Utang

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
25/5/2016 06:00
Utang
()

PEMBANGUNAN adalah soal pilihan. Pemerintah memutuskan tidak mengubah rencana pembangunan. Di tengah melambatnya penerimaan negara, pemerintah memilih menaikkan rasio utang guna membiayai pembangunan.

Menurut Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, rasio total utang pemerintah tahun ini akan naik dari 26,8% dari produk domestik bruto menjadi 27%. Di tengah tersendatnya investasi, lemahnya ekspor, dan konsumsi masyarakat hanya tumbuh 5%, tidak ada pilihan lain untuk mendorong pertumbuhan dengan menaikkan belanja pemerintah.

Penaikan rasio utang tidak membahayakan perekonomian karena utang pemerintah masih dalam batas aman. Apalagi, menurut Menkeu, penjualan obligasi kepada masyarakat dilakukan untuk kegiatan produktif, bukan konsumtif. Kita hargai keberanian pemerintah ambil risiko. Perlambatan ekonomi tidak bisa dihadapi dengan pasrah. Harus ada inisiatif agar ekonomi terus bergerak.

Terlalu lama kita membiarkan pembangunan infrastruktur terbengkalai. Setelah pembangunan infrastruktur besar-besaran pada era Orde Baru, nyaris tidak ada lagi pembangunan yang kita lakukan. Bahkan untuk merawat infrastruktur saja kita tidak mampu. Sekarang kita ingin bergegas membenahi infrastruktur untuk mendorong perdagangan dan industri. Hanya, pembangunan infrastruktur Orde Baru ditopang bonanza minyak, kali ini harga komoditas justru sedang terpuruk.

Bangsa yang besar tidak boleh melihat tantangan sebagai beban. Masih ada peluang untuk memacu pembangunan. Kuncinya ialah kemauan bersikap kreatif dan inovatif, berani mengambil keputusan, serta melaksanakannya secara konsisten. Tantangan terberat yang kita hadapi ialah pada implementasi. Paket kebijakan yang sudah 12 kali dikeluarkan dimaksudkan untuk menggerakkan perekonomian. Namun, banyak paket yang belum juga dilaksanakan. Percepatan pembangunan pembangkit listrik dan kilang mini yang ada dalam paket pertama, misalnya, nyaris minim kemajuan.

Kita selalu mengingatkan kunci keberhasilan sebuah bangsa membangun negara tergantung sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat madani. Benar bahwa belanja pemerintah dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan. Namun, kontribusi belanja pemerintah terhadap pertumbuhan tidak lebih dari 15%. Sisanya kontribusi investasi swasta dan konsumsi masyarakat.

Keinginan swasta ikut mendorong pembangunan masih tinggi. Dalam berbagai kunjungan Presiden Jokowi ke mancanegara, komitmen investasi selalu disampaikan. Namun, agar komitmen itu bisa terealisasi, butuh kepastian dari birokrasi. Mereka yang sudah menanamkan modal harus diberi kenyamanan agar mau memperbesar investasi. Pemerintah harus ingat pepatah 'Lebih baik satu burung di tangan, daripada 10 burung di pohon'.

Kita tidak boleh menafikan konsumsi masyarakat. Pendorong utama pertumbuhan ekonomi semua negara ialah belanja masyarakat. Untuk itu, masyarakat jangan juga ditakut-takuti. Keinginan menaikkan penerimaan pajak jangan sampai membuat masyarakat takut berbelanja. Wakil Presiden Jusuf Kalla mengingatkan perlunya keseimbangan dalam memungut pajak, sebab pajak yang terlalu tinggi mengganggu investasi. Sebaliknya, pajak yang terlalu rendah membuat negara kesulitan mendapatkan dana pembangunan.

Di tengah kondisi bisnis yang belum pulih, memang tidak bisa terhindarkan perolehan pajak ikut terpengaruh. Pilihan pemerintah menutup kebutuhan biaya pembangunan ialah dengan mengeluarkan surat utang negara. Semoga utang disadari hanya sebagai katalisator untuk menggerakkan perekonomian, bukan candu yang membuat pemerintah menjadi ketagihan, sebab utang pemerintah akhirnya harus dibayar dan itu akan menjadi beban seluruh rakyat.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima