Minum Teh di Istana

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
16/3/2017 07:31
Minum Teh di Istana
(ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

PENGGEMAR minum kopi boleh 'cemburu' terhadap penggemar minum teh. Minum teh naik pangkat di istana, menjadi modus politik tingkat tinggi ala Presiden Jokowi. Padahal, tidak ada teh darat. Yang ada dan populer ialah kopi darat.
Pada mulanya orang hanya kenal di udara, dahulu via radio, kini melalui media sosial, yang kemudian dilanjutkan dengan pertemuan di darat yang dibahasakan sebagai kopi darat.

Bukan teh darat, sekalipun dalam pertemuan itu yang diseruput bukan kopi, melainkan, misalnya, es teh. Pertemuan di istana sepertinya persis sama, antara sebutan dan minuman. Pertemuan minum teh, benar-benar teh, bukan kopi, bukan pula bir pletok. Jangan salah paham, bir pletok bukan alkohol, melainkan minuman khas orang Betawi, berupa ramuan jahe, daun pandan wangi, serai, diseduh air panas, dinikmati malam hari sebagai penghangat.

Seperti samanya antara sebutan dan minuman, saya percaya pertemuan Presiden Jokowi dengan berbagai tokoh bangsa di istana merupakan pertemuan sesuainya perkataan dan perbuatan. Tiada dusta di antara mereka. Itulah politik minum teh tingkat tinggi, berasaskan saling percaya demi persatuan dan kesatuan. Sudah tentu demi nasib anak bangsa yang lebih baik.

Pertemuan yang terakhir ialah pertemuan Presiden Jokowi dengan pimpinan lembaga negara. Yang dibahas perihal kebijakan perekonomian yang berkaitan dengan redistribusi aset dan reformasi agraria. Pembicaraan tidak ke mana-mana, kata Jokowi. Fokus. Termasuk, tidak membahas perkara KTP-E yang melibatkan salah seorang pemimpin lembaga negara. Apa pasal?

Barangkali para pemimpin lembaga negara itu menghormati asas praduga tidak bersalah. Barangkali mereka diam-diam menyadari perkara itu ranah KPK dan pengadilan. Barangkali mereka taat asas, yaitu berbicara sesuai dengan pokok urusan dalam undangan. Semua itu ialah barangkali, dengan kepercayaan bahwa yang terjadi memang sesuainya antara sebutan dan minuman, bahwa tiada dusta di antara mereka.

Masih ada kemungkinan penjelasan lain. Dalam kopi darat, silakan baca di internet, ada kiat agar tidak bertanya perihal mengapa masih jomlo. Hal itu kiranya berpotensi merusak suasana hati kopi darat. Suasana hati pimpinan lembaga negara pun dapat rusak bila dalam teh darat di istana ada yang bertanya perkara KTP-E. Perbedaan penting kopi darat dan teh darat di istana ialah bahwa mereka itu pejabat publik, yang sesungguhnya sudah tahu rekam jejak.

Dalam hal kopi darat, di pertemuan pertama, semua masih misteri. Karena itu, tidak bijak berkelakuan bak gaharu dan cendana, sudah tahu, bertanya pula. Yang paling menonjol ialah pertemuan minum teh Jokowi dan SBY. Pertemuan Presiden Ketujuh RI dan Presiden Keenam RI itu 'istimewa' karena sejumlah alasan. Pertama, sebelumnya SBY secara terbuka bersuara kencang tentang kegiatan intelijen terhadap dirinya, antara lain tuduhan ia membiayai demo menuntut Ahok diadili.

SBY mengatakan ingin bertemu Jokowi, tetapi dihambat lingkaran dalam istana. Padahal, ia ingin bicara blakblakan dengan Jokowi. Kiranya yang blakblakan itu telah tersalurkan. Apa isinya bukan konsumsi publik, yang penting tiada dusta di antara Presiden RI belum tiga tahun dengan Presiden RI 10 tahun. Pertemuan itu menunjukkan Jokowi tidak enggan, apalagi 'alergis' bertemu SBY, sekaligus menepis penilaian bahwa ada orang dekat Jokowi yang dapat mengatur-atur, menghambat Jokowi bertemu SBY.

Kedua, pertemuan Jokowi-SBY berlangsung setelah putaran pertama pilkada Jakarta, dengan hasil Agus Harimurti Yudhoyono belum beruntung untuk maju ke putaran kedua. SBY terlepas dari keperluan dan kepentingan 'mempromosikan' dan memenangkan putra mahkotanya. Orang pun bebas membaca pertemuan minum teh di istana itu sebagai lembaran yang terbuka, khususnya dalam konteks pilkada Jakarta putaran kedua.

Hasilnya sejumlah pendukung Agus Harimurti Yudhoyono bebas memproklamasikan diri mereka beralih mendukung Ahok-Djarot. SBY kembali ke garis politiknya sebagai penyeimbang. Ia membebaskan pengikutnya. Karena itu, tegakkan moral demokrasi, yaitu pilihlah Gubernur Jakarta dengan riang gembira, apa pun agamamu.

Minum teh di istana menjadi modus politik tingkat tinggi khas Jokowi yang dapat menyejukkan rivalitas politik. Akan tetapi, kopi darat biarlah tetap kopi darat, tak perlu ikut-ikutan berubah menjadi teh darat. Bung, apa pun namanya, yang penting suasana kebatinannya.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima