Seperti Oposisi

Saur Hutabarat/Dewan Redaksi Media Group
18/2/2016 05:30
Seperti Oposisi
(ANTARA/Puspa Perwitasari)

FADLI Zon, Wakil Ketua DPR, dari partai oposisi Gerindra, berkomentar 'witty' terhadap pendapat Effendi Simbolon, anggota Komisi I dari PDI Perjuangan, yang mengkritik kebijakan pemerintah memberi bebas visa untuk 174 negara.

Intinya, Effendi Simbolon berpandangan fasilitas bebas visa kebanyakan diberikan kepada negara yang warganya tidak memiliki budaya berlibur ke mancanegara.

Orang bepergian tidak berpikir bebas visa. Apa jaminannya para backpackers itu membawa devisa? Kebijakan bebas visa juga membuka peluang Indonesia menjadi negara tujuan kelompok radikal. Ujar Fadli Zon, "Pak Effendi Simbolon ini sepertinya cocok mewakili parpol oposisi." Kata-kata Fadli Zon itu mengundang tawa peserta rapat gabungan Komisi I dan Komisi III dengan pemerintah, yang dipimpinnya. "Pimpinan jangan begitu, dong. Saya ini dari partai pengusung, tetapi tetap kritis," tangkis Simbolon.

"Saya ralat kalau begitu, Pak Effendi Simbolon ini dari partai pengusung. Wah, sensitif rupanya." (Detik.com, Senin, 15/2).

Bukan hanya Effendi Simbolon yang bersuara bagaikan oposisi. Wakil Ketua Komisi I Tubagus Hasanuddin, juga dari PDIP, berpendapat kebijakan bebas visa telah menghilangkan potensi pendapatan negara selama 2015, mencapai Rp1 triliun. Kebijakan itu berisiko tinggi terhadap keamanan. "Kalaupun dapat uang dari pariwisata, tetapi risikonya tinggi, buat apa? "Sebaliknya, Presiden Jokowi mengambil rujukan faktual. Pengalaman Malaysia dan Singapura yang telah bertahun-tahun menerapkan kebijakan bebas visa untuk 170 negara. Faktanya, "Mereka aman-aman saja, kan?"

Fakta lain pariwisata Indonesia 2015 tumbuh 7,2%, melampaui pertumbuhan pariwisata dunia (4,4%), di atas pertumbuhan kawasan ASEAN (6%).

Bukan perkara baru, partai propemerintah bersikap oposisi di DPR. Partainya mendapat kursi di kabinet, tetapi suaranya miring di parlemen. Itu terjadi misalnya di zaman SBY. Akan tetapi, seserius-seriusnya urusan, di zaman itu tidak terjadi Partai Demokrat, partainya SBY, bersuara oposisi di DPR, mengecam pemerintah.

Perbandingan itu untuk menunjukkan bahwa komentar Fadli Zon tidak keliru. Bahkan, saya menilainya 'witty', pintar dan lucu.

Presiden berganti, selalu saja ada anggota DPR dari partai pengusung presiden yang bersuara berseberangan terhadap kebijakan pemerintah. Dalihnya jelas, bersikap kritis, sekalipun nadanya menunjukkan perlawanan.

Dalam cuaca politik Koalisi Merah Putih ditengarai 'melumer' saat ini, suara perlawanan dari kader partai pengusung kekuasaan terhadap kebijakan pemerintah, kiranya wajar menjadi 'hiburan tersendiri'.

Fadli Zon, dari partai oposisi, menangkapnya, mengungkapkannya, seraya tetap berkomentar 'witty', "Wah, sensitif rupanya. "Terlalu lama menjadi partai oposisi kiranya tidak mudah 'move' (bahasa anak sekarang) menjadi pengusung militan kebijakan pemerintah di DPR.

Vokal terhadap pemerintah lebih gampang dan lebih seksi. Lihat saja bagaimana Presiden yang diusung dibiarkan sendirian diserang karena hendak memberi amnesti.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.