Tanah yang Baik

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
08/6/2015 00:00
Tanah yang Baik
(Grafis/SENO)
PILKADA mestinya tanah yang baik. Partai kiranya pohon yang baik. Hasilnya ialah buah yang baik, kepala daerah yang amanah. Semua yang baik itu memerlukan syarat utama, yaitu segenggam kejujuran. Bukan segenggam berlian, sekotak emas-permata, segerobak uang tunai, bukan pula segunung batu akik. Dalam pandangan itu ada-tidaknya uang mahar untuk menjadi kandidat kepala daerah merupakan bagian tidak terpisahkan dari rangkaian tanah-pohon-buah yang baik atau buruk.

Siapa pun yang meminang dan dipinang, partai atau kandidat atau sebaliknya, agar baik hendaklah tanpa mahar duniawi. Apa pun bentuknya, entah segenggam berlian, sekotak emas permata, segerobak uang tunai, segunung batu akik, semua dienyahkan. Saya bukan pemeluk khusyuk. Izinkanlah pendosa ini berpandangan mahar terbaik ialah kitab suci, seperti pernikahan sakinah.

Bahkan kitab suci semua pemeluk agama serentak menjadi mahar dalam pilkada serentak di bawah keyakinan sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Kitab suci menyertai sumpah jabatan telah lama kehilangan daya magis dan daya teologis sekaligus. Derajatnya turun dari ritual menjadi seremonial, bahkan semata formal. Buktinya, kebanyakan yang masuk penjara karena korupsi ialah mereka yang telah disumpah jabatan sebagai penyelengara negara sesuai dengan perintah perundang-undangan.

Sumpah jabatan setelah kemenangan berbuah kedangkalan, kepalsuan, bahkan pengkhianatan. Mengapa tidak membaliknya? Selain bermaharkan kitab suci, juga bersumpah ketika pencalonan. Bayangkanlah partai pengusung menyumpah kandidat. Sumpah bercahayakan ilahi, jauh sebelum pertandingan pilkada dimulai tanpa mahar duniawi. Maaf, jika terkesan berkhotbah di zaman lebih penting roti daripada firman, lebih berharga menang dengan cara setan sekalipun. Beranikah partai pengusung melaksanakan sumpah itu?

Pertanyaan itu memang skeptis karena politik telah terbenam 'bertuhankan' uang. Sebagai gambaran, sebuah kursi partai pengusung di DPRD dikabarkan berharga Rp300 juta hingga Rp500 juta. Berapa harga hati rakyat? Alkisah di kala fajar menyingsing sedikitnya Rp100 ribu untuk satu suara. Entah berapa harganya di malam hari, menjelang esok pencoblosan. 'Iman' demokrasi senyatanya uang segar.

Itulah yang hendak dihabisi dengan langkah awal pencalonan kandidat kepala daerah tanpa uang mahar, bersumpahkan kitab suci. Akan tetapi, jalan menuju segenggam kejujuran masih teramat panjang. Yang segenggam itu masih bagaikan burung di udara, belum sepenuhnya di genggaman elite dan akar rumput. Bila akar rumput masih hidup Senin-Kamis, bisakah demokrasi tanpa serangan fajar?

Karena itu, mengangkat harkat hidup rakyat banyak jelas tugas kepala daerah yang amanah. Demokrasi tanpa kesejahteraan ialah kemenangan dan keangkuhan elite di atas pengorbanan rakyat sebagai pecundang. Akan tetapi, jangan diabaikan bahwa di kolong langit Tanah Air tidak tertutup kemungkinan adanya elite yang senang rakyat jelata terus melata dalam kepapaan karena itulah kondisi termudah untuk meraih suara rakyat dengan cara membeli.

Banyak memang yang senang hidup berkepanjangan dalam lingkaran setan jual beli demokrasi. Mesti ada yang memelopori memotongnya, menyembelih sang setan dimulai dari mahar. Dari sanalah bisa berharap pilkada ialah tanah yang baik, partai pohon yang baik, hasilnya ialah buah yang baik, kepala daerah yang amanah.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.