Penjara Kosong

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
31/3/2016 05:30
Penjara Kosong
(AFP/ANP/CATRINUS VAN DER VEEN)

ADAKAH negara yang penjaranya kian sepi, kosong, bahkan tutup? Ada, yaitu Belanda.

Sebaliknya, adakah negara yang penjaranya penuh, padat, bahkan kekurangan penjara?

Jawabnya, banyak.

Contoh paling 'top' ialah AS.

Sejak 2004, kriminalitas turun ajek di Belanda.

Dalam sembilan tahun, pada 2013, sebanyak 19 penjara tutup karena negara itu tidak punya cukup terhukum untuk mengisinya.

Akhir musim panas ini, berdasarkan dokumen internal yang diperoleh koran De Telegraaf, lima penjara lagi bakal ditutup.

Belanda berpenduduk 17 juta.

Fakta fantastis yang sangat sulit dipercaya, dari jumlah itu, hanya 11.600 penghuni penjara atau 69 per 100.000 penduduk.

Sebuah pertanda negara itu sangat aman.Untuk menjaga agar penjara tetap berpenghuni, September lalu, Belanda bahkan menerima ekspor 240 narapidana dari Norwegia.

AS kebalikannya. Pada akhir 2011, menurut World Prison Population List, AS memiliki 2,24 juta narapidana, terbanyak di dunia, yaitu 22% dari 10,2 juta total narapidana di kolong langit.

Jumlah itu mencapai 4,4% penduduk dunia. Hillary Clinton, ketika berbicara di Columbia University (29/4/2015), memprihatinkan membengkaknya penghuni bui di AS, yang katanya mencapai sekitar 25% narapidana dunia, hampir 5% penduduk dunia (The Washington Post, 30/4/2015)

Perbandingan lain, lebih separuh negara dan teritorium di dunia, tingkat narapidana di bawah 150 per 100.000 penduduk.

AS mencapai 716 per 100.000 penduduk, sekitar 6 kali Kanada dan lebih 13 kali Belanda.

Apa sebetulnya yang dilakukan Belanda?

Pertama, daripada terhukum dikurung di balik jeruji besi, menghabiskan usia dan uang negara, lebih elok memberi mereka kesempatan berkontribusi untuk masyarakat, seperti kembali bekerja.

Tidakkah mereka melarikan diri?

Di pergelangan kaki terhukum dipasang alat monitor elektronik sehingga lokasi dan pergerakannya terpantau tersentral.

Alat itu juga dapat 'mengendus' zat kimia, alkohol, dan narkoba. Dalam versinya yang sederhana, alat itu berguna untuk manula penderita alzheimer sehingga keluarga tak perlu khawatir orangtua tersesat atau hilang tak jelas rimbanya.

Studi pada 2008 menujukkan penggunaan sistem monitor elektronik di pergelangan kaki itu berhasil mengurangi tingkat residivis hingga separuh.

Faktor kedua, perbedaan perlakuan terhadap narkoba.

Belanda lebih fokus pada rehabilitasi. Sebaliknya, AS memberat pada penghukuman.

Dalam perkara narkoba, Belanda penganut rezim hukum lebih rileks, AS penganut hukum garis keras.

Hasilnya negara yang satu menutup penjara, negara yang lain kekurangan penjara.

Penutupan penjara di Belanda menyebabkan sekitar 2.000 orang kehilangan pekerjaan.

Hanya 700 orang yang diperkirakan bakal dipekerjakan kembali dalam sistem penegakan hukum Belanda, yang dalam masa transisi akibat turunnya kriminalitas secara ajek, belum pula diketahui entah menjadi apa.

Ongkos memelihara penjara yang jarang penghuni itu terlalu mahal bagi sebuah negara kecil seperti Belanda.

Karena itu, mereka menerima ekspor narapidana dari negara lain untuk meringankan pembiayaan.

Saya tidak ragu mengatakan bila penjara dijadikan ukuran, Belanda negara sukses, AS negara gagal.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima