Politisasi MKD

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
17/10/2016 05:31
Politisasi MKD
(MI/MOHAMAD IRFAN)

MAHKAMAH Kehormatan Dewan (MKD) bisa menjadi mahkamah penjagalan Ketua DPR. Terdengar sadis? Memang! Korban penjagalan pertama ialah Ketua DPR Setya Novanto gara-gara kasus papa minta saham. Korban pejagalan kedua yang tengah diincar ialah Ade Komarudin, Ketua DPR sekarang. Ade diduga melakukan pelanggaran kode etik di dalam urusan yang lazim dipersepsikan ‘gemuk’, yaitu urusan penyertaan modal negara di BUMN, yang merupakan urusan Komisi VI. Sebanyak 36 anggota Komisi VI dari semua fraksi melaporkan Ade kepada MKD.

Pengadilan kasus papa minta saham di MKD menunjukkan terjadi pelanggaran etik. Novanto lengser dari kedudukannya. Namun, hari belum kiamat. Novanto bahkan naik pangkat lebih tinggi menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Lebih tinggi karena fraksi di parlemen perpanjangan tangan partai. Dalam posisinya selaku Ketua Umum Golkar, banyaklah yang dapat dikerjakan Novanto. Yang paling mencolok ia bakal mengusung Jokowi menjadi presiden jilid 2.

Yang paling seru, permohonannya dikabulkan Mahkamah Konstitusi, bahwa alat bukti rekaman elektronik dalam persidangan MKD tidak sah. Padahal, Menteri ESDM Sudirman Said menjadikan rekaman pembicaraan Novanto dengan Presiden Direktur PT Freeport Maroef Sjamsoeddin sebagai bukti utama. Berdasarkan putusan MK itu, Novanto mengajukan peninjauan kembali proses persidangan atas perkara pengaduan Sudirman. MKD mengabulkannya, memulihkan harkat dan martabat serta nama baik Setya Novanto.

Setelah semua rehabilitasi itu, apa yang aneh jika Novanto ingin kembali menjadi Ketua DPR? Untuk itu, Ade mesti lebih dulu ‘dikerjain’, disidang MKD. Sejarah Novanto kiranya diharapkan terulang. Ade diharapkan tersingkir dari jabatan Ketua DPR. Skenario tersebut karangan saya, merupakan upaya menerjemahkan, me reka-reka, lalu mengonstruksikan secara gamblang kira-kira apa yang di maksud dengan per nyataan Wakil Ketua MKD Sa rifuddin Suding bahwa, “Kami tidak mau MKD jadi alat untuk di politisasi karena adanya gejolak di internal Golkar.”

Terutama berkaitan dengan direhabilitasinya nama baik Novanto. MKD alat DPR. Parlemen di mana pun lembaga politik. Kelahiran MKD sebetulnya lebih sebagai alat politik DPR untuk membentengi anggotanya dari jerat hukum. Namun, fakta tertangkap basah oleh KPK menjebol benteng itu. Kasus papa minta saham pun tak terbendung lebih karena bertubi-tubinya tekanan opini publik.

Apakah kasus Ade ‘sedramatik’ itu? Apakah publik peduli? Orang kiranya cuma mau menonton pertunjukan, siapakah lebih kuat, Ketua Umum Golkar Setya Novanto atau Ketua DPR asal Golkar Ade Komarudin? Pertunjukan politisasi MKD untuk kategori lucu-lucuan. Sebagai perbandingan, ambillah urusan mudah, tapi serius. Sekalipun gamblang pelanggaran etika, MKD ogah mengadili anggota DPR pemalas, pembolos.

Cari aman, MKD mengembalikannya ke partai masing-masing. Kenapa? Bila per kara anggota DPR pemalas diadili, mungkin terlalu banyak yang divonis bersalah. Siapa tersisa di Se nayan? Karena itu, lucu-lucuan politisasi MKD lebih dipilih daripada menegakkan disiplin wakil rakyat yang terhormat.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.