Ruang Bernapas

Saur Hutabarat/Dewan Redaksi Media Group
25/7/2016 06:00
Ruang Bernapas
(AFP/Joe Raedle/Getty Images)

TIAP orang perlu ruang bernapas. Terlebih yang napasnya tersengal-sengal.

Bahkan, ada orang yang senantiasa perlu berjaga-jaga, membawa tabung oksigen. Dalam keadaan pingsan, orang butuh napas buatan.

Tiap orang juga butuh ruang berpikir.

Yang pikirannya luas sekalipun tetap perlu memperluas ruang berpikir. Terlebih yang pikirannya sempit dan picik.

Yang memprihatinkan ialah bila orang memerlukan keduanya sekaligus.

Ia butuh ruang bernapas karena tersesak, dalam waktu yang sama, ia pun butuh ruang berpikir karena terdesak.

Tersesak bisa bikin semaput, terdesak bisa bikin kalap. Untunglah tidak ada orang pingsan masih kalap.

Sebaliknya, celaka, orang kalap bisa berujung pingsan atau sesat.

Negara pun seperti manusia, organisme yang membutuhkan ruang bernapas dan ruang berpikir.

Hanya hewan yang bernapas, tapi tidak berpikir, apalagi berfilsafat.

Sekarang ini, bukan negara kecil yang membutuhkan ruang bernapas atau ruang berpikir, melainkan negara besar.

AS perlu ruang berpikir untuk tidak tersesat memilih presiden, sedangkan Inggris perlu ruang bernapas agar tidak tersesak berkepanjangan setelah keluar dari Uni Eropa.

Di dinding ruang kerjanya, di Lantai 26 Trump Tower, di Manhattan, Trump memajang sampul majalah Fortune, Business Week, GQ, Play Boy, yang menampilkan dirinya.

Trump lebih seksi, lebih banyak mendapat liputan media ketimbang Hillary Clinton.

Akan tetapi, meminjam pendapat majalah Time, liputan (coverage) tidak usah diterjemahkan sebagai kejelasan, kejernihan (clarity).

Karena itu, demi kejelasan/kejernihan, Time suatu pagi berbincang dengan Trump, menggali, apa yang perlu diketahui seorang presiden, yang pengetahuannya banyak salah.

Trump, misalnya, menyebut Barack Obama lahir di Hawaii, padahal di Kenya.

Dalam kacamata Time, Trump tidak lulus. Seorang pemimpin negara tidak perlu bergelar PhD, dan tidak ada Presiden yang tahu segalanya.

Akan tetapi, Presiden AS haruslah punya vocabulary pemerintahan dan kenegaraan yang dasar.

Ia harus tahu tiga serangkai nuklir, apa bedanya Syiah dan Sunni, bukan Hamas dan Hezbollah, hal berbeda yang sering disebut Trump.

Peraih Pulitzer Thomas L Friedman, dalam kolomnya di International New York Times, bahkan menyamakan Trump dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang sehari setelah kudeta militer gagal, memecat 2.745 hakim dan jaksa.

Bagaimana ia tahu secara pasti dalam sehari segitu banyak yang dilengserkan? Tidakkah itu menunjukkan bahwa dia punya daftar musuh?

Kalau Trump terpilih, Amerika tidak bakal mengalami kudeta militer.

Namun, Friedman percaya, Trump akan menjadi 'presiden kacau balau'.

Kalau Anda suka dengan apa yang terjadi di Turki sekarang, Anda akan mencintai Trump sebagai presiden.

Semua itu berintikan pesan dan sikap sangat kuat bahwa rakyat AS perlu ruang berpikir untuk tidak salah memilih presiden yang bernama Donald Trump, yang menjadikan kebohongan sebagai napasnya.

Bagaimana dengan Inggris? AS perlu ruang berpikir, sedangkan Inggris perlu ruang bernapas.

Inggris telah menggunakan ruang berpikir, hasilnya Brexit menang.

Sekarang perlu ruang bernapas, sebagai akibat keluar dari Uni

Eropa.

Theresa May, PM Inggris yang baru, tahu benar kepada siapa ia bakal mendapatkan ruang bernapas itu.

Hal pertama yang dilakukan perempuan perdana menteri itu ialah mengunjungi Kanselir Jerman Angela Merkel, perempuan hebat yang sangat berpengaruh di Uni Eropa.

Hasilnya? Merkel menunjukkan sinyal memberi ruang bernapas, waktu bagi pemerintahan May yang baru untuk membereskan apa yang mereka inginkan setelah bercerai dengan Uni Eropa.

Bagaimana dengan kita? Kita pun sebaiknya memberi ruang bernapas bagi anak buah Santoso untuk menyerahkan diri.

Memberi ruang bernapas, bukan merenggut napas mereka.

Terlebih setelah TNI menangkap tanpa kekerasan istri Santoso.

Serentak dengan itu, kiranya pemerintah leluasa menggunakan ruang berpikir untuk memberi pengampunan.

Bukankah Bung Karno pernah memberi amnesti kepada pemberontak agar turun gunung? Setelah pengampunan pajak yang sukses, rasanya kini giliran pengampunan politik.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima