Siapa Pribumi?

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
11/4/2017 05:31
Siapa Pribumi?
(Thinkstock)

PERBINCANGAN pribumi dan nonpribumi kini muncul kembali. Ia ditarik dalam polarisasi bersuhu (politik) tinggi. Memang politik dan kesenjangan ekonomi itulah pasalnya. Pribumi dipersepsikan sebagai 'pemilik negeri', pejuang, tapi hidupnya menderita. Ia korban. Sementara itu, nonpribumi tak punya kontribusi pada negara dan hidup enak, kaya raya. Pribumi pemilik negeri, sementara nonpribumi ialah para penumpang. Yang jadi bias, nonpribumi hanya ditujukan pada Tionghoa.

Di masa penjajahan, istilah pribumi atawa bumiputra memang punya medan makna politik menyakitkan. Ia terjemahan dari inlander dari bahasa Belanda. Itulah diskriminasi ras yang dikelompokkan dalam Wet op de Indische Staatsregeling (semacam UUD Hindia Belanda). Pasal 163 inilah segregasi rasial tiga tingkat. Pertama Eropa kulit putih. Jepang masuk golongan ini. Kedua Timur Asing, orang Tionghoa, Arab, India, Pakistan, Mesir. Ketiga para 'inlander' (pribumi). Itu amat mirip dengan sistem politik apartheid di Afrika Selatan, dulu.

Dalam alam demokrasi sekarang, pengertian pribumi dan nonpribumi, menurut John Lie (1911-1988), pelaut ulung keturunan Tionghoa, terasa tepat. "Orang pribumi adalah orang-orang yang jelas-jelas membela kepentingan negara dan bangsa, sedangkan nonpribumi adalah mereka yang suka korupsi, suka pungli, suka memeras, dan melakukan subversi. Mereka itu sama juga menusuk kita dari belakang," kata sang laksamana muda yang dijuluki 'Hantu Selat Malaka' itu. Ia ahli ranjau laut ternama. Pada 2009 ia ditahbiskan menjadi pahlawan nasional, namanya diabadikan sebagai nama kapal perang.

'Definisi' John Lie terasa lebih menekankan substansi. Jika bumiputra atau pribumi dan nonpribumi ditarik pada keaslian dan tidak asli, ia menjadi bias dengan realitas hukum kita. Bukankah setelah reformasi, konstitusi kita (UUD 1945) telah meniadakan batas asli dan tidak asli? Yang ada ialah warga negara Indonesia, yang sama kedudukannya di mata hukum.

Itu sebabnya calon presiden dan wakil presiden tak lagi disyaratkan 'orang Indonesia asli' tapi 'warga negara Indonesia sejak kelahirannya dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain'. Kita merasakan polarisasi pribumi dan nonpribumi di masa Orde Baru membuat integrasi nasional kita jadi semu; karenanya rapuh. Reformasi berupaya membuang yang semu agar kita teguh.

Perbincangan tentang klaim pribumi atau penduduk asli juga bisa kehilangan basis historisnya. Menurut Wakil Kepala Lembaga Penelitian Molekuler Eijkman, Prof Dr Herawati Sudoyo, mengacu pada hasil penelitian lembaganya, ternyata hasil penelitian DNA tidak ada satu pun suku di Indonesia ini bisa mengklaim sebagai orang Indonesia asli (Media Indonesia, 6-4-2017). Melalui 70 komunitas di belasan pulau besar seperti Jawa, Sumatra, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Herawati meneliti DNA mitokrondia dan kromosom dari inti yang diturunkan orangtua. Percampuran etnis itu terjadi karena ada beberapa kali migrasi sejak 50 ribu tahun yang lalu.

"Kalau kita lihat orang Indonesia dari informasi genetikanya, asal usulnya, sebagian besar dari Austronesia, lalu Austroasiatik (Tiongkok daratan), Papua, dan India. Penandanya bahwa pribumi dan nonpribumi tidak ada karena orang Indonesia, kalau dilihat dari genetikanya, campuran," jelasnya. Karena itu, yang paling bertuah menghentikan isu pribumi dan nonpribumi ialah kian menipisnya kesenjangan ekonomi. Keadilan sosial juga lekas diwujudkan. Itu amanat konstitusi. Namun, jika pun isu pribumi dan nonpribumi tetap hendak ditiupkan, 'definisi' ala John Lie terasa amat tepat.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.