Kekayaan Alam

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
04/2/2017 05:04
Kekayaan Alam
(ANTARA)

SETIAP kali berbicara tentang sumber daya alam, kita pantas bersyukur atas berkah yang diberikan kepada bangsa ini.

Di balik rasa syukur, kita pun kemudian sering bertanya, apakah kekayaan alam ini benar-benar merupakan berkah ataukah justru menjadi musibah.

Para pendiri negara ini memimpikan kekayaan alam menjadi modal bagi bangsa ini mencapai kesejahteraan.

Oleh karena itu, di dalam konstitusi dikatakan, kekayaan alam itu dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat.

Bagaimana lalu kita menerjemahkan dan mengimplementasikan mimpi para bapak bangsa itu? Di sinilah kita kemudian kehilangan pegangan.

Kita mempunyai persepsi sendiri-sendiri.

Bahkan akhirnya kita melihat aspek kesejahteraan rakyat itu terabaikan.

Itu tecermin dari angka kesenjangan yang semakin melebar.

Sayangnya, ketika berbicara soal kesenjangan yang semakin melebar, kambing hitamnya ialah investor asing.

Padahal, yang lebih membahayakan ialah penerjemahan dari para pemegang kekuasaan yang memberikan pengelolaan sumber daya alam itu kepada kelompok kepentingan mereka saja.

Sekarang ini kita sebenarnya sedang dihadapkan pada ancaman krisis energi.

Kebutuhan energi jauh lebih besar daripada produksi yang bisa kita hasilkan.

Pada 2025 mendatang, kekurangan pasokan energi bisa mencapai 2 juta barel ekuivalen minyak per hari.

Ketika harga minyak rendah seperti sekarang, anggaran negara masih bisa menutupinya.

Akan tetapi, ketika nanti harga minyak bergerak naik, yang menurut perkiraan Wood MacKenzie tahun ini akan bergerak ke US$57 per barel, artinya setiap hari kita harus mengeluarkan devisa Rp2 triliun untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

Satu tahun akan lebih dari Rp700 triliun devisa harus kita keluarkan dan itu berarti dua kali anggaran pembangunan infrastruktur yang tahun ini kita anggarkan.

Kita sebenarnya masih memiliki lebih dari 70 blok minyak dan gas yang bisa dieksplorasi. Namun, dibutuhkan biaya besar untuk kegiatan itu.

Ketika kemampuan pembiayaan nasional terbatas, kita bisa sebenarnya mengundang investor asing untuk berpartisipasi.

Akan tetapi, kita ragu untuk membuat iklim investasi yang menarik orang untuk menanamkan modalnya.

Inilah salah satu contoh kegamangan yang kita hadapi.

Kita lupa untuk menempatkan energi sebagai faktor pendorong pembangunan, bukan lagi sumber penerimaan negara seperti era Orde Baru dulu.

Karena itu bukan lagi sumber penerimaan utama negara, manfaat bagi kesejahteraan rakyat seharusnya dilihat bukan lagi dari nilai rupiah yang didapat, melainkan multiplier effect yang bisa dirasakan rakyat.

Hal yang sama berlaku untuk pengelolaan tambang.

Saudara kita di Papua selama ini hidup dari sektor tambang dan migas.

Satu-satunya tambang yang beroperasi di sana adalah PT Freeport Indonesia, sedangkan blok gas Tangguh ditangani British Petroleum.

Sekarang ada pemikiran untuk mengambil alih 51% kepemilikan saham Freeport seperti tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 1/2017.

Tidak ada yang salah dengan keinginan itu.

Namun, semua itu ada tahapannya dan tidak sekali jadi.

Pada masa transisi seperti sekarang, bagaimana nasib warga Papua yang hidupnya bergantung pada kegiatan Freeport?

Dengan larangan ekspor saja, Freeport memutuskan untuk mengurangi produksi menjadi tinggal 40%.

Akibatnya, otomatis akan ada pengurangan kegiatan di lokasi tambang.

Ketika tidak ada alternatif lapangan pekerjaan pengganti, wajar masyarakat di Papua menjadi resah.

Keuangan pemerintah daerah saja sekarang ini langsung terganggu.

Penerimaan negara dari hasil tambang pun langsung menciut.

Ketika hal-hal seperti itu tidak diperhitungkan, yang rusak kredibilitas pemerintah sendiri.

Sekarang ada rencana untuk memberikan izin ekspor konsentrat sementara karena dampak sosial dan ekonominya ternyata terlalu mahal.

Kita perlu membuat definisi baru soal kesejahteraan rakyat dari kekayaan alam agar semua ini tidak menjadi musibah.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.