Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TURKI di bawah Presiden Recep Tayyib Erdogan ialah harapan sekaligus kecemasan.
Harapan karena reputasi politiknya yang cemerlang sejak menjadi Wali Kota Istanbul dan 11 tahun menjadi perdana menteri (2003-2014).
Ia membuat Turki kembali disegani.
Keberaniannya kepada Israel dan sekutu Barat negeri Zionis itu, serta keberhasilannya meredam dominasi militer di negerinya, dipuji banyak kalangan.
Wajar jika militer Turki pernah menyesal memenjarakan Erdogan pada 1998.
Pria kelahiran Istanbul 26 Februari itu jadi mendapat simpati rakyat.
Dari sini jalan menjadi perdana menteri dimulai.
Ketika itu Erdogan kerap membacakan sajak penyair Turki, Ziya Gokalp.
'Masjid adalah barak kami/Kubah adalah penutup kepala kami/ Menara adalah bayonet kami/Orang-orang beriman adalah tentara kami/Tentara ini yang akan menjaga agama kami/'.
Militer menuduh Erdogan memprovokasi. Ia pun dibui, tapi rakyat mulai mencintainya.
Terlebih setelah ia dan beberapa politikus mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (Adalet ve KalkNma Partisi) pada 2001 dan memenangi Pemilu 2002.
Partai itu mematahkan eksistensi berpuluh tahun partai berkuasa.
Itu pula yang menjadi 'tiket' ia menangi pilpres pada 2014.
Kritik-kritiknya yang pedas tajam atas demokrasi Barat menjadi tiupan semangat kalangan Islam yang tak bersepaham dengan Barat.
Ia tetap mempertahankan sekularisme, tapi ia memberi slah untuk mempertanyakan sekularisme Turki ala Kemal Fasya Ataturk sejak 1923.
Simpatinya yang dalam pada Palestina dan kalangan Islam yang teraniaya seperti mengukuhkan Erdogan sebagai pembela yang teraniaya.
Namun, Erdogan juga kecemasan. Ia memberangus musuh-musuh politiknya.
Pers kritis, oposisi, dan para penegak demokrasi mengalami mimpi buruk.
Bahkan, seorang guru yang menggerakkan tangan tanda tak bersetuju pada Erdogan pun dipenjara.
Ia seperti hanya memberi dua pilihan: mendukung atau menjadi musuh.
Mereka yang tak sudi takluk akan ditekuk.
Vonis lima tahun penjara terhadap dua wartawan surat kabar Cumburiyet, Can Dundar dan Erdem Gul, dua pekan silam, kian menegaskan keran kebebasan informasi benar-benar disumbat.
Kedua pewarta itu dituduh menyebarkan berita tindakan intelijen Turki mengirim senjata ke milisi islamis di Suriah.
Pemberitaan itu dianggap membahayakan keamanan negara.
Banyak kalangan menilai Erdogan telah bersimpang jalan cara dunia modern mengelola negara: keterbukaan!
Rupanya perburuan terhadap pers kritis bukan kali ini saja.
Sejak beberapa bulan dilantik menjadi presiden, Erdogan telah menangkap puluhan wartawan yang menyuarakan oposisi.
Mereka didakwa memalsukan bukti dan membentuk sindikat kejahatan untuk merebut kedaulatan negara.
Mereka dituduh dekat dengan Fethullah Gulen, ulama yang dulu sahabat dekat Erdogan.
Kini ia bersimpang jalan.
Gulen berdiam di Amerika, sementara para pendukungnya di Turki terus diberangus.
Tindakan itu membuat Uni Eropa marah.
Padahal, Turki tengah mendamba menjadi anggota; demokrasi dan kebebasan pers ialah syarat utamanya.
Menurut Erdogan, Uni Eropa yang lebih membutuhkan Turki.
Tiga juta pengungsi Suriah berada di negerinya.
Itu amat meringankan beban negara-negara Eropa, tujuan utama pengungsi.
Erdogan yang pemberani mestinya jangan menjadi cerita akhir Turki.
Namun, memberangus pers dan mereka yang berbeda umumnya akan jadi malapetaka.
Para pemimpin besar justru belajar dari musuh-musuhnya.
Erdogan tak akan menjadi besar jika semua yang tak bersetuju terus diburu, dibui!
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved