Giving

18/5/2015 00:00
Giving
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

DALAM hal memberi (giving), siapakah lebih hebat Bill Clinton atau Abdul Sukur?

Maaf, saya tidak bermaksud mengejek atau merendahkan mantan presiden AS itu karena membandingkannya dengan Pak Dul, tukang becak di Surabaya.

Inspirasi membandingkan mereka datang setelah menyimak berita Pak Dul di Metro TV, pekan lalu. Padahal, tak ada inspirasi jatuh dari langit. Jejaknya dapat dicari dalam realitas.

Dari bawah sadar rupanya mencuat, pemicu perbandingan itu tak lain tak bukan Bill Clinton melalui bukunya, Giving. Seperti judulnya, buku itu pun pemberian seorang teman. Di buku 293 + xii halaman, versi Indonesia terbit 2010, Clinton berbagi pengalaman.

"Buku ini saya tulis untuk mendorong kita semua memberikan apa pun yang dapat kita berikan karena setiap orang dapat memberikan sesuatu."

Semua kita tahu sesuatu itu antara lain uang. Contoh paling kolosal, menurut Clinton, ialah Yayasan Bill dan Melinda Gates. Keluarga Gates memberikan US$35 miliar kepada yayasan itu untuk menangani berbagai masalah.

Clinton tak bisa melupakan apa yang diucapkan Bill Gates di sebuah konferensi dermawan yang disponsori Hillary dan Clinton di Gedung Putih pada 2000.

"Barangkali memberikan uang yang sekarang kita miliki terasa lebih sulit daripada ketika kita mencarinya," kata Gates.

Clinton menelepon Warren Buffet, orang terkaya kedua di AS. Ia bertanya mengapa Warren memberikan sebagian hartanya sebesar US$30 miliar kepada Yayasan Bill dan Melinda Gates.

Jawab Warren, "Saya percaya Bill dan Melinda dapat memanfaatkan uang saya dengan lebih baik daripada saya sendiri."

Tentu saja sedikit orang sekaya Gates dan Warren yang memberi uang puluhan miliar dolar AS alias ratusan triliun rupiah. Akan tetapi, menurut Clinton, siapa pun dapat memberi sesuatu entah waktu, barang, keterampilan, memberi yang melahirkan pemberian.

Kembali ke pertanyaan awal, siapakah lebih hebat Bill Clinton atau Abdul Sukur?

Seraya mengayuh becaknya membawa penumpang, Pak Dul memperhatikan dan mengingat jalan berlubang yang dilewatinya. Seusai mencari nafkah, di tengah malam, becaknya berganti penumpang. Bukan orang, melainkan bongkahan aspal bekas dan bebatuan.

Ia mengayuh becaknya menuju lubang yang telah ditandai dalam ingatannya. Ia menutup lubang itu agar tidak ada orang celaka. Perbuatannya diejek sesama tukang becak. Abdul Sukur bergeming, 10 tahun ia melakukannya. Siapakah lebih hebat Pak Dul atau Clinton? Sebaiknya Clinton menjawabnya. Katanya, setelah masa jabatannya di Gedung Putih berakhir, ia wajib memberi.

Mengapa?

Dunia politik yang telah menyita usianya sebenarnya ialah urusan 'memperoleh', yaitu dukungan, sumbangan, suara.

"Namun, untuk orang yang sudah terjun di dunia politik begitu lama seperti saya kurang bijaksana jika tidak berpikir bahwa Anda harus memberi lebih banyak lagi untuk menyeimbangkan neraca."

Karena itu, di sisa umurnya, Clinton memberikan waktu, uang, dan keterampilannya untuk usaha yang dapat menciptakan perubahan.

Abdul Sukur juga membuat perubahan. Jalan berlubang menjadi tertutup.

Clinton memberi untuk menyeimbangkan neraca. Sebaliknya, Pak Dul tak kenal neraca, bahkan menolak dibuatkan neraca. Ia menolak pemberian uang. Ia memilih memberi daripada memperoleh.

Abdul Sukur kiranya tak pernah membaca buku Clinton tentang memberi. Pak Dul ialah buku Giving itu sendiri. Buku kehidupan.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima