Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar. Di titik ini, publik dunia kian mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan kejiwaan Donald Trump?
Kita tahu, Trump ialah presiden negara adidaya, Amerika Serikat. Di tangannya, perekonomian dunia bisa dibuat hitam atau putih. Lewat telunjuknya, militer terkuat di kolong langit bisa membuat dunia bergejolak dalam perang atau penuh kedamaian. Melalui perintahnya, ribuan hulu ledak nuklir dapat mengakhiri kehidupan di bumi ini. Kalau negara sekuat itu dipimpin seseorang yang jiwanya belum tentu sehat, mentalnya barangkali sakit, alangkah riskannya tata dunia ini.
Apakah Trump mengalami gangguan jiwa? Pertanyaan itu sudah lama ada dan tetap ada hingga kini. Malah tanda tanya makin membesar. Dulu, pada 2017 lalu, terbit buku berjudul The Dangerous Case of Donald Trump yang disunting psikiater forensik Bandi X Lee. Isinya esai dari 27 psikiater, psikolog, dan pakar kesehatan mental.
Mereka memperingarkan bahwa perilaku Trump menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan mental yang berbahaya bagi seorang presiden. Ada pula buku Twilight of American Sanity karya Allen Frances dan Fantasyland karya Kurt Andersen. Isinya senada, sama-sama menyoal kejiwaan Trump.
Setelah Trump dilantik menjadi presiden AS, pertanyaan ihwal kejiwaan Trump kembali mengemuka. Bukan hanya bisik-bisik tetangga. Tak sekadar gunjingan di pintu belakang, tapi juga lewat buku. Kali ini karya jurnalis Wichael Wolff dengan judul Fire and Fury: Inside the Trump White House. Buku itu menggambarkan Trump sebagai sosok yang tidak sabar, tak bisa fokus, dan mengoceh tanpa ujung pangkal.
Belakangan, perbincangan perihal kejiwaan Trump seolah menemukan energi tambahan. Keputusannya bersama Israel menyerang Iran kian mengonfirmasi bahwa ada yang salah dalam dirinya. Pernyataan-pernyataan yang kerap mengada-ada, kasar, tidak konsisten, dan sulit diprediksi menebalkan pertanyaan itu.
Semangatnya untuk berkonfrontasi kelewat tinggi. Urusan hubungan antarnegara ia seret ke masalah pribadi. Tak cuma lawan, teman pun jadi sasaran ejekan, hinaan. Presiden Prancis Emmanuel Macron yang pernah ditoyor sang istri, misalnya. Perdana Menteri Inggris Keir Stamer, amsalnya.
Juga NATO, pakta pertahanan Amerika dan negara-negara Eropa, yang ia sebut cuma macan kertas. Gegaranya sama, karena mereka ogah memenuhi permintaan Trump untuk menyerang Iran. Ngambek atau marah sekalipun boleh saja. Namun, kalau ngambek dan marahnya presiden Amerika model Trump jelas amat sulit diterima.
Terkini, Trump berkonflik dengan Paus Leo XIV. Awalnya Paus mengkritik perang di Iran. Ia menyebut perang itu dipicu 'delusi kemahakuasaan'. Dalam doa bersama di Basilika Santo Petrus, ia meminta perang segera dihentikan dan jalan damai dikedepankan.
Pernyataan Paus itu sebenarnya bukan hal baru. Pemimpin 1,5 miliar umat Katolik sedunia itu jamak melakukannya. Paus selalu menentang perang dan penindasan oleh siapa pun dan di mana pun. Kalau kemudian Trump tersingggung, marah, kiranya memang ada yang aneh dalam dirinya. Apalagi, ia begitu bernafsu menyerang balik Paus. Ia tak suka karena Paus yang asal AS itu menentang kebijakan AS terhadap Iran. Ia bilang Paus sangat lemah dalam urusan kejahatan dan lainnya.
Konflik antara Trump dan Paus sesungguhnya bukan sekadar perselisihan dua tokoh, melainkan juga benturan dua otoritas besar. Kekuasaan politik versus kewenangan moral. Kritik Paus jelas berangkat dari tradisi panjang gereja Katolik yang menempatkan diri sebagai suara nurani. Ketika kebijakan perang terhadap Iran menimbulkan penderitaan luas dan eskalasi global, Paus tak mungkin diam saja. Kritik itu berada dalam koridor moral universal, bukan serangan personal.
Namun, respons Trump memperlihatkan pola yang berulang. Kritik ia baca sebagai ancaman terhadap dirinya. Seorang presiden yang berjiwa sehat semestinya mampu membedakan antara kritik terhadap kebijakan dan serangan pribadi. Namun, itulah Trump. Siapa pun yang berseberangan pandangan, ia anggap sebagai lawan. Konflik dengan Paus itu menunjukkan kecenderungan yang sangat berbahaya, yakni delegitimasi terhadap suara moral. Apa jadinya dunia kalau moral tak lagi didengar?
Wajar kiranya ketika dalam konferensi pers resmi, minggu lalu, seorang wartawan Gedung Putih mempertanyakan kesehatan mental Trump. Normal rasanya jika sejumlah anggota DPR AS dari Partai Demokrat menyatakan keprihatinan mendalam atas dugaan bahwa Trump menderita demensia yang memengaruhi efektivitas kepemimpinannya.
Demensia ialah penyakit degeneratif yang bersifat progresif akibat kerusakan sel saraf otak. Akibatnya dapat mengakibatkan penurunan fungsi kognitif seperti daya ingat, berpikir, bernalar, dan berbahasa. Mereka mendesak dokter kepresidenan bertindak. Mereka bersuara agar Trump dimakzulkan.
Kejiwaan Trump kiranya amat layak disoal. Apalagi jika benar diagnosis psikolog dari Universitas John Hopkins bahwa Trump sebagai malignant narcissist atau narsisis ganas yang melampaui narsisme umum pada politikus. Dengan kejiwaan seperti itu, Trump saatnya dijauhi. Waktunya negara-negara di dunia membuat jarak dengan Amerika, bukan malah dekat-dekat. Dengan begitu, ancaman delusi kemahakuasaan dapat dikalahkan.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved