Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa. Itu strategi berlapis yang menggabungkan tekanan geopolitik, ekonomi, dan psikologis. Dalam banyak hal, strategi itu mengingatkan saya pada kecerdikan klasik Persia, yakni bertahan dengan akal, bukan sekadar kekuatan.
Di saat Donald Trump sibuk melontarkan ancaman keras dan memperbesar eskalasi, Teheran justru memainkan permainan yang lebih halus, tetapi mematikan. Bukan frontal, melainkan memecah. Bukan menabrak, melainkan mengalihkan.
Strategi itu, jika ditarik ke belakang, seperti gema sejarah. Kita diingatkan pada sosok Salman al-Farisi dalam Perang Khandaq. Saat Madinah dikepung koalisi besar, bukan kekuatan yang diandalkan, melainkan ide, yaitu menggali parit. Sebuah inovasi yang mematahkan keunggulan musuh dan membalikkan arah perang.
Hari ini, Iran seperti menggali 'parit modern' ala Salman al-Farisi di Selat Hormuz. Secara kasatmata, Iran menawarkan jalur aman bagi kapal-kapal Eropa. Prancis, Spanyol, Italia, Jepang, hingga negara lain diberi ruang melintas. Namun, di balik itu, tersimpan strategi belah bambu yang cermat: kapal Amerika ditekan, kapal sekutu Washington dipersulit, sedangkan pihak yang berani mengambil jarak dari AS diberi kelonggaran.
Itu bukan sekadar kebijakan navigasi. Itu pesan politik nyata bahwa siapa bersama kami, akan kami lindungi; siapa bersama Washington, bersiaplah menghadapi risiko. Di titik itu, NATO diuji. Solidaritas Barat yang selama ini dibanggakan mulai retak oleh kepentingan energi.
Ketika harga minyak melonjak, ketika harga gas melonjak dua kali lipat, ketika biaya energi membengkak miliaran dolar, idealisme geopolitik sering kali tunduk pada kebutuhan domestik. Iran memahami itu. Mereka pun memanfaatkannya dengan presisi.
Lebih jauh lagi, strategi itu menyentuh jantung kekuatan Amerika, yakni mata uang dolar. Sejak lahirnya sistem petrodolar pada 1970-an, dominasi global Washington bertumpu pada satu hal sederhana, berupa minyak yang diperdagangkan dalam dolar. Siapa butuh energi, harus memegang dolar.
Namun, kini, Iran mulai memainkan kartu berbeda. Transaksi dalam euro atau yuan bukan lagi wacana, melainkan opsi nyata. Satu kesepakatan besar tanpa dolar saja sudah cukup mengguncang kepercayaan global terhadap sistem lama. Di sinilah kegelisahan Washington bermula.
Jika Selat Hormuz, jalur bagi sekitar 20% energi dunia, mulai menjadi arena transaksi nondolar, yang dipertaruhkan bukan sekadar konflik regional. Itu pertarungan tentang siapa yang berhak menentukan mata uang dunia.
Langkah Iran diperkuat dinamika global yang lebih luas. Bergabungnya Teheran dalam BRICS, kedekatan dengan Rusia dan Tiongkok, hingga kecenderungan negara-negara Global South untuk mencari alternatif dari dominasi Barat, semuanya bermuara dalam satu titik, yakni dedolarisasi.
Bahkan, sinyal dari lembaga keuangan Eropa menunjukkan kecemasan itu nyata. Jika perang berhenti hari ini sekalipun, kerusakan sistemis sudah terjadi. Pasar telah bereaksi, kepercayaan telah terguncang.
Di tengah semua itulah, Trump tampak terjebak dalam logika lama, bahwa tekanan militer akan memaksa lawan menyerah. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya. Semakin keras retorika Washington, semakin besar insentif bagi negara lain untuk mencari jalan keluar. Semakin agresif tekanan, semakin cepat proses pelepasan dari ketergantungan terhadap dolar. Itu paradoks yang tidak sederhana, yaitu kekuatan yang terlalu dominan justru mendorong lahirnya perlawanan kolektif.
Iran, dengan segala keterbatasan mereka, membaca celah itu. Karena itulah, Selat Hormuz hari ini bukan hanya jalur perdagangan. Ia telah berubah menjadi alat tawar, perisai, sekaligus senjata. Sebuah 'parit' yang tidak digali dengan tanah, tetapi dengan kebijakan dan kalkulasi ekonomi.
Apakah itu akan menjatuhkan Amerika Serikat? Tentu tidak dalam semalam. Namun, sejarah mengajarkan kekuatan besar jarang runtuh karena satu pertempuran. Mereka melemah karena akumulasi tekanan, mulai ekonomi, politik, hingga kepercayaan. Di situlah Iran sedang bermain.
Trump mungkin masih percaya bahwa perang itu bisa dimenangi dengan kekuatan militer. Namun, di medan yang lebih sunyi, berupa pasar energi dan sistem keuangan global, pertempuran sesungguhnya sedang berlangsung. Sebuah pertempuran yang tidak menghasilkan ledakan, tetapi bisa mengguncang fondasi.
Seperti parit di Madinah berabad-abad lalu, strategi yang tampak sederhana itu kini kembali menemukan relevansinya. Bedanya, kali ini yang dipertaruhkan bukan hanya sebuah kota, melainkan juga keseimbangan kekuatan dunia. Itulah 'parit modern'.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved