Jalan Cengeng untuk Berkuasa

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
29/9/2016 05:31
Jalan Cengeng untuk Berkuasa
(thinkstock)

ORANG yang tidak memiliki apa pun tidaklah berarti sama sekali. Karena itu, orang harus memiliki sesuatu untuk dapat berarti. Bagaimana dengan orang yang punya semuanya sehingga tidak ada lagi buat orang lain? Orang itu juga tidak berarti sama sekali. Demokrasi sebetulnya jalan untuk tidak ada orang yang punya semuanya.

Demokrasi justru jalan terbuka untuk mencegah lahirnya orang-orang tidak berarti karena punya semuanya sehingga tidak ada lagi buat orang lain. Pilkada salah satu jalan terbuka itu. Akan tetapi, kini kian kuat tanda-tanda upaya menjadikannya jalan tertutup dan buntu. Bahkan, ada yang bangga menang di jalan buntu. Siapa mereka? Mereka ialah calon kepala daerah yang memborong partai, memborong kursi, sehingga tiada lawan di pilkada.

Calon tunggal, melawan kotak kosong. Hal itu sah terjadi menurut undang-undang setelah ada basa-basi pendaftaran dibuka kembali. Basa-basi semata karena sepertinya terbuka, padahal buntu. Tentu saja terjadi ada petahana yang tak akan terkalahkan karena kinerjanya luar biasa memuaskan sehingga warga pun memberi apresiasi yang luar biasa. Mayoritas warga dijamin bakal memilihnya kembali.

Pilkada menjadi hajat warga yang menyenangkan, baik dalam arti sah maupun absah, untuk petahana dipercaya berkuasa kembali. Kepuasan luar biasa terhadap kinerja petahana kiranya amat langka. Yang umumnya terjadi tingkat kepuasan di bawah 50%. Karena itu, petahana berpeluang besar untuk dilengserkan melalui jalan terbuka. Pertanyaannya, sejujurnya, siapa yang mau kalah? Tepatnya, siapa yang mau kalah secara terhormat sekalipun?

Yang dipilih ialah menang, berkuasa (kembali) dengan tidak terhormat sekalipun. Caranya? Meniadakan kompetitor, dengan cara memborong partai sehingga kursi yang tersisa tak bisa mengusung calon. Kok partai bisa diborong? Berapa harga borongan itu? Kok partai tidak malu ramai-ramai mengeroyok kotak kosong? Kok tidak malu mengusung pengecut, bukan petarung? Kiranya pertanyaan itu terlalu naif, bahkan sok hebat, untuk dijawab.

Membayar borongan dipercaya lebih murah ongkosnya dan lebih pasti kemenangannya ketimbang berkompetisi meraih suara warga. Untuk apa bertarung? Pilkada menjadi jalan cengeng untuk berkuasa. Upaya memborong partai/kursi yang menihilkan kompetisi dalam pilkada, meniadakan alternatif untuk dipilih warga, mematikan substansi demokrasi, haruslah dicegah undang-undang dan dimengerti Mahkamah Konstitusi.

Pencegahan itu dapat dilakukan dengan memberlakukan batas atas, misalnya paling banyak diusung 30% kursi di DPRD.
Bukan hanya ada batas bawah seperti sekarang, yaitu sedikitnya diusung 20% kursi di DPRD, menyebabkan legal terjadinya pengkhianatan terhadap demokrasi.

Apabila dipikir-pikir, tidakkah lebih terhormat beruk daripada kotak kosong? Bagaimana kalau semua pilkada calon tunggal dilawankan dengan beruk? Siapa tahu terjadi beruk lebih dipilih rakyat menjadi kepala daerah. Seusai pilkada, beruk dikembalikan ke hutan, ke habitatnya, merayakan kemenangannya



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.