Ada Apa dengan SBY

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
03/11/2016 05:31
Ada Apa dengan SBY
(MI/ BARY FATHAHILAH)

BEGITU membaca berita SBY mendatangi Menko Polhukam Wiranto (Selasa, 1/10), spontan terlontar komentar dari mulut saya, “Turun gunung nih ye....” Tapi buat apa SBY turun gunung? Aneh benar bagi ke cerdasan publik, Wiranto-SBY berbicara perihal bulu tangkis. Wiranto me mang baru terpilih menjadi Ketua Umum PBSI. Namun, di zaman masih menjadi presiden sekalipun, SBY tidak heboh-heboh amat memperhatikan terpilihnya Ketua Umum PBSI yang baru.

Hubungan Wiranto-SBY pun bukan hubungan yang dekat-dekat amat, bahkan pernah bersaing dalam pilpres. Karena itu, pertemuan Wiranto-SBY itu patut diendus karena urusan besar. Malamnya, SBY malah membuat berita lebih menarik lagi. Ia mengunjungi JK di kediaman resmi wakil presiden. Terjadilah pertemuan empat mata, yang tidak diketahui publik entah
apa isinya. Pertemuan yang aneh.

Setelah SBY tidak lagi menggandeng JK sebagai wapres, hemat saya, praktis hubungan mereka hubungan yang biasa-biasa saja. Bukan hubungan yang hangat, bukan pula dingin. Bahwa tiba-tiba seperti mesra kembali, patut pula diendus karena urusan besar. Terlebih, karena dalam sehari itu (Selasa, 1 November 2016), SBY melakukan dua kunjungan yang ‘abnormal’. Normalnya ialah SBY menjadikan kediamannya di Cikeas sebagai pusat kekuasaan tersendiri, ‘sebuah puncak gunung’, tempat ia menerima para tokoh.

Itulah sebabnya, saya spontan membahasakan kunjungannya ke Wiranto dan JK, sebagai turun gunung. Tapi apa ge rangan penyebabnya? Perkara besar apakah yang membuat ia turun gunung? Kemarin, semuanya dijawab sendiri oleh SBY di Cikeas, kembali ke SBY yang seasli-aslinya. Dua urusan besar yang disampaikannya di situ ialah perihal demonstrasi yang ramai diperbincangkan bakal digelar besok (4/11), serta ihwal intelijen. Soal demonstrasi, antara lain, ia bicara bahwa unjuk rasa bukan kejahatan politik.

Unjuk rasa bagian dari demokrasi, asalkan tidak anarkistis. Pendapat standar, normatif. Yang menyita perhatian dan membuat orang terheran-heran, ketika SBY bicara mengenai intelijen, berkali-kali, antara lain, katanya, intelijen harus akurat, jangan berkembang menjadi intelijen yang ngawur dan main tuduh. Katanya lagi, intelijen dulu juga tidak mu dah melaporkan kepadanya sesuatu yang tidak akurat.

“Dulu saya tidak pernah dengan mudah menuduh ada orang besar mendanai aksi-aksi unjuk rasa, ada orang besar menggerakkan unjuk rasa.” Suka atau tidak suka, pernyataannya itu justru mengarahkan publik bertanya-tanya, ada apa dengan SBY? Siapa orang besar yang dituduh mendanai demontrasi itu? Tidakkah SBY sendiri orang besar itu? Ia lalu bicara tentang rekomendasi Tim Pencari Fakta Kasus Munir, yang katanya bola sekarang di tangan Presiden Jokowi.

Panjang lebar ia menyebut fitnah kekayaannya Rp9 triliun. Juga tentang rumah pemberian negara, yang luas tanahnya kurang 1.500 m2, tapi disebutsebut 3.000 m2 persegi bahkan 5.000 m2. Semua pernyataan dari Cikeas itu disertai nada yang tinggi, yang sedikit banyak diekspresikan dalam suasana kebatinan yang keruh. Terjadi sejumlah selip kata, yang disebutnya sendiri karena kurang minum. Padahal, SBY merupakan tokoh yang tutur katanya teratur dan pikirannya runtut. Ia pun beberapa kali mencopot dan membersihkan kacamatanya.

Semua itu menimbulkan pertanyaan, ada apa dengan SBY? Maaf, jawabnya SBY masih jauh dari madeg pandito ratu, ‘menyepi’ hanya untuk memberi nasihat kepada yang membutuhkan. Sepuluh tahun menjadi presiden, terlama di alam demokrasi, tetapi ia masih diliputi dan dikeruhkan oleh hiruk pikuk kekuasaan. Sesungguhnya, sekali lagi maaf, ia malah kian menjauh dari figur negarawan.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.