Amien Rais

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
05/6/2017 05:00
Amien Rais
(MI/MOHAMAD IRFAN)

AMIEN Rais berada di ujung panggung sejarah (reformasi).

Apakah ia akan mengakhirinya dengan tinta emas? Atau sebaliknya, ia akan menutup lembaran sejarah hidupnya dengan catatan 'miring'?

Di usia 73 tahun, ia harus menjawab dua pertanyaan itu.

Dalam bahasanya sendiri, menjawabnya 'dengan jujur, tegas, apa adanya'.

Salah satu urusan pokok reformasi ialah menumbangkan rezim Orde Baru yang korup.

Kala itu Amien Rais berumur 54. Sembilan belas tahun telah berlalu. Banyak yang berubah.

Sekarang yang dihadapinya justru tuduhan ikut menikmati uang korupsi. Apakah 'jujur, tegas, apa adanya' masih sama dengan yang 'dulu' bersemayam dalam dirinya?

Hemat saya, apa yang dihadapi Amien Rais sekarang jauh lebih berat. Kenapa? Karena ia berurusan dengan kejujuran, ketegasan, apa adanya, dengan dirinya sendiri.

Bukan terhadap orang lain, bukan terhadap publik, bukan pula terhadap kekuasaan.

Bagaimana Amien Rais menghadapi orang lain, menghadapi kekuasaan, publik mengetahuinya, bahkan mengaguminya.

Menumbangkan Pak Harto yang sangat berkuasa, tentu saja hanya mampu dilakukan orang yang selain jujur, tegas, apa adanya, juga punya keberanian ekstra hebat.

Akan tetapi, menumbangkan kekuasaan satu perkara, berkuasa itu sendiri, perkara lain.

Amien Rais belum pernah sepenuhnya berkuasa. Ia pernah bertarung dalam Pilpres 2004, kalah telak, tersingkir dalam satu putaran. Padahal ia berharap masuk putaran kedua.

Partai yang didirikannya, PAN, pun tidak pernah meraih suara terbanyak.

Reputasi Amien Rais paling hebat ialah penumbang kekuasaan.

Setelah Pak Harto, melalui tekanan parlemen jalanan, lalu Gus Dur, sewaktu ia menjadi Ketua MPR.

Persoalan Amien Rais sekarang ialah menumbangkan tuduhan jaksa KPK.

Publik seyogianya berasumsi bahwa jaksa KPK punya fakta hukum.

Bukan omong besar. Sebaliknya, publik pun layak berasumsi, Amien Rais jujur dengan dirinya sendiri.

Bukan retorik dalam jumpa pers.

Maaf, kejujuran dan keberanian kiranya bukan dua kualitas yang selalu seiring sejalan.

Bahkan, bisa terjadi yang tergolong terburuk di dunia, yaitu berani untuk tidak jujur.

Bukan berani karena jujur.

Pernyataan tidak enak itu harus dikatakan terutama bila berkaitan dengan uang hasil korupsi. Apakah untuk korupsi diperlukan keberanian?

Atau malah sebaliknya, korupsi sebetulnya produk kejiwaan yang rapuh, yakni mengambil/menerima yang bukan hak?

Sesungguhnya sulit menyetujui perkataan, sesulit membantahnya, bahwa salah satu akar kejahatan ialah cinta uang.

Apakah Amien Rais cinta uang?

Saya percaya tidak. Buktinya, 10 tahun lalu ia membukanya ke publik, menerima dan mengembalikan uang dari Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri yang terbukti korupsi.

Amien Rais mengatakan ia tidak tahu uang itu berasal dari dana nonbujeter Departemen Perikanan dan Kelautan.

Uang yang sekarang sedang dihebohkan, katanya diperolehnya sebagai pemberian/kedermawanan Soetrisno Bachir.

Bukan berkaitan dengan aliran dana dari perkara pengadaan alat kesehatan yang menyebabkan mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menjadi tersangka.

Apakah dalam perkara itu Amien Rais masih tidak cinta uang? Sebuah kepercayaan yang sebaiknya diteguhkan di pengadilan.

Caranya? Amien Rais sebaiknya minta KPK menjadikannya tersangka, atau KPK melakukannya.

Lalu, di pengadilan Amien Rais membuat kagum rakyat, menumbangkan semua tuduhan.

Sesungguhnya yang hendak dicontoh publik bukan tokoh yang kaya dalam harta, terlebih diperoleh dengan serong, melainkan yang kaya dalam kebajikan.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima