Aklamasi Vs Kompetisi

11/5/2015 00:00
Aklamasi Vs Kompetisi
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

NEGARA ini tak kelebihan pemimpin. Partai pun tak kekurangan pemimpin. Bahkan banyak yang berhasrat menjadi ketua umum. Kabar gembira lain, animo itu tak berkaitan dengan kekuasaan di pemerintahan.

Partai Demokrat tak lagi berkuasa, minat menjadi ketua umum tetap bergelora, bahkan menimbulkan tantangan internal, apakah ketua umum dipilih melalui kompetisi-kontestasi atau aklamasi. Bukan pilihan gampang karena ada yang bergairah dan berani bersaing melawan SBY lewat kompetisi terbuka. Sebaliknya, ada yang berpandangan tiada guna berkompetisi karena SBY didukung pemilik 90% suara. Daripada menghabiskan waktu dan energi lebih baik aklamasi.

Partai Demokrat partai modern yang ketika SBY di pemerintahan justru mengambil jalan kompetisi untuk memilih ketua umum. SBY bahkan tidak menunjukkan preferensi sekalipun anaknya, Ibas, di kubu Andi Mallarangeng. Andi dan Marzuki Alie kalah, Anas Urbaningrum menang. Namun, kepemimpinan Anas berakhir tragis karena menjadi terpidana korupsi. Juga Andi. Alhasil regenerasi gagal.

Anas tampaknya sakit hati. Padahal, ia bukan kader pepesan kosong tanpa pengikut dan pendukung. Partai Demokrat memerlukan konsolidasi intensif. Untuk itu, terpenting bukan menghasilkan ketua umum buah kongres kompetisi-kontestasi, melainkan memiliki ketua umum berwibawa menghadapi Pemilu 2019. Saat ini kompetisi belum tentu pilihan bijak jika dibandingkan dengan aklamasi.

PAN memilih ketua umum melalui kompetisi. Zulkifli Hasan menang tipis atas Hatta Rajasa, kemenangan yang tidak bisa dimungkiri berkat pengaruh Amien Rais. Zulkifli merangkul mantan ketua umum Sutrisno Bachir yang sebelumnya tersingkir, tapi kini ada tanda-tanda bakal kehilangan mantan ketua umum Hatta Rajasa dan mantan wakil ketua umum Dradjad Wibowo.

Kehilangan itu mungkin berdampak biasa-biasa sepanjang Amien Rais tegak di situ. Namun, Amien ingin menunjukkan saat ini era baru PAN. "Pak Zul pegang kendali," katanya. Pernyataan elok sekalipun tetap pertanyaan besar di masa depan ketika Amien tiada, apakah PAN tetap utuh bila terus menempuh jalan kompetisi dalam memilih ketua umum. Jangan-jangan demi keutuhan partai, saat itu lebih baik aklamasi saja.

PDI Perjuangan tidak ambil pusing dengan penilaian pengamat perihal oligarki. Partai itu tidak sok demokratis. PDIP memilih aklamasi menetapkan Megawati sebagai ketua umum. Dua faktor melandasinya, yaitu legitimasi sebagai pendiri partai dan berwibawa ke dalam. Dua hal itu juga dimiliki Partai Demokrat (SBY), Gerindra (Prabowo), Hanura (Wiranto), NasDem (Surya Paloh), dan PAN (Amien Rais), tapi tidak dimiliki Golkar dan PPP. Tidak ada yang secara perorangan dapat disebut sebagai pendiri PPP dan Golkar. PPP hasil fusi sejumlah partai Islam. Golkar berasal dari Sekretariat Bersama Golongan Karya yang didirikan elite Angkatan Darat.

Kini kedua partai itu tak punya figur berwibawa sebagai pemersatu. Karena itu, munaslub sekalipun bukan jaminan konflik selesai jika pemilihan ketua umum melalui kompetisi.Aklamasi dikritik berbuah oligarki. Kompetisi ternyata berbuah konflik. Semua pilihan seperti usus buntu kena infeksi. Mana yang dipilih? Jangan jadikan buah simalakama. Soliditas partai lebih urgen sehingga untuk sementara aklamasi. Sampai elite partai terkagum-kagum akan bunga lotus. Dengan seluruh keindahannya ia butuh kehijauan daunnya untuk jadi indah. Tak seorang pun pemimpin partai bisa menjadi indah sendirian.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima