Fake News

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
22/12/2016 05:31
Fake News
(AFP PHOTO / Justin TALLIS)

FACEBOOK tengah menghadapi persoalan besar menyangkut fake news, berita bohong, yang disebarluaskan melalui media sosial tersebut. Berita bohong itu diproduksi di masa pilpres AS yang ditengarai menjadi salah satu faktor yang membuat Donald Trump menang. Contohnya, Trump didukung aktor dan produser Denzel Washington dan Robert De Niro, bahkan Paus Fransiskus.

Sebaliknya, Hillary Clinton diberitakan menjual senjata kepada IS dan terindikasi melakukan pengkhianatan terhadap negara. Semua berita itu tidak benar, bohong, tetapi di-share jutaan orang melalui Facebook. Sebuah riset menunjukkan, selama tiga bulan pilpres AS, sebanyak 20 berita bohong paling top di-share 8,71 juta di Facebook, sedangkan 20 berita top karya jurnalisme tepercaya dari media utama hanya di-share 7,36 juta.

Dampak buruk berita bohong via Facebook di pilpres AS itu membuat berang politisi Jerman. Mereka kini berupaya 'menghajar' Facebook agar berita bohong seperti dalam pilpres AS itu tidak terjadi di negara mereka yang bakal menyelenggarakan Pemilu 2017. Pemimpin Partai Sosial Demokrat Jerman, Thomas Oppermann, menyeru kepada negaranya agar mengambil sikap tegas dan keras terhadap Facebook.

Sikap itu berupa denda sangat berat, yaitu Facebook membayar 500 ribu euro untuk setiap item berita bohong. Andaikan 10 saja berita bohong sehari diproduksi orang dan disebarkan melalui Facebook, media sosial itu terancam denda 5 juta euro sehari, 150 juta euro sebulan, atau 1,8 miliar euro setahun. Berapa dendanya kalau 20 berita? Denda yang bisa bikin bangkrut Facebook atau terpaksa hengkang dari Jerman.

Usulan denda amat berat itu akan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan yang baru, yang bakal dibahas setelah reses Natal. "Kita tidak boleh anggap enteng apa yang terjadi," kata Kanselir Angela Merkel. "Populisme dan ekstrem politik sedang tumbuh di dalam demokrasi Barat." Kiranya sikap keras Jerman itu bakal diikuti negara Eropa lainnya, sebab berita bohong diyakini bakal merusak demokrasi.

Akan tetapi, bukan hanya negara-negara bersendikan demokrasi, yang menjunjung tinggi kebebasan pers, yang bakal menghajar Facebook. Pukulan paling keras dilayangkan negara komunis Tiongkok, sebuah negara raksasa dari segi pasar pengguna Facebook. Karena itu, sebelum berita bohong meledak dalam pilpres AS, Facebook telah mengambil langkah untuk eksis di Tiongkok, yaitu membuat teknologi penyaring berita yang disebarluaskan di Tiongkok.

Sesungguhnya Tiongkok tidak ada urusan dengan hak publik untuk tahu. Berita benar diberedel, apalagi berita bohong yang disebarluaskan melalui media sosial yang dinilai membahayakan negara. Negara satu-satunya pemilik kebenaran, juga pemonopoli kebohongan. Mampukah Tiongkok mengawasi dan mengontrol warganya di era digital ini? Mampukah negara komunis itu memberedel kontrol sosial melalui media sosial?

Yang waras sebaiknya percaya, meminjam penilaian The Economist, Tiongkok di bawah kepemimpinan Xi Jinping bakal menjadi negara totaliter digital. Bos Facebook, Mark Zuckerberg, kayaknya sadar memilih berkompromi demi pasar besar Tiongkok. Namun, ia berbeda langkah terhadap negara demokrasi. Katanya, Facebook berupaya mengatasi masalah penyebarluasan misinformasi, tetapi tidak akan melakukan verifikasi terhadap informasi itu sendiri karena tidak mau menjadi 'pengadil kebenaran'.

Indonesia tergolong pengguna Facebook terkemuka. Karena itu, pertama kiranya perlu sosialisasi melek digital yang meluas. Kedua, bukankah berita yang benar hanya dihasilkan media dengan standar jurnalisme tinggi? Karena itu, warga hendaknya menjadikannya acuan. Ketiga, perlu dipikirkan, tak hanya pembuat dan penyebar ujaran kebencian diancam hukuman pidana, tetapi seperti Jerman, pemerintah juga dapat menghukum denda media sosial yang dipakai menyebarkan berita bohong.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima