Terkena Batunya

11/6/2015 00:00
Terkena Batunya
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

POLISI Malaysia menghentikan pidato Dr Mahathir Mohamad dalam forum Nothing2Hide di Putra World Trade Center, Kuala Lumpur, Jumat (5/6).

Berdasarkan foto di The Straits Times, perwira polisi tampak santun kala 'memberedel' Mahathir. Alasan polisi ialah demi ketertiban umum dan kerukunan nasional.

Forum terbuka itu diselenggarakan bagi Perdana Menteri Datuk Seri Mohd Najib Razak untuk menjawab 'tuduhan' penyelewengan di perusahaan negara 1Malaysia Development Berhad (1MDB) yang dilontarkan Mahathir.

Akan tetapi, menurut The Straits Times, pada Jumat pukul 08.50 itu Inspektur Jenderal Polisi Tan Sri Khalid Abu Bakar men-tweet bahwa acara dibatalkan atas perintah polisi demi keamanan umum.

PM Razak nyatanya tidak hadir pada forum yang dijadwalkan mulai pukul 10.00 itu. Ketidakhadirannya menuai kritik. Petinggi Partai UMNO menyayangkan ketidakhadirannya.

Forum itu sangat penting bagi PM Razak bukan hanya untuk membantah tuduhan, melainkan juga, bila ia benar, ganti 'menghajar' mantan bosnya, Mahathir.

Ketidakhadiran Razak sebaliknya membuat Mahathir dinilai menang. Dalam pidatonya ia berseru, "Apakah kita negara merdeka atau dijajah?"

Ia sempat menilai Razak antek Singapura dan Amerika. Hanya beberapa menit ia berpidato, polisi langsung memberedelnya.

Seperti telah saya tulis di kolom ini 49 hari lalu, Mahathir gencar menyerang PM Razak melalui blognya (Media Indonesia, 23/4). Istri Razak pun dikecam bergaya hidup mewah. PM paling lama berkuasa itu sampai pada kesimpulan,

"Saya rasa dia tidak patut lagi menjadi perdana menteri."

Forum Nothing2Hide yang diselenggarakan persatuan advokat diharapkan menjadi wadah buka-bukaan. Seperti judulnya, dalam forum itu mestinya tak ada lagi yang disembunyikan Razak di depan publik. Namun, ia memilih tak hadir dan polisi 'memilih' memberedel Mahathir.

Saya menduga bagi Mahathir pemberedelan itu bak senjata makan tuan yang menyakitkan. Mahathir kena batunya, batu buatannya. Kala berkuasa ia represif menggunakan kekerasan negara terhadap oposisi.

Hegemoni kekuasaannya antara lain dibangun di atas Internal Security Act (Akta Keselamatan Dalam Negeri) yang memberi kewenangan hukum bagi negara untuk menangkap dan menahan tanpa pengadilan. Ternyata dugaan saya keliru.

Mahathir tidak tersinggung, tidak marah, tidak melawan. Ia menerima kena batunya, menerima senjata makan tuan, menerima diberedel. Tidak menyakitkan.

Mantan PM itu patuh pada perintah polisi. Ia menunjukkan diri sebagai warga biasa yang kini terkena perlakuan represif negara. Tak ada kegaduhan.

Kepada wartawan ia malah mengatakan datang untuk mendengarkan pembelaan Razak dan jika diyakininya benar, ia akan terus mendukung Razak.

Mari berandai-andai. Apakah yang terjadi jika, katakanlah, polisi menghentikan pidato mantan Presiden SBY yang tengah mengkritik Presiden Jokowi. Pasti gaduh hebat. DPR menghakimi agar Kapolri dicopot, bahkan menjadi pintu masuk pemakzulan presiden.

Pengandaian itu kiranya tak bakal terjadi. Pertama, dengan seluruh kehebatannya 'gaya' Mahathir yang mantan PM mencereweti PM tak cocok untuk negeri ini. Lagi pula, tak elok mantan PM menjadi oposisi terhadap PM dari partai sendiri (keduanya UMNO). Jeruk 'makan' jeruk.

Kedua, pemberedelan seperti itu kiranya tak bakal terjadi di negara ini karena betapa pun tak sempurna inilah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.