Orang Hebat

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
01/12/2016 05:30
Orang Hebat
(ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

SETYA Novanto kembali menjadi Ketua DPR. Semua terjadi dalam tempo sesingkat- singkatnya. Bahwa dia mengucap sumpah jabatan sampai tiga kali diulang karena salah, publik kiranya hanya punya satu pilihan, harap maklum. Apakah Ade Komarudin tersingkir atau disingkirkan dari jabatan Ketua DPR, bukan pertanyaan yang relevan. Siapa yang tahan digebuk dari dua sisi, politik dan etika sekaligus? Umumnya kle nger. Kiranya tak kecuali seorang Ade Komarudin, tumbang. Semula publik mengira pernyataan Ade Komarudin yang panjang lebar berisi ‘aku rapopo’ (aku tidak apa-apa) mencerminkan dia legowo.

Ternyata tidak. Dia membantahnya, bahwa dia tidak pernah mengatakan legowo. Yang dia bilang, dia akan mematuhi per aturan. Setelah mengatakan rapopo, faktanya ia tidak langsung mengundurkan diri dari jabat an Ketua DPR. Ia masih menawar agar tidak terburu-buru karena ia akan berobat ke Singapura. Ia tidak memilih lebih dulu melepaskan ja batan untuk leluasa berobat. Terjadilah pergantian jabatan seperti secepat kilat. Bukan saja karena partainya, Golkar, memberhentikan Ade dari jabatan Ketua DPR, melainkan juga karena Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) memutuskan Ade bersalah dan karena itu ia dipecat dari kedudukannya selaku Ketua DPR.

Ia dinyatakan bersalah karena dua hal. Pertama, memberikan persetujuan rapat sem bilan BUMN dengan Komisi XI tanpa sepengetahuan Komisi VI, mitra kerjanya. Kedua, mengulur waktu dalam pembahasan RUU Pertembakauan. Apa bedanya dengan Setya Novanto, yang juga bersalah dalam perkara papa minta saham? Bedanya, Setya Novanto tidak menanti di vonis, tidak menunggu sampai dipecat dari kedudukan Ketua DPR. Ia sigap dan lincah me milih mengundurkan diri. Pengunduran di rinya itu memuaskan publik.

Novanto bukan hanya sigap dan lincah ketika tersesak dan terdesak, terlebih setelah longgar bernapas. Ia bermanuver, terpilih men jadi Ketua Umum Partai Golkar. Akalnya ru panya tak kunjung istirahat untuk memulihkan kedudukannya. Ia lalu mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi (MK) bahwa rekaman tidak dapat dijadikan bukti. MK pun tidak kehabisan akal, mengabulkannya. Maka gugurlah semua bangunan fakta dan argumentasi MKD, yang mengadili Setya Novanto berdasarkan rekaman pembicaraannya dengan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin.

Berdasarkan semua itu, Setya Novanto mengajukan peninjauan kembali ke MKD agar harkat dan martabat serta nama baiknya dipulihkan. MKD mengabulkannya. Setya Novanto bersih kembali. Setelah itu, terbentanglah jalan tanpa hambatan. Dalam kedudukan yang lebih kuat sebagai Ketua Umum Golkar, ia kembali menduduki kursi Ketua DPR. Publik tidak tahu apa dosa besar Ade Komarudin sehingga ia begitu rapuh dan gampang benar dihabisi. Padahal, ia saat ini Ketua Umum Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI), salah satu pendiri Golkar.

Yang jelas, semua fraksi di DPR setuju pergantian Ketua DPR, dengan alasan hak Golkar untuk mengganti orangnya. Sebuah argumen yang menjadi ganjil karena Fahri Hamzah tidak tergantikan selaku Wakil Ketua DPR, sekalipun partainya, PKS, memutuskan mencopotnya. Setya Novanto hebat dengan seluruh manuvernya, dapat menguasai partainya, membelokkan Golkar dari oposisi menjadi koalisi, dan mengembalikan kedudukannya sebagai Ketua DPR. Fahri Hamzah? Ia hebat karena dapat mengalahkan partainya di pengadilan dan tetap bertahan dalam kedudukannya selaku Wakil Ketua DPR. Ade Komarudin? ‘Aku rapopo’, kata dia, semoga kesehatannya pun hebat, ‘raono masalah’.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima