Nofiadi

Saur Hutabarat/Dewan Redaksi Media Group
21/3/2016 06:05
Nofiadi
()

MENDAGRI Tjahjo Kumolo memberhentikan Ahmad Wazir Nofiadi Mawardi dari jabatan Bupati Ogan Ilir, Sumsel, karena tertangkap basah memakai narkoba.

Mendagri tidak menunggu Nofiadi menjadi terdakwa, tidak pula menanti keputusan pengadilan tingkat pertama, apalagi keputusan hukum tetap Mahkamah Agung.

Sebuah langkah cepat diambil Mendagri, secepat perubahan nasib yang menimpa Nofiadi.

Ada empat makna kepublikan kasus Nofiadi.

Pertama, ketegasan pemerintah terhadap narkoba.

Kedua, pelajaran bagi parpol pengusung calon kepala daerah.

Ketiga, tidak ada hubungan ilmu yang dipelajari dengan kelakuan.

Keempat, remuknya dinasti kekuasaan, dalam waktu sangat cepat.

Nofiadi tergolong bupati termuda, belum 28 tahun (lahir 22 November 1988), dilantik menjadi bupati 17 Februari 2016, ditangkap BNN 13 Maret 2016, alias cuma 26 hari duduk di kursi bupati.

Jika dihitung sejak keputusan pemberhentian pada 19 Maret, usia regenerasi dinasti 32 hari.

Kayaknya itu riwayat terburuk jatuhnya dinasti kepala daerah di negeri ini.

Nofiadi terpilih menggantikan ayahnya, Yahya Mawardi, Bupati Ogan Ilir selama 10 tahun (2005-2010 dan 2010-2015).

Nofiadi juga termasuk anggota DPRD tercepat meninggalkan kursi wakil rakyat.

Pada Pemilu Legislatif 2014, ia terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Ogan Ilir dari Partai Golkar.

Pada 2015, ia harus mengundurkan diri karena mencalonkan diri menjadi bupati, dalam rangka menggantikan ayahnya.

Sebaliknya, untuk memuluskan pencalonan anaknya, selaku petahana sang ayah mengundurkan diri dari jabatan bupati (Juni 2015), padahal masa jabatannya berakhir Agustus 2015.

Putra kesayangan itu ditangkap tangan menggunakan narkoba di rumah sang ayah, di Kota Palembang.

Apakah dalam konteks dinasti itu, Mahkamah Konstitusi (MK) turut bertanggung jawab?

Tentu tidak.

Namun, kasus Nofiadi mau tidak mau mengingatkan publik pada putusan MK merestui calon kepala daerah membangun dinasti.

Mengajukan diri ikut pilkada hak konstitusional warga.

Putusan MK itu mengecewakan, tapi kini penentang dinasti seperti mendapat penghiburan, yaitu upaya meneruskan satu dinasti remuk dihajar narkoba, ditangkap BNN.

Apakah parpol pengusung Nofiadi menjadi bupati bertanggung jawab? Nyatanya, juga tidak.

Karena itu, barang siapa berkata bahwa calon independen berbeda dengan calon parpol karena tidak jelas siapa yang bertanggung jawab sebaiknya segera mencabut omongan.

Omongan itu belum lama ini dilontarkan, terkait pencalonan Ahok menjadi Gubernur Jakarta, melalui jalur independen.

Kasus Nofiadi juga mengingatkan pentingnya partai menyelisik rekam jejak calon kepala daerah lebih teliti.

Bahkan, sebaiknya parpol berinisiatif mensyaratkan agar keterangan bebas narkoba calon kepala daerah yang diusungnya diperoleh dari BNN.

Kasus Nofiadi mestinya juga tanggung jawab KPUD agar tidak 'kecolongan'.

Nofiadi sarjana psikologi. Saya tidak tahu apakah hanya Nofiadi seorang atau banyak sarjana psikologi tak mampu mengendalikan dorongan 'psikologisnya', terhadap narkoba.

Yang pasti, fakultas/universitas tempat Nofiadi kuliah tidak ada urusan, apalagi bertanggung jawab dengan kelakuannya.

Seperti tidak ada urusan fakultas hukum dengan lulusannya yang melanggar hukum.

Mendagri membuat terobosan dengan segera memberhentikan Nofiadi. Berbeda dengan kasus korupsi menunggu keputusan pengadilan, dalam perkara narkoba, tes urine, darah, dan rambut Nofiadi oleh BNN cukup bagi Mendagri untuk menjatuhkan vonis memberhentikannya dari jabatan bupati.

Bukan pemberhentian sementara, melainkan langsung diberhentikan.

Sebuah langkah tegas agar kepala daerah kapok bernarkoba, juga agar tidak terjadi kekosongan pemerintahan.

Karena itu, praktis naiklah Wakil Bupati Ilyas Panji Alam yang berasal dari PDIP menjadi bupati.

Saya berharap, keputusan cepat Mendagri Tjahjo Kumolo mencopot Nofiadi benar-benar dalam rangka menghajar narkoba, mengisi kekosongan kepala pemerintahan di daerah, bukan demi promosi Ilyas Panji Alam, yang separtai dengannya, menjadi bupati.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima