SBY (Bapak Presiden)

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
31/7/2017 05:31
SBY (Bapak Presiden)
(MI/ARYA MANGGALA)

PRABOWO Subianto masih membahasakan SBY sebagai bapak presiden. Katanya, sebutan itu mengikuti kelaziman internasional, mantan presiden tetap disebut sebagai presiden. Keadaban internasional itu disampaikan Prabowo kepada pers seusai pertemuannya dengan SBY di kediaman SBY di Cikeas, Kamis (27/7) malam. Pertemuan kedua pemimpin partai itu diawali dengan santap bersama, utamanya nasi goreng Cikeas yang dinilai Prabowo lebih lezat ketimbang nasi goreng Hambalang, tempat kediamannya.

Pertemuan Ketua Umum Partai Demokrat dengan Ketua Umum Partai Gerindra itu tidak dinyatakan sebagai koalisi, tetapi kerja sama. Hal yang dapat dipahami di permukaan karena SBY lebih suka mengategorikan partainya sebagai penyeimbang, bukan partai oposisi, seperti Gerindra. Di permukaan, publik tidak tahu apa persisnya yang mereka bicarakan empat mata. Apa pun isi pertemuan itu kiranya orang perlu membedakan SBY sebagai ketua umum partai di satu pihak, dan SBY sebagai mantan presiden di lain pihak.

Dalam dua perkara itu SBY yang satu tidak sama dengan SBY yang satunya lagi. Partainya dicandrakan sebagai penyeimbang. Namun, sebagai mantan presiden, SBY lebih mengekspresikan dirinya sebagai pengkritik pemerintah, khususnya terhadap Presiden Jokowi. Posisi kritikus itulah yang kembali ditunjukkannya ketika pekan lalu di Cikeas ia berkata, "Power must not go unchecked. Kami harus memastikan pemegang kekuasaan tidak melampaui batas sehingga tidak masuk apa yang disebut abuse of power."

Perihal kekuasaan melampaui batas itu ditanggapi Jokowi. "Perlu saya sampaikan saat ini tidak ada kekuasaan absolut, kekuasaan mutlak. Kan ada pers, ada LSM, ada DPR. Rakyat juga mengawasi langsung. Artinya, tidak ada kekuasaan absolut, mutlak. Enggak ada." Kritik SBY itu berkaitan dengan Perppu Ormas. Jika SBY tidak setuju dengan perppu itu, partainya bersama partai lain yang sepaham dapat menolaknya di masa persidangan pertama DPR.

Sudah tentu dapat dibawa ke Mahkamah Konstitusi. Apa urusan dengan kekuasaan melampaui batas? Sebagai gambaran, 10 tahun menjadi presiden, SBY membuat 23 perppu atau setahun rata-rata memproduksi 2,3 perppu. Dengan kata lain, selama SBY berkuasa tiap tahun terjadi rata-rata lebih dua kali keadaan 'genting memaksa'. Itu kesimpulan harfiah konstitusional. Padahal, kenyataan tidak seseram itu.

'Produktivitas' SBY membuat perppu itu pun tidak menjadi bukti bahwa terjadi kekuasaan melampaui batas. Saban kali SBY mengkritik Jokowi, saban kali itu pula saya terpicu untuk melihat ke belakang. Bukan ke depan. Sejujurnya, sulit benar untuk menemukan jawaban apakah yang tampak menjulang di depan sana. Padahal, SBY berkuasa lebih lama daripada total tujuh perdana menteri di tahun 1950-an serta lebih lama daripada total tiga presiden (BJ Habibie, Gus Dur, Megawati) setelah Pak Harto.

Bahkan, sulit sekali menemukan kelebihan 'hari ini'-nya SBY jika dibandingkan 'hari ini'-nya Jokowi. Padahal, tiap orang, terlebih seorang pemimpin negara, tak dapat menghindar dari tiga perkara besar, yaitu penghakiman masa lalu, sekarang, dan masa depan. 'Hari ini'-nya SBY dan 'hari ini'-nya Jokowi ialah masa berkuasa yang sama dalam jabatan presiden yang pertama, yaitu 20 Oktober 2004-31 Juli 2007 untuk SBY dan 20 Oktober 2014-31 Juli 2017 untuk Jokowi. Apa yang dilakukan SBY ketika itu?

Seeing is believing, publik dapat melihat sendiri infrastruktur yang telah dikerjakan Jokowi. Dengan mengikuti keadaban internasional, Prabowo menyebut SBY sebagai bapak presiden. Dalam sebutan itu terkandung kehormatan. Yang tidak disebut Prabowo ialah etika tidak tertulis yang menyertai keadaban itu, bahwa mantan presiden 'berjalan di batas halus' antara berupaya membela legacy-nya seraya juga berusaha menghormati penggantinya. Sebuah etika yang saat ini sebaliknya juga diarahkan kepada Presiden Trump yang gemar 'meremehkan' legacy pendahulunya.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.