Kenyang Berkuasa

Saur Hutabarat | Dewan Redaksi Media Group
07/5/2015 00:00
Kenyang Berkuasa
(MI/BARY FATHAHILAH)
ORANG berkuasa sebaiknya mengikuti nasihat berhentilah makan sebelum kenyang.

Pertanyaannya kapankah orang merasa kenyang berkuasa?

Batas kenyang berkuasa mengusik saya ketika Senin (4/5) malam melayat mendiang Chris Siner Key Timu, penanda tangan Petisi 50, yang disemayamkan di Sekretariat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia di Menteng, Jakarta.

Petisi itu lahir di kala yang berkuasa merasa sedang lapar-laparnya, padahal di mata oposisi seharusnya sudah kenyang berkuasa.

Petisi 50 merupakan oposisi gigih dan berani terhadap hegemoni kekuasaan Pak Harto yang sewenang-wenang menggunakan Pancasila sebagai alat menggebuk lawan politik.

Petisi itu mestinya dibaca sebagai peringatan dini kepada Pak Harto bahwa 'saatnya berhenti makan sebelum kenyang'.

Kenyataannya Petisi 50 bukan dipandang sebagai 'alarm', melainkan subversi.

Petisi 50 ditandatangani pada 1980.

Pak Harto mulai berkuasa 1966.

Itu berarti ia telah berkuasa 14 tahun. Bukankah berkuasa cukup 10 tahun? Masih kurang kenyang, SU MPR berikutnya 1983.

Itulah mestinya batas kenyang kekuasaan paling lama, yaitu 17 tahun sejak Pak Harto mendapat Supersemar.

Lebih dari kenyang.

Kenyataannya Pak Harto tak pernah kenyang berkuasa.

Mengapa?

Pertama, ia memerlukan waktu panjang untuk mengonsolidasikan kekuasaan (1966-1978).

Di masa itu terjadi gangguan hebat Peristiwa Malari (1974) serta pemaksaan fusi partai berasas tunggal Pancasila.

Akibat Malari, pers diberedel dan hanya terbit kembali setelah menandatangani pernyataan 'bertobat'.

Kedua, setelah konsolidasi Pak Harto masih memerlukan waktu untuk mengukuhkan kekuasaan (1978-1983).

Di masa itu pun terjadi gangguan hebat berupa gerakan mahasiswa menurunkan Pak Harto (1978), oposisi terbuka Petisi 50 (1980), dan pecahnya Peristiwa Lapangan Banteng (1982) yang juga menyebabkan pers diberedel.

Ketiga, tak kalah penting, Pak Harto masih pula memerlukan waktu panjang sekali (1983-seyogianya sampai 2003) untuk menikmati kekuasaan tanpa gangguan.

Ia dianugerahi pangkat kehormatan jenderal besar--perwira tinggi berbintang lima--(1997) dan mengangkat anak kandungnya, Mbak Tutut, sebagai menteri sosial (1998).

Ia lupa berhenti makan sebelum kenyang, kendati telah kekenyangan, sampai kemudian dijatuhkan dari kekuasaannya (1998).

Ia tak kesampaian berkuasa hingga 2003. Gelar Bapak Pembangunan berubah menjadi bapak yang dihujat.

Setelah perubahan konstitusi di era demokrasi, tak ada lagi presiden berkuasa lebih dari 10 tahun.

Semua harus siap lengser.

Bahkan, petahana harus bersiap berhenti makan sebelum kenyang setahun sebelum pilpres karena belum tentu terpilih lagi.

Pada dasarnya presiden harus bersiap satu masa jabatan saja.

Psikologi kekuasaan jenis itu positif 'memaksa' presiden cepat melakukan konsolidasi dan menghasilkan kinerja bersama menteri yang juga belajar cepat dan segera keluar dari kungkungan 'asyik dengan mainan sendiri'.

Lima tahun bukan waktu panjang melakukan coba dan salah memilih menteri, berfoya-foya gonta-ganti susunan kabinet.

Sekali reshuffle lebih dari cukup.

Apalagi secara administrasi negara, nomenklatur lembaga kementeriannya pun belum beres.

Yang jelas pemerintahan baru, yang didukung relawan, dilarang keras berpikir kapan kekuasaan kenyang, terlebih kenyang berkuasa.

Apalagi kalau relawan pun ingin pula ikut kenyang.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.