Pembela Iblis

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
09/4/2015 00:00
Pembela Iblis
(Grafis/SENO)

DUA kali Presiden Jokowi mencabut keputusannya. Pertama pencalonan Komjen Budi Gunawan sebagai Kapolri. Kedua Peraturan Presiden No 39 Tahun 2015 tentang uang muka pembelian mobil pejabat negara. Yang pertama telah tutup buku. Yang kedua buku justru baru dibuka. Apa pun bahasa yang dipakai semua pembantu presiden untuk membela, per pres itu dicabut karena mendapat perlawanan publik. Semua pejabat tinggi itu tak perlu di sebut nama dan jabatannya. Atribusi, kedudukan, dan fungsi mereka bukan faktor pembeda.

Semuanya bersuara tunggal. Sebaliknya, apa kata Presiden? Mestinya menteri melakukan screening dan presiden 'tidak di sorong-sorong seperti ini'. Tentu saja saya bisa bilang sedih amat punya presiden yang bisa disorong-sorong, seperti juga bisa bilang betapa perih punya pembantu berani menyorong-nyorong presiden. Tapi apa gunanya duka lara?  arena itu, dengan berpandangan pembantu presiden berhati bersih dan cerdas, jangan-jangan persoalan tim bul karena tiada semacam pembela iblis di ling karan terdalam kekuasaan presiden.

Padahal, pengambil keputusan publik tertinggi justru memerlukan iblis yang diwakili pembela iblis. Guru manajemen, Peter F Drucker, mengatakan ada dua organisasi di dunia yang teruji ke unggulan manajemennya, yaitu organisasi militer dan organisasi Gereja Katolik. Hemat sa ya, dalam hal Gereja Katolik, salah satu faktor karena eksisnya advocatus diaboli, pembela iblis, dalam pengambilan keputusan. Dalam setiap proses kanonisasi, yaitu pemberiangelar 'orang suci' di Gereja Katolik, selalu ada orang yang menjadi advocatus diaboli, pembela iblis.

Tugasnya mencari segala kejelekan dari orang yang akan dinyatakan sebagai santo/ santa. Tujuan advocatus diaboli ialah membantu dalam proses mencari objektivitas. Diterjemahkan ke dalam pengambilan keputusan presiden, pembela iblis bertugas memberi pan dangan paling buruk bakal terjadi dari sudut kebatinan publik. Harus ada dissenting opinion yang dilaporkan kepada presiden. Bukankah semua paraf menyertai perpres yang hendak diteken presiden menunjukkan per setujuan? Tak tampak perbedaan, apalagi per tentangan. Padahal, sebaiknya kebijakan pub lik melalui 'uji' publik, setidaknya diwakili advocatus diaboli, pembela iblis.

Kesamaan tidak membangkitkan pertentangan. Bisa terjerumus asal bapak senang atau asal DPR senang. Seorang bijak menasihati agar tangan satu menggenggam batu, tangan lain menunjukkan roti. Kalau pembantu presiden kor roti, apalagi menyorong-nyorongkan roti dan menyembunyikan batunya, terjadilah roti terasa batu seperti perpres yang dicabut itu. Mobil sekelas Avanza sekalipun, bukan roti, tapi batu bikin patah hati publik. Membayangkan setiap pembantu presiden me mikirkan hal sama, berpandangan sama, me nyetujui dengan alasan sama, tak ada satu orang pun yang menawarkan sudut pandang lain, argumentasi berseberangan, samalah membayangkan presiden kejeblos neraka. Presiden perlu tahu yang pahit-pahit, bukan yang manismanis belaka. Karena itu, presiden perlu memiliki pembela iblis, yang bersuara bagaikan batu. Lebih bijak presiden tahu batu itu  sebelum perpres diteken daripada kena batunya setelah perpres diterbitkan



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.