Sayur Lodeh

16/4/2015 00:00
Sayur Lodeh
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

DUA hari lalu (Selasa, 14/4) Presiden Jokowi makan siang bersama sejumlah pengamat politik di Istana Negara. Mereka ialah kalangan intelektual yang pendapat dan komentarnya sering muncul di media. Yang dihidangkan lauk santapan rakyat seperti tempe, ayam goreng, dan sayur lodeh.

Hasil 'survei' pengamat politik yang juga memimpin lembaga survei, katanya yang ludes disantap sayur lodeh. Sangat penting mengetahui apa yang dihidangkan Presiden dan apa pula yang paling lahap dinikmati.

Siapakah Anda dapat dilihat dari apa yang Anda makan. Bila 'sampah' (junk food) yang dimakan, itulah pula yang ada di tubuh Anda.

'Tell me what you eat, and I will tell you what you are'.

Saya tak tahu persis kapan Jean Anthelme Brillat-Savarin menciptakan kutipan itu. Yang jelas lawyer dan politikus Prancis itu lahir 1 April 1755 dan meninggal 2 Februari 1826. Karena tak ada orang mati berkarya, kutipan itu setidaknya telah berumur 189 tahun.

Sayur lodeh jelas bukan santapan sampah. Ia tergolong lauk terhormat.

Bung Karno, presiden pertama, menyukainya bahkan lebih spesifik ia juga jatuh cinta bermula dari lidah. Sayur lodeh buatan Hartini yang dihidangkan di rumah Wali Kota Salatiga, 1952, tak hanya membuat lidahnya kepincut. Hatinya juga kecantol kecantikan pemasaknya. Dua tahun kemudian ia menyunting Hartini menjadi istrinya di Bogor, 1954.

Sayur bersantan itu juga disukai Pak Harto.

"Hidangan yang paling saya sukai adalah lodeh buatan istri saya." Karena istri Pak Harto hanya satu, tentu yang dimaksud ialah Bu Tien.

Siapakah yang memasak sayur lodeh yang disantap para pengamat politik bersama Jokowi?

Apakah Bu Iriana, first lady, yang tak canggung mengerjakan pekerjaan rumah tangga walaupun ada pembantu? Entahlah. Yang pokok bukan siapa yang masak, melainkan apa yang dimakan dan apa yang dibicarakan.

Bersama sayur lodeh itu, antara lain dibicarakan hubungan Jokowi-Megawati, kenaikan harga, dan tren hasil survei ketidakpuasan publik atas kinerja kabinet.

Presiden disebut lebih banyak mendengar.

Menyangkut hubungannya dengan Megawati, Presiden membahasakannya baik-baik saja. Bahkan, di Sanur, Bali, bertiga bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, mereka makan malam dengan rileks.

Makan siang dengan 'target audience' bukan yang pertama dilakukan Jokowi. Sebelumnya, Presiden makan siang bersama Panglima TNI dan kepala staf angkatan. Bahkan, makan siang merupakan kekuatan Jokowi selaku Wali Kota Surakarta.

Kesabarannya menjamu dan mendengarkan dalam rentang waktu panjang membuat ia dengan mulus menenangkan dan memenangi hati pedagang kaki lima sehingga bersedia dipindahkan dengan gembira.

Itu menjadikannya tokoh lokal mengorbit ke luar Surakarta. Tentu tidak ada makan siang gratis. Makan di istana pakai APBN.

Tapi, Jokowi sudah lama kenyang makan siang dan pengamat politik yang diundang pun sangat kuat tidak makan siang demi pendapat dan kritik mereka didengar dan dilaksanakan Bapak Presiden. Presiden jelas perlu tahu suasana kebatinan publik.

Baguslah Presiden bakal rutin melakukannya meminta saran dan langkah-langkah strategis dari pengamat politik. Kenaikan harga kebutuhan pokok, misalnya, bisa bikin rakyat kesal dan menyesal memilih Jokowi. Jajak pendapat kiranya memberi umpan balik yang dipercaya.

Dalam perspektif itu, pantaslah kalau yang ludes sayur lodeh, bukan ayam goreng.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima