Erdogan, Harapan, Kecemasan

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
17/5/2016 06:00
Erdogan, Harapan, Kecemasan
(Kayhan Ozer, Presidential Press Service, Pool via AP)

TURKI di bawah Presiden Recep Tayyib Erdogan ialah harapan sekaligus kecemasan.

Harapan karena reputasi politiknya yang cemerlang sejak menjadi Wali Kota Istanbul dan 11 tahun menjadi perdana menteri (2003-2014).

Ia membuat Turki kembali disegani.

Keberaniannya kepada Israel dan sekutu Barat negeri Zionis itu, serta keberhasilannya meredam dominasi militer di negerinya, dipuji banyak kalangan.

Wajar jika militer Turki pernah menyesal memenjarakan Erdogan pada 1998.

Pria kelahiran Istanbul 26 Februari itu jadi mendapat simpati rakyat.

Dari sini jalan menjadi perdana menteri dimulai.

Ketika itu Erdogan kerap membacakan sajak penyair Turki, Ziya Gokalp.

'Masjid adalah barak kami/Kubah adalah penutup kepala kami/ Menara adalah bayonet kami/Orang-orang beriman adalah tentara kami/Tentara ini yang akan menjaga agama kami/'.

Militer menuduh Erdogan memprovokasi. Ia pun dibui, tapi rakyat mulai mencintainya.

Terlebih setelah ia dan beberapa politikus mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (Adalet ve KalkNma Partisi) pada 2001 dan memenangi Pemilu 2002.

Partai itu mematahkan eksistensi berpuluh tahun partai berkuasa.

Itu pula yang menjadi 'tiket' ia menangi pilpres pada 2014.

Kritik-kritiknya yang pedas tajam atas demokrasi Barat menjadi tiupan semangat kalangan Islam yang tak bersepaham dengan Barat.

Ia tetap mempertahankan sekularisme, tapi ia memberi slah untuk mempertanyakan sekularisme Turki ala Kemal Fasya Ataturk sejak 1923.

Simpatinya yang dalam pada Palestina dan kalangan Islam yang teraniaya seperti mengukuhkan Erdogan sebagai pembela yang teraniaya.

Namun, Erdogan juga kecemasan. Ia memberangus musuh-musuh politiknya.

Pers kritis, oposisi, dan para penegak demokrasi mengalami mimpi buruk.

Bahkan, seorang guru yang menggerakkan tangan tanda tak bersetuju pada Erdogan pun dipenjara.

Ia seperti hanya memberi dua pilihan: mendukung atau menjadi musuh.

Mereka yang tak sudi takluk akan ditekuk.

Vonis lima tahun penjara terhadap dua wartawan surat kabar Cumburiyet, Can Dundar dan Erdem Gul, dua pekan silam, kian menegaskan keran kebebasan informasi benar-benar disumbat.

Kedua pewarta itu dituduh menyebarkan berita tindakan intelijen Turki mengirim senjata ke milisi islamis di Suriah.

Pemberitaan itu dianggap membahayakan keamanan negara.

Banyak kalangan menilai Erdogan telah bersimpang jalan cara dunia modern mengelola negara: keterbukaan!

Rupanya perburuan terhadap pers kritis bukan kali ini saja.

Sejak beberapa bulan dilantik menjadi presiden, Erdogan telah menangkap puluhan wartawan yang menyuarakan oposisi.

Mereka didakwa memalsukan bukti dan membentuk sindikat kejahatan untuk merebut kedaulatan negara.

Mereka dituduh dekat dengan Fethullah Gulen, ulama yang dulu sahabat dekat Erdogan.

Kini ia bersimpang jalan.

Gulen berdiam di Amerika, sementara para pendukungnya di Turki terus diberangus.

Tindakan itu membuat Uni Eropa marah.

Padahal, Turki tengah mendamba menjadi anggota; demokrasi dan kebebasan pers ialah syarat utamanya.

Menurut Erdogan, Uni Eropa yang lebih membutuhkan Turki.

Tiga juta pengungsi Suriah berada di negerinya.

Itu amat meringankan beban negara-negara Eropa, tujuan utama pengungsi.

Erdogan yang pemberani mestinya jangan menjadi cerita akhir Turki.

Namun, memberangus pers dan mereka yang berbeda umumnya akan jadi malapetaka.

Para pemimpin besar justru belajar dari musuh-musuhnya.

Erdogan tak akan menjadi besar jika semua yang tak bersetuju terus diburu, dibui!



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima