Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH kota, sebuah harapan.
Bahkan, berjuta-juta harapan akan hari esok, bahwa hidup di kota itu bakal jauh lebih baik, lebih indah.
Bagaimana mengukur harapan itu, bukan perkara baru.
Tiap tahun, tiga institusi, yaitu majalah Monocle, Economist Intelligence Unit (EIU), serta firma konsultan Mercer, melakukan survei yang menghasilkan kota-kota yang dinilai terbaik di dunia.
Majalah Monocle telah melakukannya sejak 2010.
Pada 2015, Tokyo (Jepang) terpilih sebagai kota terbaik di dunia untuk tempat tinggal.
EIU membandingkan hasil survei 5 tahun, hasilnya tahun lalu Melbourne (Australia) sebagai kota terbaik untuk hidup.
Firma konsultan Mercer, melakukan survei membandingkan 221 kota berdasarkan 32 kriteria.
Hasilnya, Wina (Austria) menempati peringkat nomor 1.
Ketiga survei itu punya kekhasan dan kesamaan.
Kesamaannya antara lain menjadikan tingkat kriminalitas/keamanan, fasilitas kesehatan, sekolah, transportasi publik, sebagai kriteria yang sama.
Kekhasan Mercer memasukkan faktor stabilitas politik sebagai kriteria, sesuai peruntukan hasil survei demi perusahaan multiinternasional.
Monocle, majalah urban dan gaya hidup global, memuat faktor mutu arsitektur sebagai salah satu ukuran.
EUI, lembaga sepupu majalah The Economist, untuk menghasilkan The world's 10 best cities to live in, tidak memasukkan biaya hidup sebagai faktor, tapi ancaman konflik serta tingkat penyensoran/levels of censorship.
Tak ada survei yang sempurna, termasuk survei di kota mana yang terbaik untuk manusia tinggal dan hidup (liveability index).
The New York Times, misalnya, menilai hasil survei EIU sebagai anglocentric, terlalu pro ke kota-kota berbau Inggris, karena banyaknya kota di Australia mendapat peringkat terbaik, yaitu 4 dari 10 kota.
Di lain pihak, Mercer menjadikan New York sebagai garis dasar pengukuran.
Hasilnya, New York dan London tidak termasuk 10 besar.
Dalam semua survei kota terbaik di dunia untuk manusia hidup tersebut, orang tidak lagi berbicara perihal membuang dan mengelola sampah sebagai sebuah ukuran untuk disurvei.
Perkara sampah sudah lama selesai.
Bahkan, limbah industri pun sudah dibereskan. Kota tercemar limbah industri, berupa asap maupun buangan lain, pastilah bukan tempat terbaik di dunia untuk dihuni.
Dalam perspektitf itu, kiranya hanya kota tertinggal jauh di belakang peradaban global yang masih berurusan dengan sampah, terlebih sampah rumah tangga.
Bila survei dilakukan dalam 3 bulan terakhir di Indonesia, kota itu ialah Kota Pekanbaru.
Dari segi sampah, barangkali itulah kota terburuk untuk tempat tinggal, the worst city to live in.
Reaksi terhadap buruknya manajemen sampah itu sama busuknya dengan sampah itu sendiri.
Pekan lalu, serombongan mahasiswa melancarkan protes keras terhadap Wali Kota Pekanbaru Firdaus, dengan cara membuang sampah (persisnya entah berapa truk) ke depan rumah dinas wali kota.
Vulgar, brutal, tapi itulah puncak ekspresi yang ditanggapi sang Wali Kota dengan mengadukan mereka ke polisi.
Katanya, untuk mencari aktor intelektual yang berdimensi politis.
Sebuah pernyataan yang kira-kira berkaitan dengan diselenggarakannya pilkada serentak, Februari tahun depan.
Aktor intelektual silakan dicari, motif politik silakan diusut.
Akan tetapi, sampah di kota itu tetaplah sampah yang urusan kepublikannya, terutama primer, menjadi tanggung jawab wali kota, sebagai pejabat publik, sebagai penyelenggara negara.
Siapa pun dia! Tanggung jawab sekunder dan tersier, di pundak dinas kebersihan dan perusahaan pemenang tender yang ingkar janji ataupun wanprestasi.
Bapak Wali Kota yang terhormat, penghuni kota terutama manusia.
Bukan lalat dan ulat yang bahagia hidup di dalam sampah dan bersama sampah.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved