Trump dalam Kepungan

31/3/2026 05:00
Trump dalam Kepungan
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS. Ia diprotes 8 juta warga AS di 50 negara bagian yang turun ke jalan dan merasa muak dengan gaya kepemimpinannya.

Belum lagi tingkat penerimaan (approval rating) warga Amerika terhadapnya yang terus anjlok, dan kini tinggal 36%. Di jagat media sosial, ia jadi bahan olok-olok, baik dalam bentuk meme maupun video akal imitasi (AI). Setiap pidatonya, terutama terkait dengan klaim kemenangan perang atas Iran, diberi cap 'halu' oleh netizen. Semua karena keputusannya bersama Israel menyerbu Iran secara membabi buta.

Tepat kiranya yang digambarkan majalah The Economist melalui sampul edisi 21-27 Maret 2026. Majalah berbasis di Inggris itu menggambarkan Trump mengenakan helm militer secara terbalik (bagian belakang yang dipenuhi peluru menutupi separuh muka, mulai kening hingga hidung, menyisakan mulut Trump yang menganga).

Di atas kepala, tertulis 'Operating Blind Fury' alias 'Operasi Besar-besaran Membabi Buta'. Kalimat itu merupakan pelesetan dari sandi serangan Amerika ke Iran 'Operation Epic Fury', atau 'Operasi Besar-besaran yang Menghancurkan'.

Di dalam negeri, gelombang jutaan manusia tumpah ruah di jalanan. Mereka tidak datang dengan tank, tidak pula membawa rudal. Namun, daya hantamnya jauh lebih senyap sekaligus mematikan, yaitu legitimasi politik. Mereka menyuarakan satu pesan yang tak bisa lagi disamarkan retorika Gedung Putih, bahwa perang melawan Iran bukanlah perang mereka.

Di titik itulah posisi Donald Trump kian terjepit. Ia tidak saja berhadapan dengan Teheran di medan geopolitik, tetapi juga dengan rakyatnya sendiri di dalam negeri. Sebuah ironi klasik dalam sejarah kekuasaan, yakni ketika musuh eksternal dijadikan alasan konsolidasi, justru retakan internal yang membesar.

Majalah The Economist membaca situasi itu dengan nada dingin dan tajam. Perang, alih-alih menjadi panggung penguatan kepemimpinan, justru berubah menjadi beban politik. Lonjakan harga energi yang terasa langsung di pompa bensin telah menggerus kesabaran publik. Harga BBM di Amerika sudah melonjak 30% sejak serangan perdana ke Iran pada 28 Februari lalu.

Dalam politik elektoral Amerika, kantong lebih menentukan daripada slogan. Ketika kantong tertekan, loyalitas pun menguap. Dalam aksi jutaan manusia itu terpampang fakta di kantong-kantong Partai Republik, aksi kecaman terhadap Trump juga sangat nyaring diteriakkan.

Trump tampak terjebak dalam paradoksnya sendiri. Ia ingin tampil sebagai pemimpin tegas dalam menghadapi Iran, tetapi setiap langkah eskalasi justru memperdalam krisis yang ia ciptakan. The Economist bahkan menyiratkan perang itu memiliki aroma self-inflicted problem, atau sebuah luka yang dibuat tangan sendiri.

Lebih jauh, persoalan tidak berhenti pada tekanan domestik. Di kawasan Timur Tengah, risiko eskalasi membentang luas. Penutupan Selat Hormuz bukan sekadar ancaman taktis, melainkan juga detonator ekonomi global. Dunia menyaksikan dengan cemas bahwa setiap kapal yang tertahan di jalur energi itu ialah sinyal konflik tersebut bisa meluas tanpa kendali.

Dalam kalkulasi militer, perang cepat mungkin pernah menjadi asumsi. Namun, realitas geopolitik jarang tunduk pada skenario optimistis.

Kekuatan yang telah dikerahkan menunjukkan itu bukan sekadar operasi terbatas. Itu pintu menuju konflik panjang. Dalam konflik panjang, keunggulan militer sering kali tergerus oleh biaya politik dan ekonomi.

Di sinilah kritik paling mendasar muncul, yakni apa sebenarnya tujuan perang itu? Apakah untuk menghentikan ambisi nuklir Iran, mengganti rezim, atau sekadar unjuk kekuatan? Ketidakjelasan tujuan ialah racun dalam strategi. Ia membuat kemenangan tak terdefinisi, sekaligus kekalahan terasa semakin dekat.

Sementara itu, dampak ekonomi menjalar seperti gelombang kejut. Harga minyak melonjak, di angka US$115 per barel, inflasi mengintai, dan pasar global bergetar. The Economist menyebutnya sebagai guncangan energi terbesar sejak dekade 1970-an, sebuah perbandingan yang tidak ringan. Dunia yang belum sepenuhnya pulih dari ketidakpastian kini dipaksa menghadapi krisis baru yang dipicu keputusan politik Washington.

Bagi Trump, itu ialah pertaruhan berlapis. Di satu sisi, ia ingin mempertahankan citra sebagai pemimpin kuat. Di sisi lain, realitas menunjukkan perang ini tidak populer, mahal, dan berisiko tinggi. Demonstrasi jutaan warga ialah indikator paling gamblang bahwa narasi resmi pemerintah mulai kehilangan daya cengkeramnya.

Sejarah sering mencatat, bukan musuh di luar yang menjatuhkan seorang pemimpin, melainkan akumulasi tekanan dari dalam. Ketika legitimasi retak, setiap kebijakan menjadi beban. Setiap eskalasi menjadi perjudian.

Trump kini berdiri di persimpangan yang sempit: mundur berarti kehilangan muka, melanjutkan berarti memperdalam luka. Dalam politik, pilihan semacam itu jarang berakhir dengan kemenangan utuh.

Di tengah riuh perang serta gemuruh demonstrasi, satu pertanyaan menggantung tanpa jawaban pasti, yakni apakah ini awal dari kemenangan yang tertunda, atau justru awal dari akhir sebuah kepemimpinan?



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.