Noblesse Oblige

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Grooup
22/1/2016 05:30
Noblesse Oblige
Anggota DPR RI Komisi V Fraksi PDIP Damayanti Wisnu Putranti dikawal petugas setelah resmi ditetapkan sebagai tersangka di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (15/1) dini hari.(MI/Rommy Pujianto)

KEMULIAAN itu ada, kehormatan juga tak beranjak pergi. Akan tetapi, kata itu tak menyatu dengan para pemiliknya. Ia hanya menjadi harapan yang tak lekas hadir kembali. Noblesse oblige, frase berbahasa Prancis itu mengafirmasi bahwa tugas para pemimpin ialah sebuah keluhuran, sebuah tanggung jawab. Bahwa semakin puncak posisi seseorang, kian tinggi pula tanggung jawab dan kehormatannya. Tingginya posisi, baru berarti, jika tanggung jawabnya yang besar nyata dan terasa.

"Pada ikan, yang busuk dahulu bukan ekornya, tapi kepalanya." Aforisme ini punya makna yang terkoneksi dengan soal tanggung jawab itu. Kepala penentu segala apa yang ada pada raga, pada tubuh. Yang hulu menghela yang hilir. Lokomotif menarik gerbong. Dalam bahasa Ki Hadjar Dewantara bagi dunia pendidikan, lebih subtil lagi. “Yang di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberikan daya kekuatan." Dalam dunia serdadu: "Tak ada prajurit bersalah. Komandan lah yang bertanggung jawab".

Tanggung jawab komandan, tentu bukan dikandung maksud para prajurit sesuka-suka berbuat, para komandanlah yang menanggung dosa mereka. Justru karena ketika tentara berdarma, bertugas, tak ada yang tak terkait perintah komandan. "Para prajurit itu orang yang tak punya hasrat pribadi. Sebagai prajurit, hampir seluruh hidup kami untuk melaksanakan perintah komandan," kata salah seorang mantan ajudan Presiden Ke-2 RI, HM Soeharto, dalam sebuah obrolan. Saya tertegun ketika ia mengungkap darma yang total prajurit sebagai ‘orang yang tak punya hasrat pribadi’.

Noblesse oblige memang telah lama tak menyatu dengan para pemiliknya. Para pemimpin yang ada pada puncak-puncak jabatan seolah satu hal, tanggung jawab hal lain. Kerinduan kita, rakyat, akan para pemimpin yang punya keluhuran tanggung jawab seperti itu, masih panjang. Di negeri yang amat religius, yang dari megafon-megafon masjid berlomba saling menggemakan azan, tausiah, tadarus; orang-orang berhaji dan berumrah jadi aktivitas ibadah yang kian massif, tapi ahlakul karimah (perilaku mulia) kita justru seperti suara yang melindap di rembang petang. Bagaimana kita menjelaskan seorang menteri agama dan ‘orang-orang alim’ dipenjara karena korupsi?

Kita berkali-kali merasakan ‘kewajiban luhur’ itu direndahkan bukan oleh siapa-siapa, tapi oleh para pemiliknya sendiri. Ketua DPR Setya Novanto ketika menjabat yang melanggar etika, adalah contoh paling nyata pencemaran kehormatan yang mereka sandang. Novanto juga legislator lain yang korup tak hanya tengah menghancurkan kehormatan dirinya, melainkan institusi DPR.

Ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar waktu itu contoh yang amat banal, betapa 'wakil Tuhan di muka bumi' berniaga hukum dengan tanpa beban. Wajarlah keadilan tak terdistribusi pada yang benar, tapi pada yang membayar. Hukum jadi mampat karena putusan hakim berdasarkan postulat bisnis: siapa pembayar tertinggi! Para hakim lancung, yang teraktual di Medan, mereka pada galibnya tengah membunuh Sang Themis, Dewi Keadilan dengan mata tertutup, yang mereka muliakan itu.

Lalu, bagaimana pula kita menjelaskan tertangkapnnya legislator dari PDIP, Damayanti Wisnu Putranti, oleh komisi antirasuah? Ini terjadi justru di awal tahun ketika seluruh harapan tengah dibulatkan untuk perubahan. Kasus tersebut hanya meneguhkan seperti begitu banyak kasus korupsi yang dilakukan para pejabat publik lain: tak ada yang jera! Kehormatan mereka yang tinggi, yang disematkan para pemilih, yang kita sebut konstituen, dikalahkan oleh 'libido material' yang terus bergelora. Korupsi menjadi kejahatan 'pelintas batas' aneka predikat manusia. Jika tokoh terpelajar, santun, dan jadi harapan masa depan seperti Ruddy Rubiandini, Andi Mallarangeng, Anas Urbaningrum, jadi orang rantai karena rasuah, bagaimana kita ‘membahasakan’ yang lain?

Orang boleh berhasrat menjadi apa saja lalu mengambil pendidikan sesuai hasrat itu, tetapi sepanjang dimensi etika dan moral tak menjadi pegangan utama terlebih lagi ketika hukum belum menjerakan para pelaku kejahatan kita memang menjadi apa saja tapi juga dengan cara apa saja, dengan laku apa saja. Kehendak maju, bersaing dalam dunia global, dalam MEA, misalnya, yang di depan mata, noblesse oblige harus kita kembalikan pada para pemiliknya yang sejati. Para pemimpin yang berdedikasi itu.

Kita tak mau negeri ini terus dalam rembang petang. Beberapa tokoh muda yang punya visi dan baru saja terpilih pada pilkada serentak, atau yang lebih dahulu menjabat, juga dalam jabatan apa pun di pemerintahan dan di lembaga negara apa saja, dengan kesadaran ingin mendedikasikan kemampuan terbaik bagi bangsanya, itulah oasis kita. Pada merekalah kita berharap noblesse oblige diteguhkan kembali, hingga kita merasakan ‘gemanya’ yang nyata.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.