Cancel Culture buat Koruptor

15/4/2026 05:00
Cancel Culture buat Koruptor
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul? Apa enggak bosan ngomongin korupsi berulang-ulang?

Ya, pasti enek, tentu saja bosan. Namun, bagaimana lagi? Faktanya pelaku korupsi malah tak kenal kata bosan. Masak kita mau diam saja? Apalagi belakangan ini, yang berulang bukan cuma praktik korupsinya, melainkan juga pelakunya. Dalam beberapa kasus dugaan korupsi yang berujung OTT oleh KPK, pelakunya berasal dari golongan yang sama, yaitu kepala daerah.

Rasanya kita seperti sedang menonton film yang diputar berulang-ulang di stasiun televisi setiap musim liburan. Alurnya ketebak, tokohnya itu-itu saja (kalau bukan kepala daerah, ya kroninya), dan antiklimaksnya selalu sama. Berpose memakai rompi oranye di depan gedung KPK sambil melambaikan tangan. Sesekali ditambah senyuman.

Teranyar, kabar buruk perihal korupsi kepala daerah datang dari Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Sang bupati ditangkap komisi antirasuah itu dan sudah dijadikan tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi berupa pemerasan dan penerimaan uang di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tulungagung.

Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo seakan tak mau kalah dengan lima kepala daerah lain yang lebih dulu ditangkap KPK sejak Januari 2026. Ada Bupati Pati, Wali Kota Madiun, Bupati Pekalongan, Bupati Rejang Lebong, dan Bupati Cilacap. Apakah ini yang disebut 'berlomba-lomba dalam kejahatan'? Entahlah.

Yang pasti, dengan melihat tren yang terus berulang dari satu kota ke kota lain, dari satu kabupaten ke kabupaten lain, kiranya tidak salah bila ada yang bilang bahwa korupsi kepala daerah di negeri ini sudah bukan lagi fenomena, melainkan parasit. Kalau dunia politik dan birokrasi diibaratkan sebuah rawa, mereka ialah eceng gondok.

Dari jauh, permukaannya terlihat hijau dan indah. Itu bisa terlihat saat mereka berkampanye, belum terpilih. Namun, di bawah permukaan atau ketika mereka sudah terpilih, akar mereka ternyata menjerat dan menyumbat aliran air ke masyarakat. Dicabut satu, tumbuh lebih banyak. Begitu terus sampai rawanya kering.

Dalam pengibaratan yang lain, korupsi kepala daerah laiknya arisan warga. Dikocok rutin dan dapatnya bergiliran. Lama-lama korupsi bukan lagi dianggap dosa besar, melainkan sekadar risiko jabatan yang lumrah, bisa menimpa siapa saja yang sedang dirundung sial.

Ikhwal penyebab kepala daerah seakan tidak punya takut dan malu untuk merepetisi korupsi, sudah banyak analisisnya. Ada yang bilang karena tingginya biaya atau mahar politik yang memicu ketergantungan pada sponsor atau donatur. Ada juga yang menyebut lantaran lemahnya sistem pengawasan, sifat serakah, integritas yang rendah, serta budaya permisif terhadap suap dan proyek pemerintah.

Akan tetapi, ada satu faktor lagi yang sering kali terlupa, yaitu penerimaan masyarakat. Konon, kita ini bangsa yang amat pemaaf sekaligus pelupa. Betul bahwa sifat pemaaf ialah sebuah kebaikan. Namun, kalau salah menempatkan maaf, tahukah bahwa kebaikan itu justru bisa menjadi bensin bagi korupsi yang terus berulang?

Celah itulah yang kerap dengan cerdik dimanfaatkan mereka, para koruptor itu. Mereka tahu, hujatan atau makian bakal dilontarkan publik saat mereka tertangkap basah melakukan korupsi. Namun, mereka juga amat paham bahwa hal itu cuma akan berlangsung sebentar.

Nanti, setelah keluar penjara, cukup bangun citra sedikit, bagi-bagi bantuan, publik bakal lupa dan memaafkan lagi. Padahal, maaf seharusnya hanya untuk mereka yang salah jalan, bukan untuk mereka yang sengaja melencengkan jalan demi syahwat pribadi.

Karena itu, kiranya kita perlu melakukan semacam cancel culture bagi para koruptor. Publik mesti kompak 'membatalkan' karier koruptor seperti halnya sering dilakukan terhadap selebritas yang melakukan kesalahan fatal, seperti pelecehan atau perselingkuhan. Kalau terhadap selebritas saja bisa, kenapa kita tidak bisa melakukan hal yang sama pada mereka yang merampok uang rakyat?

Cancel culture bagi koruptor bahkan mestinya lebih 'kejam'. Ia harus menjadi pengucilan sosial yang total. Jangan beri mereka panggung, jangan beri mereka kesempatan untuk merasa masih terhormat setelah mengkhianati amanah rakyat. Jika kita tak mampu menghukum mereka lewat jeruji yang kukuh, setidaknya hukum mereka dengan pengabaian yang total.

Pendeknya, cancel culture harus bisa mematikan relevansi mereka di masyarakat. Tanpa ada hukuman sosial semacam itu, apalagi kalau kita masih saja mau menjadi penonton yang sopan di tengah perampokan yang terang-terangan, jangan menyesal kalau koruptor akan selalu bermunculan dan korupsi terus beranak pinak.

Dengan absennya sanksi sosial yang membuat para koruptor gentar, penjara mungkin cuma dianggap sebagai tempat istirahat. Sekadar jeda atau masa tunggu sebelum masyarakat lupa dan memberi maaf. Setelah itu, bukan tidak mungkin, mereka akan kembali dengan kejahatan yang lebih sempurna.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.