Haji dan Hajah

21/4/2026 05:00
Haji dan Hajah
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci. Mereka, gelombang I, memulai perjalanan suci itu dengan menginjakkan kaki di Madinah. Di kota tempat Rasulullah Muhammad berhijrah itu jemaah haji melakukan sejumlah ibadah tambahan yang penuh keutamaan, seperti berdoa di Raudah dan salat wajib 40 waktu (arba'in) di Masjid Nabawi.

Setelah itu, mereka bergerak ke Mekah untuk menjalankan serangkaian ibadah hingga puncaknya wukuf di Arafah bersama rombongan gelombang II yang langsung ke Mekah. Lalu, dari Arafah bermalam di Muzdalifah dan Mina, melontar jumrah, kembali Mekah lagi, hingga perpisahan dengan Kabah lewat tawaf wada, sebelum bertolak kembali ke Tanah Air.

Begitu tiba di Tanah Air, para kerabat dan tetangga pun menyapa para jemaah dengan panggilan 'Haji' dan 'Hajah'. Ada yang memanggil 'Pak Haji', 'Bang Haji', 'Mas Haji', 'Kang Haji', 'Bu Hajah', 'Neng Hajah', 'Mbak Hajah', dan seterusnya. Sebagian orang menganggapnya itu sebagai 'gelar sah' yang menandakan orang itu sudah berhaji.

Konon, pada mulanya orang pulang dari Tanah Suci membawa oleh-oleh yang sederhana, seperti air zamzam, kurma, dan cerita. Cerita itu yang paling mahal sebab ia tidak bisa dibungkus plastik, tidak pula bisa ditimbang di bandara.

Di dalam cerita itulah terselip perubahan, mulai cara berjalan yang sedikit lebih hati-hati, cara berbicara yang agak ditimbang, dan cara memandang hidup yang, setidaknya, berniat lebih lurus. Lalu, masyarakat kita yang gemar memberikan nama pada perubahan menemukan satu panggilan, yaitu haji atau hajah.

Jadi, asal usul panggilan itu barangkali bermula dari rasa hormat. Orang yang telah menempuh perjalanan jauh, bukan sekadar jauh di peta, melainkan juga jauh di niat, dianggap telah mencapai sesuatu. Karena itu, ia diberi tanda. Seperti prajurit yang pulang dari perang atau pelajar yang kembali dari rantau.

Namun, seperti banyak tanda lainnya, panggilan itu pelan-pelan mengalami nasib yang sama. Panggilan itu menjadi lebih mudah diucapkan daripada dimaknai.

'Haji' tidak lagi selalu menunjuk pada perjalanan batin, tapi pada status sosial yang bisa disebut di depan nama. Ia menjadi semacam awalan kehormatan yang mirip gelar, tetapi tidak pernah benar-benar diakui sebagai gelar resmi.

Menariknya, panggilan itu tidak pernah diminta, tetapi sering diharapkan. Ada yang menolak dengan halus, tetapi lebih banyak yang diam-diam memastikan orang lain tidak lupa menyebutnya. Di situlah panggilan mulai berjarak dengan asal usulnya.

Padahal, kalau kita tengok sejenak, perjalanan haji itu sendiri ialah latihan menanggalkan identitas. Pakaian dibuat seragam, gelar ditinggalkan, bahkan nama seakan tidak penting di tengah jutaan manusia yang bergerak dalam irama yang sama. Namun, begitu pulang, identitas itu dipungut kembali, ditambah satu lagi di depan nama.

Terjadilah sesuatu yang agak lucu, perjalanan yang mengajarkan kesederhanaan justru melahirkan penanda baru yang bisa terasa istimewa. Tentu saja tidak ada yang salah dengan panggilan itu.

Apalagi, ia lahir dari niat baik, menghormati, mengenali, dan mungkin juga mendoakan. Namun, seperti semua yang baik, ia bisa berubah arah ketika terlalu sering dipakai tanpa dipikirkan.

Ada orang yang benar-benar menjadi lebih ringan setelah berhaji. Ia ringan dalam memaafkan, ringan dalam membantu, ringan dalam tidak merasa paling benar. Kepadanya, panggilan 'Haji' terasa kecil jika dibandingkan dengan perubahan yang ia usahakan.

Ada pula yang justru menjadi lebih berat, yakni berat dalam menjaga citra, berat dalam menjaga sebutan, dan kadang-kadang berat menerima jika dipanggil tanpa tambahan itu. Padahal, kalau mau jujur, panggilan itu hanyalah gema dari perjalanan yang sudah selesai. Ia bukan perjalanan itu sendiri.

Karena itu, mungkin asal usul 'haji' dan 'hajah' yang paling sederhana bukanlah gelar, bukan pula status, melainkan pengingat bahwa seseorang pernah berjalan jauh untuk mendekat, dan diharapkan tetap berjalan, meski tanpa disorot.

Sisanya, seperti biasa, bergantung pada kita, apakah panggilan itu akan menjadi doa yang hidup, atau sekadar tambahan kata yang lewat di depan nama.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.