Bercerai Baik-Baik

Saur Hutabarat, Dewan Redaksi Media Group
04/5/2017 05:31
Bercerai Baik-Baik
(AFP PHOTO / PHILIPPE HUGUEN)

APAKAH euro bakal bertahan sebagai mata uang tunggal? Pertanyaan itu kembali kian kencang mencuat, seiring dengan kian dekatnya pilpres Prancis putaran kedua, yang berlangsung akhir pekan ini (7 Mei 2017). Rakyat Prancis dihadapkan kepada dua jalan berlawanan. Bila Emmanuel Macron yang terpilih menjadi presiden Prancis, euro diyakini bakal dipertahankan.

Dipertahankan dengan integrasi yang lebih ketat di tingkat Uni Eropa, serta reformasi di dalam negeri sendiri. Tanpa itu semua, katanya, euro tidak bakal langgeng lestari. Sebaliknya, bila Marine Le Pen yang bersinggasana di Istana Elysee. Dunia tahu, Le Pen akan membawa Prancis keluar Uni Eropa, dan tentu selamat tinggal euro. Dampaknya ditengarai lebih parah ketimbang Brexit.

Apakah euro dapat diselamatkan? Siapa pun terpilih menjadi pemimpin di zona itu, tetaplah pertanyaan besar. Itulah yang dijawab pemenang nobel ekonomi Joseph E Stiglitz, dalam buku mutakhirnya, berjudul The Euro and its Threat to the Future of Europe. Buku tebal 454 halaman itu diterbitkan Penguin Random House UK akhir tahun lalu. Stiglitz menulis buku itu bukan gara-gara Brexit.

Ia menjadikan referendum Brexit sebagai kajian penutup (afterword), sekaligus dengan semua dampaknya (aftermath). Sekalipun ada yang menilai referendum yang diselenggarakan 23 Juni 2016 itu merupakan keputusan kebijakan terburuk seorang perdana menteri (PM David Cameron), menurut Stiglitz, Inggris bijak sejak awal tidak ikut euro. Kenapa?

Euro lebih merupakan proyek politik ketimbang proyek ekonomi. Dari segi ekonomi, euro telah cacat sejak lahir. Karena itu, krisis euro hanya soal waktu. Bahkan, katanya, bakal terjadi lagi dalam waktu yang tidak terlalu jauh. Euro diciptakan di atas basis pandangan yang berlebihan menyederhanakan bagaimana ekonomi bekerja. Contohnya, anggaran Uni Eropa hanya 1% dari GDP.

Bandingkan dengan AS, belanja negara federal lebih 20% GDP. Tiap-tiap negara anggota zona euro terkekang kuat. Mereka tidak cukup fleksibel untuk menentukan kebijakan fiskal mereka dalam menghadapi keadaan buruk, untuk menghindar dari resesi yang dalam. Jerman yang dinilai berhasil pun buruk di mata Stiglitz. Sejak 2007, ekonomi Jerman tumbuh 6,8%, yang berarti rata-rata cuma tumbuh 0,8%.

Sebuah angka yang dalam keadaan normal patut dipertimbangkan mendekati gagal. Upah riil pekerja mandek. Bahkan jurang upah antara pekerja lapisan bawah dan menengah, melebar 9% dalam waktu pendek, kurang dari satu dasawarsa. Jerman hanya dinilai 'sukses' karena dibandingkan dengan negara lain dalam zona euro. Kembali ke pertanyaan besar, apakah euro dapat diselamatkan? Jawabnya dapat, harus dapat, tapi tidak dengan ongkos berapa pun.

Untuk itu, zona euro perlu direformasi sedemikian rupa sehingga semua negara di zona tersebut (sekali lagi semua), dapat mencapai dan merawat 'full employment'.
Untuk itu, Stigllitz menyampaikan sejumlah perubahan struktural yang esensial dilakukan, antara lain reformasi kebijakan mengatasi krisis, yaitu pentingnya diskresi dan keluwesan. Pengambil kebijakan di zona euro dinilai lelet mengambil keputusan, baik di dalam negeri maupun dengan sesama negara anggota.

Padahal, ongkos lelet itu 'mahal', memicu dinamika politik yang tidak menyenangkan. Menimbang semua keleletan itu, disarankan pula untuk mulai memikirkan alternatif terhadap mata uang tunggal. Bisakah bercerai dengan damai, dengan baik-baik? Bukan bercerai masing-masing 19 negara kembali bermata uang sendiri, tetapi setidaknya menjadi beberapa (dua atau tiga) mata uang.

Jerman, misalnya, lebih baik bermata uang sendiri, ketimbang negara pinggirannya. Bercerai baik-baik dapat dilakukan dengan Yunani. Atas nama solidaritas Eropa, utangnya diputihkan. Perceraian itu juga demi demokrasi, menghormati keinginan rakyat Yunani untuk berpisah.

Apakah gagasan sang pemenang nobel Joseph E Stiglitz bakal diterima? Kayaknya tidak. Jerman dan pemimpin lainnya di zona euro, hingga saat ini, tegas mengatakan TINA (there is no alternative). Sepertinya mereka lebih suka perceraian yang 'menyakitkan', ketimbang bercerai baik-baik.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.