Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN RI 10 tahun (begitu SBY suka membahasakan dirinya) berdoa perihal hoax di Twitter.
Isinya, "Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar "hoax" berkuasa & merajalela. Kapan rakyat & yg lemah menang?"
Doa di Twitter itu mendapat tanggapan, "pak kalo berdoa di twitter pastikan dulu Tuhannya follow bapak," yang ditutup dengan salam dua jari.
Tanggapan itu berlogika, bagaimana doa itu sampai bila Tuhannya tidak follow SBY di Twitter?
Seorang teman mengirim semua itu ke WA saya, diberi komentar pendek, "Lucu."
Teman yang lain yang sedang belajar berhenti merokok, mengirim pesan yang sama, dengan komentar, "Ya Allah Tuhan Yang Maha Esaaa... Begini amat rasanya hidup tanpa rokok."
Ada teman yang menanggapinya dengan mengirim pesan serius dari seorang tokoh, pemikir, penyair, pemimpin redaksi, Goenawan Mohamad.
Isinya, "Dgn hormat, fitnah dan hoax itu sudah menggila di Pilpres 2014, terutama thd @jokowi. Lewat "Obor Rakyat". Bisa cek ke Andi Arif. Tksh."
Andi yang dimaksud kiranya Andi Arief, staf khusus Presiden SBY.
Sehari kemudian, untuk memperjelas konteks dan konten, teman yang sama mengirim kicauan Andi Arief.
Bunyinya, "Setelah Ibu Sylvi harusnya Ibu Iriana Jokowi juga diperiksa, bukankah juga sebagai penerima Dana bansos 2013 sebagai ketus Dharma wanita?" Kutipan itu sesuai aslinya, termasuk salah ketik, 'ketus' untuk 'ketua'.
Publik tahu, merupakan fakta hukum bahwa Sylviana Murni, calon Wakil Gubernur DKI Jakarta yang berpasangan dengan calon gubernur Agus Harimurti Yudhoyono, diperiksa Bareskrim Polri.
Itu bukan hoax, bukan fitnah.
Sebaliknya, tentang Ibu Iriana Jokowi, bukan fakta hukum, melainkan pernyataan hipotetis, bahkan pertanyaan retoris.
Hoax tentu saja urusan horisontal, kepada sesama manusia, antara lain urusan polisi kepada manusia pencipta kebohongan.
Adapun doa urusan vertikal, berkomunikasi ke atas, kepada Sang Pencipta Langit dan Bumi.
Ketika urusan kebohongan itu diadukan oleh seorang mantan presiden 10 tahun kepada Sang Maha Pencipta melalui Twitter, berhamburanlah reaksi berupa olok-olok.
Sesungguhnya doa perbuatan khusyuk orang beriman.
Kekhusyukan itu bahkan hendak dicapai antara lain dengan mematikan handphone, sendiri di bilik tertutup.
Tak seorang pun tahu apa yang disampaikan dalam doa, kecuali Sang Penerima, Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam perspektif itu, mengolok-olok doa maupun orang yang berdoa dengan khusyuk, kiranya perbuatan yang tidak dikehendaki Tuhan.
Berdoa melalui Twitter, hemat saya, lebih ditujukan kepada publik, yaitu manusia penghuni di dunia maya (netizen), ketimbang kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Apakah doa macam itu diterima Tuhan?
Ampun Tuhan, hamba terlalu lancang.
Siapa saya gerangan, tahu tanggapan Tuhan atas perkara tersebut?
Tapi saya yakin mereka yang mengolok-olok doa SBY itu, tahu benar kenapa mereka melakukannya.
Olok-olok melalui media sosial itu rasanya merupakan sentilan sosial terhadap SBY.
Hal itu diperkuat dengan munculnya anjuran agar SBY meniru mantan Presiden Habibie, yang dibahasakan sebagai 'pandito', yang tidak pernah berkomentar buruk terhadap pemerintahan presiden sesudahnya.
Pemimpin itu tempat mencontoh yang baik, bajik, dan bijak.
Bukan sasaran olok-olok.
Kiranya SBY tahu betul batas antara dipuji dan diolok-olok.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved