Sensus Ekonomi

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
04/5/2016 06:00
Sensus Ekonomi
(ANTARA/Destyan Sujarwoko)

UNTUK keempat kalinya Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan sensus ekonomi. Sensus 10 tahunan itu dilakukan untuk mengetahui postur perekonomian Indonesia. Itulah yang kemudian bisa menjadi pegangan dalam merumuskan kebijakan untuk 10 tahun ke depan.

Sepanjang 10 tahun terakhir perekonomian Indonesia tumbuh luar biasa. Saat sensus ekonomi dilaksanakan 2006, produk domestik bruto (PDB) kita tercatat masih US$365 miliar. Sekarang ini PDB Indonesia sudah di atas US$900 miliar. Artinya PDB kita tumbuh sekitar 25% per tahun.

Tentu menjadi pertanyaan, apa yang mendorong PDB kita bisa tumbuh begitu tinggi? Apa benar itu lebih disebabkan booming harga komoditas? Lalu apakah dalam 10 tahun terakhir terjadi transformasi ekonomi? Sejauh ini kita tahu pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia ialah komoditas. Periode 2006 hingga 2011 memang merupakan periode keemasan komoditas. Harga semua komoditas mencapai titik tertinggi dan permintaannya pun dalam volume besar.

Sensus ekonomi tentu akan bisa menjawab perkiraan tersebut. Oleh karena yang didata ialah pelaku ekonomi mulai yang kecil hingga besar, kita akan bisa mengetahui postur perekonomian kita. Bahkan kita bisa mengetahui kekuatan yang dapat diandalkan untuk mendorong perekonomian kita. Begitu pentingnya hasil yang bisa didapatkan, kita berharap para pelaku ekonomi mau berpartisipasi dan memberikan data yang benar. Kalaupun kondisinya buruk, sampaikan saja apa adanya agar kemudian kita mengoreksi kesalahan yang sudah terjadi.

Sekarang ini kita mendengar rencana pemerintah mengembangkan ekonomi digital. Dari sensus ekonomi tentu kita melihat sejauh mana kesiapan dunia usaha kita untuk menghadapi harapan tersebut. Kita harus mengembangkan perekonomian sesuai dengan kekuatan yang kita miliki. Jangan kita sekadar ikut arus, padahal kita tidak memiliki basisnya. Arah besar yang dilakukan semua negara ialah memperkuat industri manufaktur. Komoditas yang dikembangkan harus didasari sumber daya yang mereka miliki, baik itu alam maupun manusianya.

Kita tidak pernah berani menetapkan produk unggulan yang hendak kita andalkan. Hanya di awal era Orde Baru kita mencanangkan untuk mengembangkan pertanian dan industri yang menopang pertanian. Setelah itu, kita cenderung mau mengembangkan semua, tetapi akibatnya kita tidak pernah fokus dan memiliki produk yang benar-benar menjadi unggulan.

Ketika Presiden Soeharto mencanangkan era lepas landas, kita tidak tahu lepas landas ke mana. Kita tidak memiliki industri dasar dan industri barang modal yang bisa menopang negara ini untuk melompat ke depan. Sarjana-sarjana yang kita miliki pun tidak pernah didesain sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan untuk mencapai Indonesia maju.

Setelah era reformasi arah yang ingin kita capai semakin tidak menentu. Setiap presiden selalu menyampaikan mimpi besarnya, tetapi tidak pernah mau menyadari dasar pijakan. Ibaratnya kita membangun istana pasir yang mudah runtuh.

Saatnya kita membenahi semua itu. Semua mimpi ke depan harus berpijak kepada realitas yang ada. Kalaupun ingin menggapai sesuatu yang lebih tinggi, harus tahu prasyarat yang mesti dipenuhi. Kita tetapkan peta jalan yang jelas agar kita benar-benar bisa mencapai masa depan yang lebih baik. Sensus Ekonomi 2016 sangat diharapkan bisa menggambarkan peta yang sesungguhnya dari perekonomian bangsa ini. Kita membutuhkan input data yang benar agar tidak menjadi garbage in, garbage out. Dengan itulah kita bisa merumuskan pembangunan bangsa ini ke depan.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima