Gerakkan Perekonomian

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
20/7/2016 05:31
Gerakkan Perekonomian
(ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)

UNDANG-UNDANG Pengampunan Pajak sejak Senin (18/7) mulai dijalankan, mundur dua minggu dari jadwal yang seharusnya. Presiden Joko Widodo memimpin langsung sosialisasi dengan bertemu langsung masyarakat. Setelah Surabaya, Medan kemudian yang menjadi kota sosialisasi. Di tengah gencarnya sosialisasi bagi keberhasilan pelaksanaan UU pengampunan Pajak, kita harus membuatnya lebih realistis. Dalam delapan setengah bulan ke depan, kita harus mengelola harapan agar tidak muncul ekspektasi yang berlebih-lebihan.

Selama ini pemerintah begitu bombastis bahwa akan ada dana repatriasi Rp1.000 triliun, deklarasi sebesar Rp4.000 triliun, dan tambahan penerimaan pajak Rp165 triliun. Direktur jenderal pajak bahkan siap meletakkan jabatan kalau target-target itu tidak tercapai. Tepat yang disampaikan anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional Hendri Saparini dalam program Economic Challenges pekan lalu. Sikap kita yang realistis akan menimbulkan optimisme. Kedua, pajak jangan menciptakan kontraksi, tetapi justru harus bisa menggerakkan perekonomian.

Angka-angka yang bombastis itu diperlukan ketika kita membutuhkan dukungan untuk meloloskan UU Pengampunan Pajak. Sekarang lebih baik kita berbicara yang lebih masuk akal dan kalau target yang tinggi bisa tercapai, itu merupakan bonus. Kita harus belajar pengalaman bangsabangsa lain dalam pengampunan pajak. Italia yang melakukan pada 2009, misalnya, mendapatkan dana repatriasi 80 miliar euro dan tambahan pajak 4 miliar euro. Padahal, Bank Sentral Italia memperkirakan dana orang yang ada di luar negeri sekitar 500 miliar euro.

Dengan membuat persoalan lebih membumi, kita mengajarkan masyarakat realistis. Berapa pun yang kelak kita dapatkan dari pelaksanaan UU Pengampunan Pajak, ini harus mendorong kita untuk lebih keras bekerja membangun negeri. Hasil penerimaan dari UU Pengampunan Pajak menjadi modal tambahan untuk semakin gencar membangun negara ini.
Jangan sampai kemudian yang muncul ialah kecurigaan di antara kita. Kalau penerimaannya tidak sesuai dengan harapan, kita menuduh para pengusaha menyembunyikan harta mereka.

Pengusaha dicap tidak nasionalis dan tidak mendukung pembangunan. Sekarang ini yang lebih kuat dimunculkan UU Pengampunan Pajak hanya diperuntukkan pengusaha yang mengemplang pajak. Padahal, UU Pengampunan Pajak dimaksudkan untuk membuat basis pajak yang lebih berkualitas. Kita merasa sekarang ini produk domestik bruto terus meningkat, tetapi penerimaan pajak tidak setinggi kenaikan PDB. Untuk itulah kita harus berwawasan ke depan. Kita jangan sekadar mengejar target penerimaan pajak untuk menyelamatkan APBN tahun ini, tetapi bagaimana menggerakkan perekonomian nasional. Sekarang bisnis sedang lesu darah. Semua pengusaha berupaya untuk bisa bertahan.

Ibaratnya kita membutuhkan telur emas. Apabila ingin mendapatkan itu, kita harus pelihara ayam dengan sebaik-baiknya. Jangan paksa secara berlebihan ayam itu untuk bertelur karena salah-salah bukan telur yang kita dapatkan, melainkan malah ayamnya yang mati. Pendekatan kultur Jawa lebih cocok untuk meminta pengusaha dan masyarakat agar mau berperan dalam pembangunan. Ada pepatah ‘Dipangku, mati’.

Daripada ditakut-takuti, lebih baik masyarakat dirangkul agar mereka memiliki kesadaran membayar pajak secara benar demi kesejahteraan rakyat. Semua pasti akan rela, apalagi jika diikuti perubahan sikap pejabat pemerintah. Mereka jangan lagi meminta kepada masyarakat dan pengusaha hal-hal yang hanya menciptakan ekonomi biaya tinggi. Kita harus bisa menerapkan prinsip yang dilakukan Presiden Jokowi, “Kalau bisa dibuat murah, kenapa harus dibuat mahal.” Jangan di balik seperti selama ini. Pajak untuk preman lebih besar daripada pajak untuk negara.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima