Mantan

23/4/2015 00:00
Mantan
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

BOLEHKAH mantan kepala negara/kepala pemerintahan menjadi oposisi? Lebih tajam lagi, bolehkah ia mengecam keras pemimpin negara yang sedang berkuasa dan menilainya tak layak lagi menjadi kepala pemerintahan? Kata 'boleh' kayaknya terlalu longgar. Terbuka jawaban 'boleh-boleh saja'. Bahkan, 'kenapa tidak?'.

Yang terakhir itu agaknya merupakan sikap Dr Mahathir Mohamad. Perdana menteri paling lama berkuasa (22 tahun) di Malaysia itu tengah keras-kerasnya mengecam Datuk Seri Mohd Najib Razak, perdana menteri yang berkuasa sekarang. PM Najib dinilai memiliki perilaku personal tak becus.

Kalau Najib tak bisa menjelaskan raibnya uang miliaran ringgit dan keterlibatannya dengan orang-orang yang dapat dipertanyakan di manajemen 1Malaysia Development Berhad (1MDB), badan penanaman modal milik negara, menurut Mahathir,

"Saya rasa dia tidak patut lagi menjadi perdana menteri negeri ini."

Seperti diberitakan The Straits Times dua hari lalu (21/4), tak hanya PM Najib yang dihajar Mahathir. Istrinya, Datin Seri Rosmah Mansor, pun dikecam sangat pedas.

Dalam blognya Mahathir bahkan siap membongkar 'lavish lifestyle', gaya hidup bermewah-mewah Datin Seri Rosmah. Gara-gara berita itu, saya tergoda membuka blog Mahathir.

Kecaman terhadap Najib itu bernaung di bawah judul 'The Crooked Bridge and Me'. Semuanya bermula dari Singapura resmi menolak pembangunan jembatan, hal yang menurut Mahathir memalukan.

Tak hanya itu. Mahathir juga kecewa karena Najib gagal di banyak hal, seperti tidak membangun rel ganda dan elektrifikasi jalur Johor Bahru-Padang Besar. Namun, itu bukan pertama kali 'sang Master' mengecam penerusnya.

Pada 2006, Mahathir mengecam PM Abdullah Ahmad Badawi, juga gara-gara dinilai ingkar janji membatalkan proyek besar yang dulu digagasnya, termasuk jembatan penghubung Malaysia-Singapura. Ia tak bisa menerima bahwa pemerintah tak punya dana.

Ia menyesal memilih Badawi, padahal sebelumnya menginginkan Najib Razak yang menggantikannya, yang sekarang juga dikecamnya.

Setelah Pak Harto meninggal, tokoh senior di ASEAN yang masih hidup ialah Lee Kuan Yew dan Mahathir. Setelah Lee wafat, tinggal Mahathir seorang, pemimpin disegani di kawasan ini.

Apakah Mahathir mengidap 'post-prime-ministerial syndrome'? Mahathir pernah menyanggahnya ketika ia mengkritik Badawi. Sanggahan yang kiranya valid karena Mahathir seorang dokter.

Sebelum berkarier di bidang politik, Mahathir merupakan satu-satunya dokter Melayu di Kota Alor Setar yang praktiknya sukses. Ia bahkan mempekerjakan seorang Tionghoa menjadi chauffeur untuk mobil Pontiac Catalina miliknya. Chauffeur ialah sopir untuk mobil mewah. Kala itu umumnya Melayu yang menjadi chauffeur.

Bagaimana dengan para mantan kepala negara di negeri ini? Saya nyaris tak membaca atau mendengar mantan Presiden BJ Habibie mengkritisi, apalagi mengecam presiden yang sedang berkuasa.

Berbeda dengan mantan Presiden Megawati yang kerap mengkritik pemerintahan SBY. Apakah SBY bakal mengambil posisi mengkritisi, bahkan mengecam Presiden Jokowi? Terlalu dini menjawabnya. Jokowi baru enam bulan berkuasa, tapi ada tanda-tanda SBY bakal memelihara kesantunan.

"Kami semua memberi mandat kepada Presiden. Pimpinlah kami sebaik-baiknya," ujarnya dalam Silaturahim Nasional Forum Komunikasi Pendiri dan Deklarator Partai Demokrat di Hotel Sahid, Kamis (16/4) malam.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.