Keamanan

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
16/1/2016 00:00
Keamanan
(Setpres: Cahyo)

BELUM hilang dari ingatan kita ketika terjadi teror Bom Bali 2002. Sebanyak 202 orang dari mancanegara harus menjadi korban. Akibatnya, perekonomian terpukul berat. Orang takut untuk datang ke Bali dan pariwisata Pulau Dewata nyaris mati suri.

Berbagai langkah pemulihan dilakukan Presiden Megawati Soekarnoputri ketika itu. Waktu berlibur sengaja diperpanjang agar orang mau berlibur ke Bali. Namun dibutuhkan waktu lama untuk mengembalikan kepercayaan pada keamanan di negeri ini.

Apalagi serangan teror nyaris tidak pernah berhenti setelah itu. Ada Bom Kedubes Australia, ada Bom Marriot, dan bahkan Bom Bali II. Puncak kekesalan rakyat terhadap aksi serangan muncul ketika terjadi teror Bom Marriot II 2009. Kelompok anak-anak muda seperti Pandji Pragiwaksono dengan lantang mengatakan, mereka tidak takut kepada teror.

Enam tahun kita merasakan hidup dengan ketenangan. Sampai Kamis lalu terjadi serangan teror lagi. Tidak tanggung-tanggung serangan teror yang telanjang terjadi di jantung ibu kota negara yaitu di kawasan Jalan Muhammad Husni Thamrin.

Serangan teror ini bukan hanya mengoyak rasa aman, tetapi memukul perekonomian yang sedang tertatih-tatih bangkit dari perlambatan. Kepercayaan pasar terhadap iklim investasi di Indonesia langsung terkoyak. Begitu serangan teror terjadi, indeks harga saham gabungan langsung terjerembab, begitu pula dengan nilai tukar rupiah.

Serangan teror Kamis itu merupakan ujian berat bagi Presiden Joko Widodo. Sejauh mana Jokowi mampu menunjukkan kepemimpinannya untuk bisa mengendalikan keadaan. Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi mampu memadukan kekuatan polisi sebagai penjaga keamanan dan Tentara Nasional Indonesia sebagai kekuatan pertahanan.

Jangan lupa yang sedang kita hadapi kelompok teroris. Ketika terjadi terjadi serangan teror di Paris, Presiden Prancis Francois Hollande menggelar semua kekuatan yang dimiliki negaranya. Polisi dan tentara mengejar pelaku teror ke seluruh pelosok negeri.

Tidak hanya itu Hollande menggalang rasa kebersamaan di antara warga bangsanya. Hari berkabung nasional ditetapkan tujuh hari dengan puncaknya mengadakan malam penghormatan bagi para korban di Istana Versailles. Dengan kebersamaan itulah kemudian Bangsa Prancis membangun kembali negaranya.

Begitu pulalah yang seharusnya kita lakukan di sini. Bagaimana negara menunjukan sikap tegasnya menghadapi aksi terorisme. Bukan hanya sekadar retorika, tetapi pasukan terbaik dari bangsa ini mengejar para pelaku teror untuk mengembalikan keamanan dan rasa aman dari warga bangsa ini.

Kita tidak bisa lagi bersikap permisif seperti sekarang. Keamanan merupakan harga mati dan harus bisa diciptakan di negeri ini. Kita tidak boleh berkompromi dan berlindung atas nama demokrasi. Yang tidak boleh adalah salah guna kekuasaan dan tindakan berlebihan untuk menciptakan keamanan.

Keamanan merupakan pilar utama untuk mencapai kesejahteraan bersama. Tidaklah mungkin kita bisa bekerja dan membangun negeri ini tanpa keamanan. Kita harus menyadari, biaya untuk menciptakan keamanan itu tidaklah murah.

Namun semahal apa pun biaya untuk menciptakan keamanan itu, tetap lebih murah dibandingkan ketika rasa aman itu sudah terkoyak seperti sekarang ini. Sedikitnya tujuh orang harus menjadi korban dari tindakan biadab para pelaku teror itu. Biaya ekonomi dan sosial jauh lebih mahal lagi akibat kekhawatiran dan ketidakpercayaan yang ditimbulkannya.

Kita semua menunggu executive order yang disampaikan Presiden untuk mengembalikan keamanan dan ketertiban. Tidak boleh lagi ada kelompok teroris yang bisa bebas membawa senjata dan granat untuk menyerang anggota masyarakat, apalagi itu jaraknya hanya satu kilometer dari Istana Presiden Republik Indonesia.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.