet. Petani karet selalu berupaya untuk mendapatkan hasil yang lebih berat agar pendapatannya lebih besar.

Namun, caranya bukan dengan meningkatkan produktivitas, melainkan memasukkan segala macam ranting, akar, dan batang ke karet produksi mereka. Hasilnya, bukan pendapatan lebih besar yang diterima, malah produk mereka ditolak pembeli. Hampir di semua lini kita menghadapi masalah buruknya kolaborasi. Bahkan antarkementerian pun begitu sulit untuk melakukan koordinasi. Bahkan sering ketika sudah diputuskan Presiden sekalipun, tidak bisa dilaksanakan di tingkat operasional.

Tidak usah jauh-jauh lihat saja 15 paket kebijakan ekonomi yang sudah dikeluarkan pemerintah. Apakah setiap kementerian sudah menyelesaikan pekerjaan rumahnya? Apakah kemudian keinginan untuk menarik investasi, membangun industri, dan menggerakkan ekonomi sudah terjadi? Kita harus berani mengatakan paket kebijakan itu tidak sepenuhnya berjalan di lapangan.

Tidak usah heran apabila industri tidak berkembang seperti yang diharapkan. Dampak dari amnesti pajak belum mengimbas ke sektor riil karena tidak mudah untuk berinvestasi di Indonesia. Keberpihakan kepada industri dalam negeri pun tidak terlihat. Ambil contoh pembangunan pembangkit listrik 35 gigawatt. Seharusnya pemerintah berani mengatakan 50% dari pembangkit itu dikerjakan industri dalam negeri.

Apakah kita bisa? Pasti bisa karena produk PT Boma Bisma Indra dipakai Alsthom, Prancis, untuk 27 pembangkit listrik di Eropa, AS, Afrika, dan Amerika Latin. Mengapa itu tidak terjadi? Bukankah pemerintah sudah menetapkan aturan tentang tingkat komponen dalam negeri? Jawabannya, karena kita sulit melakukan koordinasi, tidak mau berkolaborasi. Kita cenderung hanya memikirkan kepentingan sendiri.

Beberapa hari lalu kita memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional. Di industri dirgantara kita lihat bagaimana PT Dirgantara Indonesia memperkenalkan CN 219. Kita melihat juga Ilham Habibie memperlihatkan pesawat terbang karyanya, R-80. Kita bangga putra-putra Indonesia mampu menghasilkan karya besar.

Namun, pertanyaannya, apakah kita mendukung pengembangan pesawat tersebut, dan apakah maskapai penerbangan nasional mau memesan pesawat-pesawat tersebut karena pemesanan itu akan mendorong berkembangnya industri dirgantara nasional. Banyak di antara kita yang lebih kagum kepada produksi luar negeri. Kita tidak pernah mau menjadikan produk nasional menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

Lihat saja produk kapal perang PT PAL dipakai Angkatan Laut Filipina, sebaliknya TNI-AL lebih suka menggunakan kapal buatan Belanda. Sepanjang tidak ada kemauan untuk memberi kesempatan kepada putra-putra Indonesia membuat karya besar, kita tidak akan pernah menjadi bangsa besar.

Presiden Korea Selatan Park Chung-hee ketika pertama membangun negaranya mengatakan tidak pernah ada bangsa yang akan mau memajukan Korea kecuali bangsa Korea sendiri yang melakukannya. Peringatan hari kemerdekaan RI harus menjadi momentum untuk bertanya, Indonesia seperti apa sebenarnya yang kita inginkan. Kerja bersama jangan hanya menjadi slogan, tetapi harus menjadi sikap dan perilaku kita kalau ingin meraih kemajuan.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima