Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ASA Firda Inayah adalah oasis dalam belantara media sosial kita yang mencemaskan. Media sosial yang belakangan kerap menampakkan wajah bengis dan sadis. Saling merundung, memaki, sumpah serapah, bahkan fitnah.
Bagi mereka yang tak tahan atau sayang memboroskan energi, untuk sementara memilih menjauh. Namun, Asa Firda yang kini populer dengan nama pena Afi Nihaya Faradisa tetap teguh di situ, justru untuk menjernihkan.
Siswa SMA yang baru menamatkan pendidikan di SMA 1 Gambiran, Banyuwangi, Jawa Timur, ini ingin media sosial kembali pada tujuannya semula; mendekatkan yang saling menjauh. Merekatkan hubungan yang meregang. Ia ingin tulisannya di media sosial bisa menginspirasi.
Tulisan dia berjudul Warisan yang dimuat di laman Facebook miliknya pada 15 Mei silam telah menjadi perbincangan ramai. Begini ia memulai tulisannya, “Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan
bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak. Karena itu, masing-masing mesti saling menghormati ‘kebenaran’ lain.”
Dalam sepekan saja tulisan itu telah di-share 28 ribu kali. Tulisan yang merupakan sebuah respons atas merapuhnya nilai-nilai pluralitas dan keberagaman kita akhir-akhir ini. Ia ingin membawa pesan perdamaian bagi NKRI yang menurut pandangannya kini tengah diguncang isu SARA.
Dalam wawancara dengan sebuah televisi, ia bilang ingin menunjukkan bahwa anak SMA juga bisa memberikan kontribusi bagi bangsanya. Ketika baru membaca tulisan Asa, saya setengah tak percaya. Saya berupaya mencari bukti untuk meyakinkan bahwa Warisan bukan milik orang lain.
Saya simak beberapa status di Facebook-nya dan beberapa rekaman perbicangan dengan pers. Terlebih ketika ia menjadi pembicara dalam Sarasehan Kebangkitan Nasional di Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Malang, makin yakinlah saya, Asa memang cermerlang.
Di depan para akademisi ia mengatakan ia bukan siapa-siapa, tapi ia prihatin Indonesia berdasarkan Pancasila ini sangat mudah dipicu isu SARA agar tercerai-berai. Ia sengaja menggunakan nama samaran karena tidak mengharap keuntungan dari melambungnya nama gadis kelahiran 23 Juli 1998 yang tinggal di Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, 40 km dari Banyuwangi ini.
Ayahnya, Imam Wahyudi, penjual cilok keliling, dan ibunya, Sumarti, sejak setahun lalu kehilangan penglihatan secara total. Imam pernah menyita untuk beberapa hari telepon seluler Asa. Ia khawatir putrinya menjadi korban media sosial.
Kini, justru karena ‘bermain’ telepon seluler itulah Asa jadi populer. Ternyata apa yang ditulis sesuatu yang amat penting bagi bangsa ini yang berada di tubir perpecahan. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas cepat merespons. Ia mengundang Asa makan pagi di kantornya. Ia bangga ada anak desa dari keluarga bersahaja punya pikiran
jauh ke depan.
Untuk menggambarkan betapa kebenaran punya banyak versi, Asa mengutip penyair sufi kelahiran Afghanistan, Jalaluddin Rumi. “Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh.”
Banyak yang memuji Asa, tapi tak sedikit pula yang memaki. Bahkan, ada yang mengancam membunuhnya. Gadis desa ini mengatakan tak jeri. Ia seperti Malala Yousafzai dari Pakistan yang berani melawan Taliban. Kita beruntung punya Asa. Kritis dan punya kepedulian tinggi kepada negerinya. Gadis berhijab ini paham di mana posisi agama dalam negara. Kita wajib menjaganya.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved