Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
UNTUK keempat kalinya Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan sensus ekonomi. Sensus 10 tahunan itu dilakukan untuk mengetahui postur perekonomian Indonesia. Itulah yang kemudian bisa menjadi pegangan dalam merumuskan kebijakan untuk 10 tahun ke depan.
Sepanjang 10 tahun terakhir perekonomian Indonesia tumbuh luar biasa. Saat sensus ekonomi dilaksanakan 2006, produk domestik bruto (PDB) kita tercatat masih US$365 miliar. Sekarang ini PDB Indonesia sudah di atas US$900 miliar. Artinya PDB kita tumbuh sekitar 25% per tahun.
Tentu menjadi pertanyaan, apa yang mendorong PDB kita bisa tumbuh begitu tinggi? Apa benar itu lebih disebabkan booming harga komoditas? Lalu apakah dalam 10 tahun terakhir terjadi transformasi ekonomi? Sejauh ini kita tahu pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia ialah komoditas. Periode 2006 hingga 2011 memang merupakan periode keemasan komoditas. Harga semua komoditas mencapai titik tertinggi dan permintaannya pun dalam volume besar.
Sensus ekonomi tentu akan bisa menjawab perkiraan tersebut. Oleh karena yang didata ialah pelaku ekonomi mulai yang kecil hingga besar, kita akan bisa mengetahui postur perekonomian kita. Bahkan kita bisa mengetahui kekuatan yang dapat diandalkan untuk mendorong perekonomian kita. Begitu pentingnya hasil yang bisa didapatkan, kita berharap para pelaku ekonomi mau berpartisipasi dan memberikan data yang benar. Kalaupun kondisinya buruk, sampaikan saja apa adanya agar kemudian kita mengoreksi kesalahan yang sudah terjadi.
Sekarang ini kita mendengar rencana pemerintah mengembangkan ekonomi digital. Dari sensus ekonomi tentu kita melihat sejauh mana kesiapan dunia usaha kita untuk menghadapi harapan tersebut. Kita harus mengembangkan perekonomian sesuai dengan kekuatan yang kita miliki. Jangan kita sekadar ikut arus, padahal kita tidak memiliki basisnya. Arah besar yang dilakukan semua negara ialah memperkuat industri manufaktur. Komoditas yang dikembangkan harus didasari sumber daya yang mereka miliki, baik itu alam maupun manusianya.
Kita tidak pernah berani menetapkan produk unggulan yang hendak kita andalkan. Hanya di awal era Orde Baru kita mencanangkan untuk mengembangkan pertanian dan industri yang menopang pertanian. Setelah itu, kita cenderung mau mengembangkan semua, tetapi akibatnya kita tidak pernah fokus dan memiliki produk yang benar-benar menjadi unggulan.
Ketika Presiden Soeharto mencanangkan era lepas landas, kita tidak tahu lepas landas ke mana. Kita tidak memiliki industri dasar dan industri barang modal yang bisa menopang negara ini untuk melompat ke depan. Sarjana-sarjana yang kita miliki pun tidak pernah didesain sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan untuk mencapai Indonesia maju.
Setelah era reformasi arah yang ingin kita capai semakin tidak menentu. Setiap presiden selalu menyampaikan mimpi besarnya, tetapi tidak pernah mau menyadari dasar pijakan. Ibaratnya kita membangun istana pasir yang mudah runtuh.
Saatnya kita membenahi semua itu. Semua mimpi ke depan harus berpijak kepada realitas yang ada. Kalaupun ingin menggapai sesuatu yang lebih tinggi, harus tahu prasyarat yang mesti dipenuhi. Kita tetapkan peta jalan yang jelas agar kita benar-benar bisa mencapai masa depan yang lebih baik. Sensus Ekonomi 2016 sangat diharapkan bisa menggambarkan peta yang sesungguhnya dari perekonomian bangsa ini. Kita membutuhkan input data yang benar agar tidak menjadi garbage in, garbage out. Dengan itulah kita bisa merumuskan pembangunan bangsa ini ke depan.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved