Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KITA memasuki tahun ayam api. Seperti lagak ayam jantan, inilah tahun sejumlah pemimpin negara ditengarai membusungkan dada, menjalan kan kebijakan garis keras. Ada tanda-tanda ramalan itu benar, hanya beberapa hari sebelum 2016 tutup buku, Presiden AS Barack Obama mengusir 35 diplomat Rusia dan menutup dua tempat di New York dan Maryland yang biasa dipakai rekreasi keluarga diplomat Rusia di AS.
Semua itu gara-gara Obama yakin bahwa Rusia berperan memenangkan Donald Trump dengan cara antara lain menyerang Komite Partai Demokrat. Dua tempat itu dinyatakan cuma kedok rekreasi, senyatanya dipakai sebagai markas melakukan serangan maya. Presiden Rusia Vladimir Putin tidak terpengaruh atmosfer ayam api.
Ia tidak membalas api yang di nyalakan Obama. Katanya, membalas Obama dengan mengusir diplomat AS dari Rusia merupakan perbuatan merendahkan. Putin malah mempersilakan diplomat AS dan keluarganya merayakan Natal dan Tahun Baru di Kremlin. Rusia tidak melakukan diplomasi tit-for-tat.
Putin menunggu kebijakan Trump yang bakal resmi menjadi presiden AS pada 20 Januari 2017. Trump sendiri berkicau menyebut Putin sebagai orang cerdas. Sepertinya lagak dua ayam jantan itu cocok, karena itu saling mengempeskan dada. Apakah orang boleh membuang jauh-jauh pikiran bahwa Perang Dingin tak akan terulang?
Garis keras tak lenyap. Trump berkemungkinan melakukannya terhadap Tiongkok. Apakah ayam jantan yang satu ini, Presiden Xi Jinping akan menunjukkan lagaknya, membusungkan dadanya? Entahlah. Kayaknya tidak berlaku nasihat yang waras mengalah, karena berbeda ukuran kewarasan.
Rusia diperkirakan kian gencar menyerang demokrasi Barat. Sasaran berikutnya negara Uni Eropa, yaitu Jerman, Italia, Belanda, Prancis yang bakal pemilu. Bila yang terpilih pemimpin garis keras, semua negara itu ditengarai mengikuti Brexit.
Itu berarti habislah sekutu sejati AS. Dalam perspektif itu, pengusiran 35 diplomat Rusia lebih merupakan peringatan 'lunak' Obama agar yang mereka lakukan terhadap pilpres AS, tidak dilakukan di Uni Eropa. Pemimpin negara manakah yang menjamin negaranya kebal serangan maya?
Baiklah Obama menyesali dirinya bahwa delapan tahun di bawah kekuasaannya, negaranya yang adikuasa kebobolan serangan maya, sampai-sampai demokrasi yang diagungkan menghasilkan Presiden Trump yang mungkin menghancurkan warisan Obama yang gemilang sekalipun.
Hemat saya, seandainya Obama diperpanjang menjadi presiden, AS tetap tak kuasa melawan serangan maya Rusia. Terasa merendahkan? Tidak. AS patuh pada hak intelektual, Rusia tidak. Kecerdasan siapa pun dicurinya, termasuk kecerdasan dunia maya.
Berkat pencurian itu, via internet kita bisa membaca gratis jutaan buku di perpustakaan terbesar di jagat raya. Menguasai angkasa luar masih merupakan perlombaan prestisius, namun penguasaan teknologi dengan produk strategis serangan maya lebih urgen bagi AS.
Sebagai gambaran, ada yang berpendapat hanya tiga negara, Rusia, Tiongkok, Iran atau Korea Utara, yang jagoan dalam serangan maya. Di dunia yang terhubungkan internet praktis tidak ada lagi negara yang tidak rentan serangan maya. Kian canggih kecerdasan teknologi, kian tak terlacak pemerintah negara mana yang menyerang dan pemerintah negara mana yang akan diserang.
Maaf, kita termasuk paling rentan. Ujaran kebencian dan berita bohong yang terjadi selama ini kiranya perlu menjadi pembelajaran bahwa sesama anak bangsa sangat mudah untuk dipecah belah dengan serangan maya. Begitu mengkhawatirkan, sampai-sampai NKRI perlu digelorakan kembali. Jelaslah kecerdasan berideologi Pancasila sangat diperlukan.
Belum lagi serangan maya yang mampu mema damkan listrik sebuah negara sehingga perdagangan/transaksi via internet terputus. Negara itu bisa bangkrut secara ekonomi. Bayangkan saja, ada smartphone, lalu ada smarthome, dan tentu smartstate yang canggih menyerang jaringan listrik negara lain.
Teknologi tidak bebas nilai, apalagi bebas ideologi. Betapa pentingnya menjadi negara berkecerdasan ganda ideologi dan teknologi. Tahun ayam api yang kita masuki dan jalani kiranya mengingatkan semua itu.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved