Populisme Keok

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
23/3/2017 05:31
Populisme Keok
(AP/Yves Herman)

BARANG siapa mengira populisme bakal merasuk lebih luas di Eropa, silakan kecewa berat. Populisme keok di pemilu Belanda. Efek domino Brexit dan kemenangan Donald Trump menjadi presiden AS kandas. Kata Andrew Rosenthal, kolumnis The New York Times, orang Belanda ternyata lebih cerdas ketimbang orang Amerika. Kekalahan Geert Wilders dan kemenangan Perdana Menteri petahana Mark Rutte dalam pemilu Belanda jelas berita bagus bagi yang berpikiran waras.

Wilders mengusung pikiran ‘sinting’ populisme, yaitu bukan hanya antiimigrasi, melainkan juga anti-Islam, menyamakan Quran dengan Mein Kampf-nya Adolf Hitler, dan berkampanye melarang Quran di Belanda. Pikiran antiimigrasi dan anti-Islam Wilders itu juga merupakan pikiran Donald Trump dan Marine Le Pen (Prancis). Karena itu, merebaklah pandangan bahwa kemenangan Trump menjadi presiden AS pada 8 November 2016 merupakan kemenangan populisme yang bakal menular ke pemilu Belanda (9 Maret 2017), Prancis (23 April 2017), dan Jerman (24 September 2017).

Efek domino itu terbukti baru sebatas harapan pengikut kanan-jauh. Populisme keok di Belanda. Populisme yang diusung Party for Freedom, partai Geert Wilders, hanya meraih 13,1% suara atau 20 kursi, sedangkan People’s Party for Freedom and Democracy, partai PM Mark Rutte, meraih 21,3% suara atau 33 kursi.

Kemenangan kanan-tengah itu tidak dengan sendirinya membuat Mark Rutte berkuasa, apalagi dengan mudah kembali menjadi perdana menteri. Untuk membentuk pemerintahan, diperlukan kekuatan mayo­ritas, yaitu sedikitnya 76 dari 150 kursi di parlemen. Padahal, dari 150 kursi parlemen, tidak ada satu pun dari 28 partai yang mendapat suara signifikan besar, bahkan tidak ada yang lebih dari 22%.

Belanda tidak memberlakukan ambang batas parlemen. Hal itu menyebabkan banyak sekali partai. Yang terjadi fragmentasi, tidak ada partai yang sendirian dapat membentuk pemerintahan hasil pemilu. Satu abad pemerintahan Belanda dibentuk dan disusun berdasarkan koalisi yang alot, bahkan berlangsung berbulan-bulan. Namun, partai berideologi populisme dengan garis keras antiimigrasi, anti-Islam, kiranya tidak akan diikutsertakan ke dalam pemerintahan koalisi yang mana pun.

Geert Wilders, 53, sang pemimpin populisme, membahasakan diri­nya sebagai anti-Islam, tetapi tidak antimuslim. Bila dia yang menang, dia akan membawa Belanda menjadi Nethxist, Netherlands keluar dari Uni Eropa. Nyatanya populisme keok sehingga untuk sementara waktu, patahlah optimisme pengagum Trump, yang mencanangkan America First, yang diperkirakan diikuti Netherlands First, lalu French First, dan ditutup dengan pamungkas, Germany First. Puncaknya Uni Eropa bubar.

Kekalahan Geert Wilders kiranya badai bagi Marine Le Pen, bahwa ia pun bakal keok dalam pemilu Prancis. Bila itu terjadi, berpengaruh besar bagi Angela Merkel untuk terpilih kembali menjadi kanselir Jerman. Merkel pembela kaum imigran dan teguh berpendirian mempertahankan eksistensi Uni Eropa.

Kenapa populisme keok di Belanda? Orang Belanda memeluk konservatisme yang kuat. Protestan kawin dengan sesama protestan, yang Katolik kawin dengan sesama Katolik. Akan tetapi, inilah negeri yang kaya multikulturalisme. Contohnya Geert Wilders sendiri, sang pemimpin populisme, ialah seorang Belanda dengan ibu keturunan Indonesia.

Penjelasan lain, bangsa dan negara Belanda berpikir sangat liberal yang diekspresikan antara lain dengan kemudahan bernarkoba dan kebebasan memilih untuk mati (eutanasia). Amsterdam surganya turisme narkoba. Orang yang menderita penyakit tak tersembuhkan secara legal dapat minta izin untuk ‘diselesaikan’ nyawanya secara medis.

Kepercayaan kepada demokrasi dan hak konstitusional warga diperlihatkan dengan betapa mudahnya warga dapat menggunakan hak suara. Warga bisa menggunakan hak pilihnya di stasiun kereta api, supermarket, sekolah, gereja, di gedung-gedung komunitas, termasuk di arena stadion sepak bola. Warga mencontreng di atas kertas, menggunakan pensil merah. Terdapat 8.891 TPS di seluruh Belanda. Umumnya dibuka mulai pukul 07.30 hingga pukul 9 malam. Akan tetapi, ada juga TPS yang buka mulai tengah malam, seperti di dekat kios bunga di Stasiun Kereta Api Castricum (25 kilometer dari Amsterdam).

Pemilu Belanda kali ini dengan partisipasi tertinggi 81% dari sekitar 13 juta warga yang berhak memilih. Tertinggi selama 30 tahun. Partisipasi naik dari 74,6% (Pemilu 2012) bisa jadi dipicu kesadaran orang Belanda tidak mau termakan oleh populisme sesat seperti orang AS, yang kini banyak menyesal memilih Trump. Kesalahan Geert Wilders, kata pakar, disebabkan ia mengimpor bayang-bayang kemenangan Trump.

Keoknya populisme itu tidak boleh meniadakan fakta bahwa sekalipun kalah, partai kanan-jauh meraih tambahan 5 kursi atau 33%. Sebaliknya, partai kanan-tengah, sekalipun menang, kehilangan 8 kursi (19,5%). Populisme kali ini keok di Belanda, tapi tidak modar, bahkan senyatanya terus menggeliat.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima