Wakil Presiden

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
20/4/2015 00:00
Wakil Presiden
(Grafis/SENO)
DI awal tulisan ini, sebaiknya saya berterus terang bahwa saya terusik kerinduan tampilnya Wakil Presiden Jusuf Kalla kurang lebih seperti yang dulu. Kendati usianya tak lagi semuda di masa sebagai wapres mendampingi Presiden SBY, kelugasannya berpikir dan kegesitannya mengambil keputusan masih andal, seperti tampak di berbagai forum. Tak zamannya lagi wapres duduk manis sebagai ban serep. Desain kewenangan wapres jenis itu cukuplah di era kekuasaan Pak Harto, yaitu presidennya sama, tapi wapresnya berganti-ganti enam kali. Enam wapres itu ialah Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Adam Malik, Umar Wirahadikusumah, Sudharmono, Try Sutrisno, dan BJ Habibie. Dua yang pertama tokoh senior berwibawa, yang telah berperan di Republik ini sebelum Pak Harto berkuasa.

Karena itu tak bisa dibikin duduk manis. Empat wapres berikutnya anak buah Pak Harto yang naik takhta menjadi RI-2. Akhirnya tragis, ban serep BJ Habibie menjadi presiden karena ban utama diturunkan di tengah jalan oleh gerakan reformasi. Nasib serupa dialami Gus Dur. Akan tetapi, dengan anteseden sejarah berbeda. Megawati tentu tidak dimaksudkan sebagai wapres ban serep sebab PDIP merupakan partai terbesar hasil Pemilu 1999. SBY memiliki kesempatan mempertahankan wapres yang sama Jusuf Kalla untuk masa kekuasaan kedua kali. Kenyataannya ia berkeputusan seperti Pak Harto, berganti pasangan dengan wapres baru, Boediono. Tentu dengan pertimbangan dan perhitungan yang lebih rumit daripada masa Pak Harto, karena pasangan capres-cawapres dipilih langsung oleh rakyat.

Tidak lagi dipilih MPR. Apa pun alasan SBY, publik menilai Wapres Jusuf Kalla berperanan penting waktu itu. Ia bahkan pengambil keputusan strategis berjangka jauh sekali, misalnya mengganti minyak tanah dengan gas untuk kebutuhan rumah tangga. Bagaimanakah menilai Wapres Boediono? Apakah ia dapat digolongkan wapres ban serep? Dari kejauhan tak salah bila berkesimpulan ia tampaknya lebih banyak duduk manis. Ia nyaris tak kelihatan turun ke lapangan. Ia pun tak banyak bicara. Dalam hal itu kiranya besar faktor personalitas. Profesor ekonomi itu low profile sehingga publik tidak tahu apa yang ia kerjakan. Jusuf Kalla dipasangkan dengan Jokowi tentu dengan alasan utama senior, berpengalaman.

Pendamping yang pas mengingat Jokowi tidak memiliki jam terbang selaku pemimpin di panggung nasional. Sekalipun tiada guna memutar kembali jarum jam sejarah, Jokowi belum tentu menang bila berpasangan dengan cawapres yang muda dan tak berpengalaman dalam pemerintahan di tingkat nasional. Namun, kualitas JK itu sejauh ini tampaknya tidak optimal didayagunakan Jokowi. Enam bulan memerintah, Presiden Jokowi telah dua kali mencabut keputusannya. Cukuplah sampai di situ. Jangan lebih. Soalnya, ada yang bersuara sarkartis, bila hal itu diteruskan, 5 tahun berkuasa 20 perpres dicabut. Saya berharap, saya keliru berpandangan bahwa Presiden Jokowi kurang betah berurusan dengan kekuasaan administrasi negara. Padahal, semua itu berada di pundaknya, yang harus ditandatanganinya entah dalam kekuasaannya selaku Panglima TNI, kepala pemerintahan, dan kepala negara.  Untuk itu, terutama menyangkut keputusan yang bakal menimbulkan kontroversi hebat di tingkat masyarakat, mengapa tidak memanfaatkan pengalaman dan kearifan Wapres?



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima