Kota Sampah

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
20/6/2016 06:00
Kota Sampah
(ANTARA/Rony Muharrman)

SEBUAH kota, sebuah harapan.

Bahkan, berjuta-juta harapan akan hari esok, bahwa hidup di kota itu bakal jauh lebih baik, lebih indah.

Bagaimana mengukur harapan itu, bukan perkara baru.

Tiap tahun, tiga institusi, yaitu majalah Monocle, Economist Intelligence Unit (EIU), serta firma konsultan Mercer, melakukan survei yang menghasilkan kota-kota yang dinilai terbaik di dunia.

Majalah Monocle telah melakukannya sejak 2010.

Pada 2015, Tokyo (Jepang) terpilih sebagai kota terbaik di dunia untuk tempat tinggal.

EIU membandingkan hasil survei 5 tahun, hasilnya tahun lalu Melbourne (Australia) sebagai kota terbaik untuk hidup.

Firma konsultan Mercer, melakukan survei membandingkan 221 kota berdasarkan 32 kriteria.

Hasilnya, Wina (Austria) menempati peringkat nomor 1.

Ketiga survei itu punya kekhasan dan kesamaan.

Kesamaannya antara lain menjadikan tingkat kriminalitas/keamanan, fasilitas kesehatan, sekolah, transportasi publik, sebagai kriteria yang sama.

Kekhasan Mercer memasukkan faktor stabilitas politik sebagai kriteria, sesuai peruntukan hasil survei demi perusahaan multiinternasional.

Monocle, majalah urban dan gaya hidup global, memuat faktor mutu arsitektur sebagai salah satu ukuran.

EUI, lembaga sepupu majalah The Economist, untuk menghasilkan The world's 10 best cities to live in, tidak memasukkan biaya hidup sebagai faktor, tapi ancaman konflik serta tingkat penyensoran/levels of censorship.

Tak ada survei yang sempurna, termasuk survei di kota mana yang terbaik untuk manusia tinggal dan hidup (liveability index).

The New York Times, misalnya, menilai hasil survei EIU sebagai anglocentric, terlalu pro ke kota-kota berbau Inggris, karena banyaknya kota di Australia mendapat peringkat terbaik, yaitu 4 dari 10 kota.

Di lain pihak, Mercer menjadikan New York sebagai garis dasar pengukuran.

Hasilnya, New York dan London tidak termasuk 10 besar.

Dalam semua survei kota terbaik di dunia untuk manusia hidup tersebut, orang tidak lagi berbicara perihal membuang dan mengelola sampah sebagai sebuah ukuran untuk disurvei.

Perkara sampah sudah lama selesai.

Bahkan, limbah industri pun sudah dibereskan. Kota tercemar limbah industri, berupa asap maupun buangan lain, pastilah bukan tempat terbaik di dunia untuk dihuni.

Dalam perspektitf itu, kiranya hanya kota tertinggal jauh di belakang peradaban global yang masih berurusan dengan sampah, terlebih sampah rumah tangga.

Bila survei dilakukan dalam 3 bulan terakhir di Indonesia, kota itu ialah Kota Pekanbaru.

Dari segi sampah, barangkali itulah kota terburuk untuk tempat tinggal, the worst city to live in.

Reaksi terhadap buruknya manajemen sampah itu sama busuknya dengan sampah itu sendiri.

Pekan lalu, serombongan mahasiswa melancarkan protes keras terhadap Wali Kota Pekanbaru Firdaus, dengan cara membuang sampah (persisnya entah berapa truk) ke depan rumah dinas wali kota.

Vulgar, brutal, tapi itulah puncak ekspresi yang ditanggapi sang Wali Kota dengan mengadukan mereka ke polisi.

Katanya, untuk mencari aktor intelektual yang berdimensi politis.

Sebuah pernyataan yang kira-kira berkaitan dengan diselenggarakannya pilkada serentak, Februari tahun depan.

Aktor intelektual silakan dicari, motif politik silakan diusut.

Akan tetapi, sampah di kota itu tetaplah sampah yang urusan kepublikannya, terutama primer, menjadi tanggung jawab wali kota, sebagai pejabat publik, sebagai penyelenggara negara.

Siapa pun dia! Tanggung jawab sekunder dan tersier, di pundak dinas kebersihan dan perusahaan pemenang tender yang ingkar janji ataupun wanprestasi.

Bapak Wali Kota yang terhormat, penghuni kota terutama manusia.

Bukan lalat dan ulat yang bahagia hidup di dalam sampah dan bersama sampah.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima