Agresivitas SBY

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
06/2/2017 05:39
Agresivitas SBY
(MI/Galih Pradipta)

SBY, presiden RI 10 tahun, secara terbuka menyampaikan hasrat hatinya ingin bertemu Jokowi, Presiden RI sekarang.

Katanya, ia ingin bicara blak-blakan dengan Jokowi.

Apa yang ingin disampaikannya?

Katanya, ia ingin membicarakan perihal informasi intelijen yang menuduhnya mendanai aksi 4 November 2016, rencana pengeboman Istana Negara, dan urusan makar.

"Saya ingin klarifikasi dengan niat baik dan tujuan baik supaya tidak menyimpan praduga perasaan enak tidak enak."

SBY curhat kepada publik bahwa Jokowi pun ingin bertemu dengannya, tapi dilarang dua-tiga orang di sekeliling Jokowi.

Pernyataan itu mengundang reaksi Johan Budi, juru bicara Presiden Jokowi, agar SBY menyebut siapa yang dimaksud.

Sekretaris Kabinet Pramono Anung menjawab bahwa Presiden menerima semua pihak yang ingin bertemu, tinggal mengikuti prosedur yang berlaku di Istana Kepresidenan, yaitu melalui Menteri Sekretaris Negara Pratikno.

Akan tetapi, belakangan ada sinyal bahwa pertemuan Jokowi-SBY diagendakan setelah pilkada Jakarta selesai.

SBY jelas sangat berkepentingan dengan pilkada Jakarta karena anak kandungnya, Agus Harimurti Yudhoyono, berpasangan dengan Sylviana Murni, menjadi salah satu calon Gubernur Jakarta.

Demikian tebal dan kental kepentingan memenangkan putra mahkotanya itu sampai-sampai SBY melakukan tiga gaya kampanye sekaligus, yaitu agresif, reaktif, dan berimprovisasi.

Agresivitas yang pertama terjadi pada Rabu, 2 November 2016, melalui konferensi pers di kediamannya di Cikeas.

Salah satu isinya, SBY menekankan bahwa Ahok harus diproses secara hukum karena melakukan penistaan agama.

Jangan sampai Ahok dianggap kebal hukum.

Hal itu harus dilakukan kalau ingin negara kita ini tidak terbakar oleh amarah para penuntut keadilan. Sekadar merujuk, di situlah keluar sebutan 'lebaran kuda'.

Agresivitas kedua terjadi pekan lalu, tepatnya1 Februari 2017, juga dalam jumpa pers, di Kantor Pusat Partai Demokrat di Jalan Proklamasi Jakarta, yang juga markas pemenangan pasangan Agus-Sylvi.

SBY meminta yang berwenang mengusut penyadapan teleponnya.

Selain itu, ia menyampaikan hasratnya untuk bertemu dengan Jokowi.

Agresivitas yang pertama lebih merupakan reaksi SBY atas informasi intelijen bahwa SBY membiayai demo 4/11 yang menuntut Ahok dibawa ke muka hukum.

Agresivitas kedua merupakan reaksi SBY terhadap pertanyaan pengacara Ahok di pengadilan apakah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin menerima telepon dari SBY.

Jelaslah, apa pun kontennya, agresivitas dan reaksi SBY itu semuanya terjadi dalam konteks yang sama, pilkada Jakarta, yakni anaknya Agus menjadi salah satu calon gubernur yang antara lain berhadapan dengan petahana Ahok.

Dalam bahasa lain, sesungguhnya SBY berimprovisasi berkampanye untuk anaknya itu.

Improvisasi itu mendapat panggung sangat istimewa bila Presiden Jokowi mengabulkan permintaan SBY bertemu sebelum pilkada Jakarta berlangsung.

Jokowi harus netral terhadap calon gubernur yang mana pun.

Tidak terkecuali terhadap anak mantan Presiden RI 10 tahun.

Karena itu, dengan penuh hormat kepada SBY, sudah betul pertemuan Jokowi-SBY diselenggarakan setelah pilkada Jakarta.

Bahkan sebaiknya tegas disampaikan kepada publik (semata karena SBY memintanya melalui jumpa pers), bila pilkada Jakarta berlangsung dua putaran, pertemuan Jokowi-SBY itu baru terjadi setelah putaran kedua tuntas.

Tas, tas, tas! Alias, tunggulah penetapan siapa Gubernur Jakarta terpilih oleh KPU Jakarta.

Sekadar saran, baiklah SBY berimprovisasi tanpa perlu agresif dan reaktif. Gunung tinggi atau gunung rendah, tak lari dikejar, betapa pun besar harapan terhadap anak sendiri.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima