Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DUA hari lalu (Selasa, 14/4) Presiden Jokowi makan siang bersama sejumlah pengamat politik di Istana Negara. Mereka ialah kalangan intelektual yang pendapat dan komentarnya sering muncul di media. Yang dihidangkan lauk santapan rakyat seperti tempe, ayam goreng, dan sayur lodeh.
Hasil 'survei' pengamat politik yang juga memimpin lembaga survei, katanya yang ludes disantap sayur lodeh. Sangat penting mengetahui apa yang dihidangkan Presiden dan apa pula yang paling lahap dinikmati.
Siapakah Anda dapat dilihat dari apa yang Anda makan. Bila 'sampah' (junk food) yang dimakan, itulah pula yang ada di tubuh Anda.
'Tell me what you eat, and I will tell you what you are'.
Saya tak tahu persis kapan Jean Anthelme Brillat-Savarin menciptakan kutipan itu. Yang jelas lawyer dan politikus Prancis itu lahir 1 April 1755 dan meninggal 2 Februari 1826. Karena tak ada orang mati berkarya, kutipan itu setidaknya telah berumur 189 tahun.
Sayur lodeh jelas bukan santapan sampah. Ia tergolong lauk terhormat.
Bung Karno, presiden pertama, menyukainya bahkan lebih spesifik ia juga jatuh cinta bermula dari lidah. Sayur lodeh buatan Hartini yang dihidangkan di rumah Wali Kota Salatiga, 1952, tak hanya membuat lidahnya kepincut. Hatinya juga kecantol kecantikan pemasaknya. Dua tahun kemudian ia menyunting Hartini menjadi istrinya di Bogor, 1954.
Sayur bersantan itu juga disukai Pak Harto.
"Hidangan yang paling saya sukai adalah lodeh buatan istri saya." Karena istri Pak Harto hanya satu, tentu yang dimaksud ialah Bu Tien.
Siapakah yang memasak sayur lodeh yang disantap para pengamat politik bersama Jokowi?
Apakah Bu Iriana, first lady, yang tak canggung mengerjakan pekerjaan rumah tangga walaupun ada pembantu? Entahlah. Yang pokok bukan siapa yang masak, melainkan apa yang dimakan dan apa yang dibicarakan.
Bersama sayur lodeh itu, antara lain dibicarakan hubungan Jokowi-Megawati, kenaikan harga, dan tren hasil survei ketidakpuasan publik atas kinerja kabinet.
Presiden disebut lebih banyak mendengar.
Menyangkut hubungannya dengan Megawati, Presiden membahasakannya baik-baik saja. Bahkan, di Sanur, Bali, bertiga bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, mereka makan malam dengan rileks.
Makan siang dengan 'target audience' bukan yang pertama dilakukan Jokowi. Sebelumnya, Presiden makan siang bersama Panglima TNI dan kepala staf angkatan. Bahkan, makan siang merupakan kekuatan Jokowi selaku Wali Kota Surakarta.
Kesabarannya menjamu dan mendengarkan dalam rentang waktu panjang membuat ia dengan mulus menenangkan dan memenangi hati pedagang kaki lima sehingga bersedia dipindahkan dengan gembira.
Itu menjadikannya tokoh lokal mengorbit ke luar Surakarta. Tentu tidak ada makan siang gratis. Makan di istana pakai APBN.
Tapi, Jokowi sudah lama kenyang makan siang dan pengamat politik yang diundang pun sangat kuat tidak makan siang demi pendapat dan kritik mereka didengar dan dilaksanakan Bapak Presiden. Presiden jelas perlu tahu suasana kebatinan publik.
Baguslah Presiden bakal rutin melakukannya meminta saran dan langkah-langkah strategis dari pengamat politik. Kenaikan harga kebutuhan pokok, misalnya, bisa bikin rakyat kesal dan menyesal memilih Jokowi. Jajak pendapat kiranya memberi umpan balik yang dipercaya.
Dalam perspektif itu, pantaslah kalau yang ludes sayur lodeh, bukan ayam goreng.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved