Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMARIN kita menyaksikan seorang putra Indonesia tampil di ajang balap mobil Formula 1. Rio Haryanto memulai kiprahnya dengan mencoba lintasan balapan di Albert Park, Melbourne, Australia, kemarin. Ia menjadi salah satu di antara 22 orang di planet ini yang bersaing pada ajang 'menembus batas'.
Pembalap Formula 1 merupakan profesi yang sangat berbahaya. Pekerjaan yang satu ini menuntut kondisi fisik yang superprima. Sedikit saja salah membuat perhitungan, akibatnya fatal. Bayangkan saja, mobil paling lambat sekalipun akan mencapai kecepatan 100 km/jam dalam 1,9 detik. Ketika akselerasi dilakukan, tekanan gravitasi akan mencapai 3G. Artinya, kepala sang pembalap akan mendapat tekanan tiga kali dari berat badannya.
Paling berat lagi ketika mobil yang sedang bergerak dengan kecepatan 300 km/jam harus berbelok ke kiri dan ke kanan. Tekanan kepada wajahnya akan mencapai 5G atau lima kali berat badannya. Seorang pembalap benar-benar dituntut untuk memiliki leher yang kuat. Belum lagi denyut jantung yang bisa mencapai 200 kali per menit. Sepanjang balapan sedikitnya 3 liter air terkuras dari badan pebalap. Apalagi suhu di dalam mobil mencapai 50 derajat celsius sepanjang balapan.
Kehadiran Rio di ajang Formula 1 membukakan mata dunia bahwa kualitas putra Indonesia tidak kalah dari bangsa-bangsa lain. Di tengah era kompetisi yang begitu ketat, Rio menyampaikan kepada dunia bahwa level bangsa Indonesia sudah sama dengan bangsa lain. Inilah yang seharusnya kita kapitalisasikan sebagai bangsa. Kehadiran Rio bukan sekadar dijadikan ajang tontonan, melainkan juga pemacu generasi muda lain untuk tidak mau kalah dari bangsa lain.
Kita harus sadar, Indonesia bukan lagi kekuatan ekonomi yang biasa-biasa. Apabila periode 2000-an lalu produk domestik bruto kita masih sekitar US$200 miliar, sekarang ukuran perekonomian Indonesia sudah lebih dari US$900 miliar. Kita menjadi salah satu dari 20 negara dengan PDB terbesar di dunia. Karena itu, kita harus berpikiran besar.
Perusahaan Indonesia harus berani melakukan branding sebagai perusahaan kelas dunia. Pertamina, misalnya, tidak boleh kalah dari Petronas. Kalau Petronas bisa mensponsori tim Mercedes, Pertamina seharusnya tidak kesulitan mensponsori tim Manor.
Nilai ekonomi yang didapat Indonesia dari kehadiran Rio Haryanto sangatlah besar. Sepanjang minggu ini pemberitaan mengenai pembalap asal Solo itu terus muncul di media internasional. Dalam jumpa pers Kamis (17/3) lalu, Rio didudukkan bersama para juara dunia seperti Lewis Hamilton dan Sebastian Vettel.
Kita bisa belajar dari pengalaman Garuda Indonesia melakukan branding. Beberapa tahun lalu Garuda ditawari mensponsori klub-klub Inggris. Kebetulan Garuda hendak membuka kembali penerbangan ke London. Pilihan kemudian dijatuhkan kepada Liverpool. Alasannya, klub itu paling banyak memiliki fan di luar negeri, termasuk di Indonesia. Memang prestasi the Reds sedang menurun, tetapi nama besar mereka masih baik. Keputusan Garuda tidaklah keliru karena Liverpool bisa ikut mengibarkan bendera perusahaan. Tahun lalu Garuda dinobatkan sebagai penerbangan terbaik kedelapan di dunia.
Pembangunan citra Indonesia di mata internasional juga dilakukan pengusaha Erick Thohir. Dengan mengambil alih kepemilikan Internazionale Milan, nama Indonesia menjadi perhatian masyarakat dunia. Padahal, prestasi sepak bola Indonesia sedang terpuruk dan dijatuhi sanksi oleh FIFA.
Tugas kita selanjutnya, bagaimana mengapitalisasi semua itu. Kita harus cerdik agar manfaat ekonominya semakin terasa.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved